New Policy: Airlangga optimistis ekonomi RI kembali menguat di semester II 2026
New Policy: Airlangga Optimis Ekonomi RI Menguat di Semester II 2026
New Policy – Jakarta — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan optimisme kuat bahwa kondisi perekonomian nasional akan mengalami penguatan signifikan pada kuartal ketiga maupun kuartal keempat tahun 2026. Pernyataan tersebut diungkapkannya secara langsung saat ditemui oleh wartawan di ruang kerjanya di Jakarta pada hari Jumat. Airlangga menjelaskan bahwa tren positif diperkirakan akan terlihat menjelang memasuki periode kuartal III dan IV, di mana pertumbuhan ekonomi diproyeksikan akan kembali naik. Dalam konteks New Policy yang sedang diterapkan pemerintah, langkah-langkah strategis ini diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Komentar dari Menko Airlangga ini muncul sebagai respons terhadap beberapa indikator ekonomi yang menunjukkan penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Di antaranya adalah penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) serta masih terkontraksinya Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia. Meskipun terdapat tren penurunan, Airlangga tetap meyakini bahwa fundamental ekonomi masih berada dalam kondisi yang sehat dan mampu pulih. Implementasi New Policy ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa setiap sektor ekonomi dapat merasakan manfaat dari kebijakan yang lebih terarah dan efektif.
Indikator Keyakinan Konsumen Masih dalam Zona Aman
Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen tercatat mengalami penurunan pada bulan Juni 2026. Angka tersebut turun menjadi 117,8, dibandingkan dengan level 120,9 yang dicatat pada bulan Mei 2026. Meskipun terjadi penurunan, Menko Airlangga menilai bahwa tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih berada pada level yang aman dan tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Dalam kerangka New Policy, pemerintah terus memantau berbagai indikator ini untuk menyesuaikan strategi kebijakan ekonomi secara tepat waktu.
“(IKK) masih di atas 100. Aman. Kemarin kan ada Lebaran. Lebaran kan enggak tiap kuartal. Biasanya habis Lebaran turun sedikit,” ujar Airlangga.
Penjelasan Airlangga tersebut memberikan konteks penting mengenai fluktuasi IKK. Penurunan yang terjadi tidak serta merta mencerminkan melemahnya ekonomi secara struktural, melainkan lebih disebabkan oleh faktor musiman pasca-Lebaran. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen masih kuat meskipun ada penurunan sementara. Dengan adanya New Policy yang fokus pada penguatan daya beli masyarakat, diharapkan IKK dapat kembali meningkat pada kuartal berikutnya.
PMI Manufaktur Masuk Zona Kontraksi
Sementara itu, di sisi lain, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga mencatatkan angka kontraksi pada Juni 2026. Nilai PMI tercatat berada di level 46,9, yang menunjukkan bahwa sektor manufaktur sedang mengalami perlambatan. Angka di bawah 50 mengindikasikan bahwa aktivitas manufaktur sedang berkontraksi dibandingkan bulan sebelumnya. Sektor ini menjadi salah satu fokus utama dalam implementasi New Policy untuk mendorong pertumbuhan industri yang lebih kuat.
Terpisah, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, memberikan analisis mendalam mengenai kondisi tersebut. Didik menilai bahwa penurunan PMI manufaktur menjadi 46,9 justru bisa menjadi momentum strategis untuk memperkuat transformasi industri nasional. Transformasi ini dapat diwujudkan melalui peningkatan investasi yang berkualitas serta perbaikan iklim usaha secara menyeluruh. Menurut Didik, New Policy yang tepat dapat membantu sektor manufaktur keluar dari zona kontraksi dan kembali ke jalur pertumbuhan.
“Angka PMI ini merupakan indikasi sektor industri kita sakit lama dan sekarang masuk zona bahaya merah pada level indeks di bawah 50,” kata Didik.
Menurut Didik, PMI manufaktur yang berada di bawah level 50 menunjukkan bahwa sektor industri sedang menghadapi berbagai tantangan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih konsisten dari pemerintah untuk meningkatkan daya saing manufaktur dalam jangka panjang. Didik juga menambahkan bahwa penguatan sektor industri menjadi sangat penting karena pertumbuhan ekonomi memerlukan dukungan aktivitas manufaktur yang kuat, investasi produktif, serta penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan. Melalui pendekatan New Policy yang komprehensif, pemerintah berharap dapat mengatasi tantangan ini secara efektif.
Kedua pandangan dari Menko Airlangga dan ekonom Didik J. Rachbini memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Meskipun terdapat tantangan, optimisme terhadap pemulihan ekonomi di semester II 2026 tetap tinggi dengan berbagai langkah strategis yang dapat diambil. Dengan implementasi New Policy yang konsisten dan terukur, Indonesia diproyeksikan dapat kembali menguat secara ekonomi pada paruh kedua tahun 2026.