Main Agenda: Trump sebut AS-China capai kesepakatan dagang “fantastis”
Trump Sebut AS-China Capai Kesepakatan Dagang “Fantastis”
Main Agenda – Kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing memasuki hari kedua, di mana ia mengungkapkan bahwa dirinya dan Presiden China Xi Jinping telah menyetujui beberapa kesepakatan perdagangan yang dinilai “fantastis”. Pernyataan ini dilakukan saat mereka memulai pertemuan, tanpa merinci detail lebih lanjut. Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi langkah penting dalam memperkuat hubungan ekonomi antara dua negara besar, dengan fokus pada peningkatan pembelian komoditas pertanian AS oleh China.
Perundingan tentang Jalur Pelayaran dan Stabilitas Global
Dalam diskusi yang berlangsung di kompleks Zhongnanhai, tempat utama kebijakan Partai Komunis China, Trump menyebut bahwa Xi Jinping menawarkan bantuan untuk mengatasi krisis di Selat Hormuz. Selat tersebut menjadi titik penting bagi distribusi energi global, dan Trump yakin upaya bersama bisa mengurangi tekanan pada pasar internasional. “Kami membahas begitu banyak hal lain kemarin dan sepertinya sudah mencapai kesepakatan,” ujar Trump dalam pernyataan terbuka. Menurutnya, kerja sama ini mencakup usaha untuk membuka jalur pelayaran secara lebih cepat, sesuai dengan kebutuhan komunitas dunia.
“Kami sepakat untuk memastikan rantai pasok energi tetap lancar dan stabil,” kata Trump, yang menjelaskan bahwa pembicaraan hari Jumat di Beijing memperkuat komitmen kedua belah pihak terhadap perdagangan.
Kepala Negara China, Xi Jinping, dalam sambutan resmi menyebutkan kunjungan Trump sebagai momen bersejarah yang menandai kebangkitan kolaborasi antara AS dan Tiongkok. Diskusi antara keduanya berlanjut hingga jamuan siang, dengan topik utama terkait ekonomi, kebijakan luar negeri, dan hubungan geopolitik. Sebelumnya, pada hari pertama kunjungan, mereka telah berbicara selama lebih dari dua jam mengenai berbagai isu, termasuk masalah Taiwan, serta konflik AS-Israel terhadap Iran.
Perjanjian tentang Peralatan Militer dan Teknologi
Salah satu keberhasilan utama dalam dialog perdagangan ini adalah kesepakatan untuk mempercepat pembelian produk pertanian AS oleh China. Selain itu, Trump menyebut bahwa China setuju membeli 200 pesawat buatan Boeing, yang menjadi bagian dari komitmen untuk meningkatkan ekspor teknologi Amerika ke pasar Tiongkok. Pernyataan tersebut menunjukkan langkah konkret dalam mengurangi ketegangan yang sebelumnya terjadi akibat tarif impor yang dikenakan kedua negara.
“Xi menawarkan dukungan untuk membuka Selat Hormuz, serta berjanji tidak akan menyuplai peralatan militer ke Teheran,” ujar Trump, menyoroti pentingnya kebijakan bersama dalam mengatasi ancaman terhadap pasokan energi.
Trump juga menjuluki AS dan Tiongkok sebagai “G2”, karena keduanya dianggap sebagai kekuatan ekonomi dominan yang mampu mengatur arah pertumbuhan dunia. “Ini akan menjadi momen penting dalam sejarah,” tegasnya, menegaskan bahwa kebijakan yang diambil tidak hanya berdampak pada kedua negara, tetapi juga pada stabilitas global.
Kontak dengan Tokoh Bisnis AS dan Dukungan Ekonomi
Kunjungan Trump ke Beijing didampingi oleh sejumlah tokoh bisnis besar Amerika, seperti Elon Musk dari Tesla, Jensen Huang dari Nvidia, dan Tim Cook dari Apple. Mereka hadir untuk memastikan bahwa upaya pemerintah menghasilkan manfaat nyata bagi sektor swasta. Dalam wawancara dengan CNBC, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa pihaknya akan membahas pembentukan badan investasi baru yang bertugas mengelola dana di sektor non-sensitif. Meski bersaing dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), kedua negara setuju mengembangkan protokol untuk memastikan pertumbuhan AI yang aman.
Sebelumnya, Perdana Menteri China Li Qiang telah bertemu dengan para pengusaha AS, di mana ia menekankan komitmen Beijing terhadap keterbukaan pasar. “Beijing ingin mendorong lebih banyak perusahaan Amerika berpartisipasi dalam ekosistem perekonomian Tiongkok,” katanya dalam pernyataan melalui kantor berita Xinhua. Pernyataan ini menunjukkan upaya untuk memperkuat hubungan ekonomi melalui kerja sama bilateral yang saling menguntungkan.
Histori Perang Dagang dan Dampak Global
Pertemuan di Beijing ini dianggap sebagai langkah penyelesaian dari perang dagang yang sebelumnya terjadi antara AS dan Tiongkok. Dalam pertemuan di Korea Selatan Oktober 2025 lalu, kedua pihak telah mencapai gencatan perang, di mana mereka menunda pembatasan ekspor komoditas tanah jarang yang kritis bagi produksi teknologi tinggi, seperti kendaraan listrik, semikonduktor, dan persenjataan. Kesepakatan ini diharapkan membantu memulihkan kepercayaan pasar internasional terhadap ekonomi kedua negara.
Beijing berkomitmen untuk bekerja sama dengan komunitas internasional guna menjamin ketersediaan bahan bakar dan stabilitas rantai pasok. “Kami akan terus berupaya membuka akses perdagangan sedini mungkin, sesuai dengan permintaan dunia,” tulis Kementerian Luar Negeri Tiongkok dalam pernyataan resmi. Dengan dukungan dari AS, Tiongkok berharap mempercepat proyek infrastruktur dan pengembangan teknologi yang bermanfaat bagi perekonomian global.
Trump dan Xi juga menyebutkan bahwa kesepakatan dagang baru akan menjadi dasar untuk membangun hubungan politik yang lebih kuat. Meski tetap bersaing dalam banyak aspek, kedua negara sepakat bahwa kerja sama ekonomi adalah kunci untuk menghadapi tantangan dunia. Dalam wawancara Fox News, Trump menyebutkan bahwa hasil pertemuan ini akan menjadi referensi penting dalam diplomasi masa depan, serta menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan kebijakan global.
Di sisi lain, para pengusaha AS berharap bahwa kesepakatan ini akan memudahkan masuknya produk mereka ke pasar Tiongkok, yang merupakan salah satu pasar terbesar di dunia. “Kami yakin kolaborasi ini akan membuka peluang baru untuk ekspor dan investasi,” kata Bessent, yang menambahkan bahwa proyek badan investasi baru akan diumumkan dalam beberapa minggu ke depan.
Kunjungan Trump ke Beijing menjadi momentum penting setelah serangkaian konflik yang sebelumnya mengganggu perdagangan antara AS dan Tiongkok. Dengan peningkatan pembelian komoditas pertanian, serta kesepakatan mengenai peralatan militer dan jalur pelayaran, Trump berharap hubungan bilateral akan mencapai tingkat baru. “Kami akan berupaya menjaga keseimbangan antara perlindungan kepentingan nasional dan kepentingan bersama,” imbuhnya.
Di tengah upaya memperkuat hubungan ekonomi, Trump dan Xi juga memperhatikan isu-isu geopolitik yang berdampak pada pasar global. Pertemuan ini menunjukkan bahwa meskipun masih ada perbedaan, kedua pihak bersedia menyelesaikan sengketa melalui dialog. Dengan dukungan dari perusahaan-perusahaan besar AS, proses negosiasi diharapkan berjalan lebih cepat, serta menghasilkan solusi yang berkelanjutan untuk kepentingan ekonomi dan politik kedua negara.