Pemprov Jatim kerahkan tim pemeriksa kesehatan hewan jelang Idul Adha
Pemprov Jatim kerahkan tim pemeriksa kesehatan hewan jelang Idul Adha
Pemprov Jatim kerahkan tim pemeriksa kesehatan – Nganjuk, Jawa Timur — Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melakukan penyiapan tim inspeksi kesehatan hewan untuk memastikan kualitas ternak kurban pada perayaan Idul Adha 2026. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mengamankan kondisi hewan yang akan digunakan sebagai kurban, sehingga terjamin sehat dan layak untuk dikonsumsi. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan bahwa selama masa persiapan, tim tersebut aktif melakukan pemantauan, pemeriksaan, serta verifikasi keberadaan penyakit, khususnya penyakit mulut dan kuku (PMK) dan penyakit lainnya seperti LSD. “Kami ingin memastikan semua hewan kurban dalam kondisi prima, baik sebelum maupun setelah proses penyembelihan,” ujarnya saat meninjau sentra peternakan sapi di Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, pada hari Sabtu.
“Jelang Idul Adha, kami terus mengerahkan tim pemeriksa hewan dari dinas terkait untuk memantau, memeriksa, dan memastikan semua hewan kurban bebas dari penyakit, terutama PMK maupun LSD. Kami memastikan bahwa hewan ternak sehat dan dagingnya layak untuk dikonsumsi,” kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Nganjuk, Sabtu.
Persiapan ini menjadi bagian dari upaya menyelaraskan ketersediaan hewan ternak dengan kebutuhan masyarakat yang merayakan hari raya besar Islam tersebut. Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur telah mengirimkan sejumlah petugas khusus, termasuk dokter hewan medik veteriner sebanyak 950 orang, paramedik veteriner 1.500 orang, pengawas bibit ternak 145 orang, pengawas mutu pakan 75 orang, serta juru sembelih halal (Juleha) yang bersertifikat sebanyak 1.997 orang. Angka ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kualitas dan keselamatan hewan kurban selama berlangsungnya perayaan.
Proses pemeriksaan hewan kurban dianggap sangat vital, baik sebelum penyembelihan maupun setelahnya. Selain memastikan kesehatan hewan, langkah ini juga bertujuan mencegah penyebaran penyakit, termasuk PMK yang sempat mengguncang sektor peternakan di beberapa daerah. Menurut Khofifah, keberhasilan program ini bergantung pada kekuatan sektor peternakan Jawa Timur yang saat ini menempati posisi pertama secara nasional dalam hal populasi ternak. “Keberadaan hewan ternak yang cukup dan sehat menjadi dasar kesiapan Jatim dalam menyediakan kurban,” jelasnya.
Dalam data terkini, total proyeksi kebutuhan ternak kurban di Jawa Timur mencapai 427.060 ekor, terdiri dari sapi 70.550 ekor, kambing 297.900 ekor, domba 58.600 ekor, dan kerbau 10 ekor. Angka ini menunjukkan bahwa ketersediaan hewan ternak di Jatim jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan. “Sampai saat ini, proyeksi kebutuhan sapi kurban mencapai 70.550 ekor, sedangkan ketersediaan kita mencapai 629.119 ekor,” ucap Khofifah. Dengan surplus hingga 558.569 ekor, Jatim diprediksi mampu memenuhi permintaan warga tanpa mengalami kelangkaan.
Sementara untuk hewan kambing, proyeksi kebutuhan sebanyak 297.900 ekor didukung ketersediaan sekitar 940.693 ekor, sehingga surplus mencapai 642.793 ekor. Surplus ini menjadi bukti bahwa sektor peternakan Jatim mampu menghasilkan hewan yang cukup untuk kebutuhan masyarakat. Selain kambing, domba juga menunjukkan surplus yang signifikan, yakni 452.868 ekor dari total ketersediaan 484.468 ekor. Kerbau, meskipun jumlahnya lebih sedikit, tetap memenuhi proyeksi kebutuhan 10 ekor dengan surplus 1.688 ekor.
Khofifah menegaskan bahwa kesiapan stok hewan kurban tidak hanya ditentukan oleh jumlah populasi ternak, tetapi juga oleh kualitas kesehatannya. Pemerintah daerah telah menerapkan berbagai langkah, seperti vaksinasi, biosecurity, dan pemberian pengobatan rutin, guna menjaga kesehatan hewan sebelum sampai ke tangan masyarakat. “Ternak kurban di Jawa Timur tersedia untuk mencukupi kebutuhan dan terjamin kesehatannya karena telah dilakukan vaksinasi, biosecurity, serta pengobatan,” tuturnya.
Dengan adanya surplus hewan ternak dan keberadaan tim inspeksi yang siap, Pemprov Jatim optimis dapat menjaga standar kebersihan dan keamanan daging kurban selama Idul Adha. Kesiapan ini juga diharapkan dapat meminimalkan risiko penyebaran penyakit, terutama PMK yang sempat mengganggu sektor peternakan nasional. Sebagai pengendali utama, Khofifah menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dengan peternak dan masyarakat dalam menjaga kualitas hewan kurban.
Kebutuhan hewan kurban di Jawa Timur meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, namun dengan persediaan yang lebih dari cukup, tidak ada alasan untuk khawatir. Pemerintah daerah terus melakukan pengawasan ketat terhadap kondisi hewan, termasuk verifikasi setiap tahap dalam proses penangkaran, pemeriksaan kesehatan, dan penyembelihan. Langkah-langkah ini diperlukan untuk menjamin bahwa hewan yang dikorbankan memenuhi standar kesehatan dan halal.
Persiapan ini tidak hanya terbatas pada sisi pemerintah, tetapi juga melibatkan berbagai pihak, seperti peternak, pedagang, dan pengusaha makanan. Melalui program pemeriksaan yang terpadu, Jatim berharap dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memilih h