IAPI dorong penguatan kompetensi akuntan di era AI

5 days ago  ·  4 min read
By Daniel Anderson - pemandanganindah.com

Profesi Akuntansi Indonesia Hadapi Ujian Ganda: Teknologi dan Integritas

Pemandanganindah.com – Percepatan adopsi kecerdasan buatan di berbagai sektor ekonomi telah mengubah secara fundamental cara kerja profesi audit dan penjaminan. Di Indonesia, Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) mengambil langkah proaktif dengan mendorong seluruh anggota profesi akuntan publik untuk membangun kompetensi teknologi yang mendalam, bukan sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat digital. Langkah ini muncul di tengah meningkatnya ekspektasi publik terhadap kualitas laporan keuangan dan informasi keberlanjutan yang dihasilkan oleh para profesional.

Presiden IAPI, Tarkosunaryo, menegaskan bahwa respons profesi terhadap revolusi digital tidak boleh berhenti pada lapisan teknis semata. Ia menekankan bahwa integritas, independensi, dan kapasitas pengambilan keputusan yang bertanggung jawab tetap menjadi fondasi yang tidak bisa digantikan oleh algoritma mana pun.

“Kesiapan profesi dalam menghadapi perkembangan teknologi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga oleh kompetensi profesional, integritas, independensi, dan kemampuan mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab.”

Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta pada Jumat. Tarkosunaryo menambahkan bahwa pemanfaatan AI dan teknologi digital harus selalu diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia yang memadai, sehingga setiap penerapan teknologi tetap selaras dengan nilai-nilai fundamental profesi serta kepentingan masyarakat luas.

CPA Days 2026: Forum Kolaboratif di Tangerang

Wacana penguatan kompetensi ini diwujudkan secara konkret melalui penyelenggaraan Seminar Pre-Event dan Research Workshop CPA Days 2026 yang digelar di Tangerang, Banten. Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara IAPI dan School of Accounting BINUS University, yang secara khusus dirancang untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam satu ruang diskusi.

Peserta forum mencakup organisasi profesi, lembaga regulator, akademisi, praktisi lapangan, mahasiswa, hingga calon profesional yang baru akan memasuki dunia audit dan akuntansi. Agenda utama pembahasan berfokus pada dua hal: perubahan lanskap teknologi yang sedang berlangsung, serta peta kompetensi baru yang wajib dimiliki oleh setiap profesional audit dan akuntansi di era digital.

Enam Pilar Kompetensi yang Kini Jadi Prioritas

Dalam konteks CPA Days 2026, beberapa kapabilitas dinilai semakin krusial bagi calon profesional. Literasi teknologi menjadi prasyarat dasar, namun ia harus ditopang oleh kemampuan analitis yang tajam, pemahaman mendalam terhadap profil risiko, penguasaan etika profesi, serta kapasitas membuat keputusan berbasis professional judgment. Kombinasi keenam elemen ini membentuk kerangka kompetensi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Di luar dimensi teknologi, forum juga menyoroti lonjakan permintaan terhadap sustainability assurance. Para pemangku kepentingan—mulai dari investor, regulator, hingga masyarakat sipil—kini menuntut informasi keberlanjutan yang kredibel, terverifikasi, dan dapat diandalkan. Hal ini menempatkan akuntan publik pada posisi strategis sebagai penjaga kepercayaan atas data lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang dilaporkan oleh entitas bisnis.

Peran Akademik BINUS University dalam Diskursus Teknologi Audit

BINUS University memanfaatkan forum ini untuk memperkuat kontribusinya dalam menyajikan perspektif akademik yang relevan terhadap transformasi profesi akuntansi. Keahlian institusi tersebut di bidang teknologi audit keuangan dan ilmu akuntansi menjadi landasan intelektual untuk mengeksplorasi bagaimana AI dapat diintegrasikan ke dalam praktik profesional tanpa mengorbankan prinsip profesionalisme dan integritas.

Prof Rindang Widuri, Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Teknologi Audit Keuangan di BINUS University, menyatakan bahwa transformasi AI membuka ruang peluang yang sangat luas bagi evolusi profesi akuntansi dan auditing. Namun, ia mengingatkan bahwa kesiapan menghadapi masa depan tidak dapat direduksi menjadi sekadar keterampilan teknis.

“Profesional akuntansi juga membutuhkan kemampuan untuk memahami risiko, menerapkan ethical judgment, dan memastikan bahwa setiap penggunaan teknologi tetap berada dalam koridor governance dan integritas profesional.”

Pandangan ini sejalan dengan posisi IAPI bahwa teknologi adalah instrumen, bukan pengganti pertimbangan profesional. Dalam praktik audit, keputusan mengenai materialitas, penilaian risiko, dan opini atas laporan keuangan tetap harus diambil oleh manusia yang memahami konteks bisnis, regulasi, dan dampak sosial dari setiap angka yang dilaporkan.

Implikasi bagi Generasi Muda Profesi

Melalui CPA Days 2026, IAPI bersama BINUS University secara eksplisit mengajak generasi muda untuk mempersiapkan diri dengan kompetensi dan nilai-nilai profesional yang selaras dengan arah perkembangan teknologi. Pesan intinya jelas: kualitas audit dan assurance bukan sekadar prosedur teknis, melainkan mekanisme penjaga kepercayaan publik terhadap sistem ekonomi nasional.

Di tengah percepatan otomatisasi dan analitik prediktif, profesional yang mampu memadukan kecakapan digital dengan kedalaman etika serta ketajaman judgment akan menjadi tulang punggung tata kelola keuangan yang sehat. Forum di Tangerang ini menjadi salah satu titik awal bagi pembentukan kapasitas tersebut di tingkat nasional.

Frequently Asked Questions

What is IAPI dorong penguatan kompetensi akuntan di era?

IAPI dorong penguatan kompetensi akuntan di era is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does IAPI dorong penguatan kompetensi akuntan di era matter?

IAPI dorong penguatan kompetensi akuntan di era matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category