Latest Program: Presiden Iran tegaskan siap akhiri perang, tetapi masih tak percaya AS

Presiden Iran Tegaskan Siap Akhiri Perang, Tapi Masih Tidak Percaya AS

Latest Program – Teheran, 6 Mei – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pada Rabu (6/5) bahwa negara yang dipimpinnya siap untuk melanjutkan proses penyelesaian perang dengan Amerika Serikat dan Israel melalui pendekatan diplomasi. Namun, ia menegaskan bahwa kepercayaan terhadap pihak AS masih terbatas. Dalam percakapan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Pezeshkian menyoroti kecurigaan terhadap tindakan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, yang menurutnya masih berupaya merusak kesepakatan yang diharapkan.

Kebijakan Iran: Menjaga Hak Bangsa

Pezeshkian menegaskan bahwa Iran akan tetap berpegang pada hak-hak rakyatnya, termasuk kebijakan terkait pengayaan nuklir, sebelum menyetujui penarikan diri dari perang. Ia mengungkapkan bahwa sikap skeptis terhadap AS bukan hanya sementara, melainkan merupakan reaksi atas serangan-serangan yang dilancarkan pihak AS dan Israel belakangan ini. “Kita masih memantau tindakan mereka, dan belum siap sepenuhnya meyakini niat baik mereka,” kata Pezeshkian dalam pernyataan yang dilaporkan di situs resmi kantornya.

Dalam pembicaraan tersebut, Pezeshkian juga menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui dialog. Meskipun siap melakukan langkah diplomatik, ia menilai bahwa hasilnya tidak bisa dijamin tanpa adanya kepastian tentang keberlanjutan komitmen AS. “Diplomasi adalah jalan terbaik, tapi kita tidak akan mengorbankan kepentingan nasional kita demi keuntungan sementara,” ujarnya. Pernyataan ini dikeluarkan setelah laporan media Axios mengungkap bahwa AS dan Iran kini lebih dekat mencapai kesepakatan satu halaman untuk mengakhiri perang.

Persiapan Kesepakatan: Laporan Axios dan Tantangan

Sebelumnya, pada hari yang sama, media internasional Axios melaporkan bahwa kedua pihak—Amerika Serikat dan Iran—sedang menggodok proposal kesepakatan yang berpotensi menjadi titik balik dalam konflik bilateral. Menurut laporan, naskah kesepahaman tersebut kemungkinan besar mencakup komitmen Iran untuk berhenti sementara dari aktivitas pengayaan nuklir, sementara AS berencana mencabut sanksi terhadap Teheran. Dalam kesepakatan ini, pihak Iran dan AS juga sepakat untuk mengangkat pembatasan pelayaran melintasi Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pasokan minyak global.

Penyusunan proposal ini dilatarbelakangi oleh gencatan senjata yang berhasil ditandatangani antara Iran, AS, dan Israel pada 8 April lalu. Kesepakatan tersebut berlaku setelah 40 hari pertarungan yang dimulai dari serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Meski tercapai, gencatan senjata ini hanya berupa pendahuluan, dan pihak Iran masih menginginkan komitmen lebih jauh dari AS.

Dalam upaya mewujudkan kesepakatan, Iran dan AS telah mengadakan satu sesi perundingan di Islamabad, Pakistan, pada 11 dan 12 April. Namun, hasilnya tidak mencapai titik kesepahaman. Pihak Iran menganggap usulan yang diajukan AS masih kurang memadai, terutama terkait kepastian penarikan sanksi dan pengakuan terhadap hak penguasaan nuklir. “Kita perlu perjanjian yang adil dan mencakup kepentingan kita sepenuhnya,” kata salah satu pejabat Iran dalam wawancara dengan media lokal.

“Serangan yang terjadi belakangan ini, termasuk dua kejadian serangan terhadap Iran selama pembicaraan bilateral, yang saya sampaikan sebagai ‘menggigit Iran dari belakang,'”

Pernyataan ini menjelaskan ketidakpercayaan Iran terhadap AS, yang dinilai masih mengambil langkah strategis untuk mengungkapkan kelemahan pihak Iran. Pezeshkian menekankan bahwa meskipun terbuka pada pembicaraan, Iran tidak akan berhenti mengingatkan diri tentang kebijakan penguasaan nuklir, yang dianggap sebagai simbol kekuatan nasional. “Kita harus mempertahankan kontrol atas program kita, sekalipun ada pihak yang ingin melibatkan kita dalam perjanjian,” ujarnya.

Menurut sumber diplomatik, kejadian terbaru di Selat Hormuz menjadi sorotan utama dalam percakapan antara Iran dan AS. Kedua belah pihak sepakat untuk menyelidiki kemungkinan perjanjian yang memperkuat kerja sama strategis, tetapi ada beberapa isu yang masih diperdebatkan. Misalnya, Iran menuntut kompensasi atas kerusakan militer yang dialaminya, sementara AS lebih fokus pada pengurangan risiko terorisme di kawasan Timur Tengah. “Kita butuh kejelasan mengenai dampak jangka panjang dari perjanjian ini,” kata seorang utusan khusus Iran.

Selama beberapa minggu terakhir, negara-negara kawasan Timur Tengah terus mengawasi dinamika antara Iran dan AS. Keberhasilan atau kegagalan kesepakatan satu halaman akan berdampak besar pada hubungan internasional. Jika tercapai, ini bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi tekanan terhadap Iran dan menandai kebangkitan kembali dari persaingan geopolitik yang berlangsung. Namun, jika gagal, potensi konflik kembali meletus akan terus menghantui kawasan tersebut.

Pezeshkian juga menyebut bahwa kepercayaan Iran terhadap AS tergantung pada keseriusan pihak AS dalam memenuhi komitmen. “Kita tidak ingin jadi korban manipulasi politik, terutama setelah beberapa kali dipaksa untuk merugi,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Iran menunjukkan keinginan untuk berdamai, pihaknya tetap berhati-hati terhadap langkah-langkah AS yang mungkin dianggap sebagai penipuan. Dengan demikian, jalan menuju perdamaian akan terus dijelajahi, tetapi tekanan internasional masih menjadi penghalang utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *