Latest Program: Pemerintah perkuat intervensi jaga harga pangan di produsen-konsumen

Pemerintah Perkuat Intervensi Jaga Harga Pangan di Produsen-Konsumen

Latest Program – Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan bahwa pemerintah terus melakukan upaya untuk mempertahankan stabilitas harga pangan di seluruh rantai produksi hingga konsumen. Tujuan utamanya adalah melindungi para petani, menjaga pasokan pangan, serta memastikan aksesibilitas harga bagi masyarakat, termasuk dalam mengendalikan laju inflasi. Dalam pernyataannya di Jakarta pada Senin (4/5), Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa harga pangan saat ini telah mencapai titik stabil, berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS).

“Alhamdulillah, saya sampaikan terima kasih. Harga relatif stabil dan semua pangan relatif stabil. Ini ditunjukkan oleh data BPS. Saya harus dukung ini,” ujar Amran dalam keterangan resmi.

Menurut Amran, kondisi pasar pangan di Indonesia mulai membaik setelah perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi. Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat langkah-langkah intervensi, terutama dalam menghadapi perayaan Hari Raya Idul Adha tahun ini. “Mimpi kita adalah seluruh pulau Indonesia mencapai swasembada pangan, protein, energi, dan etanol. Ini mimpi kita ke depan. Pertahanan negara yang baik adalah ketika kita berdaulat pangan di setiap pulau. Kenapa? Inflasi otomatis tidak terjadi,” tambahnya.

Menteri Pertanian menjelaskan bahwa deflasi yang terjadi pada April 2026 akan diantisipasi melalui penyesuaian harga di tingkat produsen. Dengan memastikan harga tidak terlalu rendah, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan ekonomi produsen dan konsumen. Di sisi lain, harga di tingkat konsumen tetap dijaga agar tetap wajar bagi masyarakat.

Bapanas mencatat bahwa harga ayam pedaging hidup secara rata-rata berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp25.000 per kilogram. Per 3 Mei, rata-rata harga mencapai Rp23.401 per kg, turun dari Rp23.696 per kg pada awal April. Harga telur ayam ras juga terus menurun, dengan HAP produsen ditetapkan di Rp26.500 per kg, sementara rata-rata harga pada 3 Mei hanya mencapai Rp24.890 per kg. Pada awal April, harga telur masih Rp25.642 per kg.

Untuk membantu menekan biaya produksi peternak, Bapanas bekerja sama dengan Perum Bulog telah memulai program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap fluktuasi harga jagung yang melebihi 16,81 persen dari Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan di Rp5.800 per kg. Target program ini melibatkan lebih dari 5 ribu peternak skala mikro, kecil, dan menengah di 26 provinsi, dengan total populasi unggas mencapai 53 juta ekor.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, Bapanas memperkirakan bahwa pada tahapan awal akan disalurkan sebanyak 213,1 ribu ton jagung pakan. Program ini bertujuan memastikan ketersediaan pasokan pangan di tengah fluktuasi harga yang terjadi. Selain itu, untuk mengatasi deflasi cabai, Bapanas mendorong Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) agar stok cabai dari daerah surplus dapat dialokasikan ke wilayah yang mengalami tekanan harga tinggi. Dalam beberapa bulan terakhir, harga cabai di Indonesia Timur tercatat lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, sehingga pengiriman dari Sulawesi Selatan atau Sulawesi Utara diharapkan bisa meredam fluktuasi tersebut.

Pemerintah juga terus memantau perkembangan inflasi pada April 2026, termasuk komponen harga bergejolak (volatile food) atau inflasi pangan. Data BPS menunjukkan bahwa ada penurunan tekanan harga pangan pasca HBKN Ramadhan dan Idul Fitri 2026. Beberapa komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah menjadi penyumbang utama deflasi. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan bahwa inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau cenderung lebih rendah saat momen pasca-Lebaran.

“Tingkat inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau umumnya lebih rendah pada periode yang bertepatan dengan momen pasca-Lebaran. Seiring adanya normalisasi permintaan pasca HBKN,” ujar Ateng dalam kesempatan yang sama.

Menurut Ateng, daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 6,20 persen pada April, setelah inflasi 3,30 persen di Maret. Sementara itu, telur ayam ras mengalami penurunan inflasi dari 2,34 persen menjadi deflasi 4,29 persen. Cabai rawit dan cabai merah pun mengalami penurunan harga masing-masing sebesar 14,98 persen dan 2,59 persen. Dampaknya, inflasi pangan secara tahunan turun dari 4,24 persen di Maret menjadi 3,37 persen di April. Angka ini masih berada dalam rentang target pemerintah, yaitu 3 hingga 5 persen.

Dalam penyesuaian harga bulanan, inflasi pangan tercatat mengalami deflasi sebesar 0,88 persen. Tren ini menunjukkan bahwa deflasi di April menjadi kebiasaan sejak 2024. Pada April 2024, deflasi tercatat 0,31 persen, sedangkan pada April 2025 mencapai 0,73 persen. Dengan penyesuaian harga yang terus dilakukan, pemerintah berharap inflasi bisa dijaga agar tidak terlalu tinggi, terutama pada sektor pangan yang menjadi bagian penting dari kebutuhan masyarakat.

Bapanas juga memperhatikan dampak dari deflasi pada harga pangan strategis. Tidak hanya untuk menjaga keseimbangan pasar, pemerintah juga fokus pada perbaikan kualitas dan kuantitas pasokan. “Pertanian harus mampu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *