Announced: BTS persoalkan kenaikan tarif hotel di Busan jelang konser ARIRANG
BTS Mengecam Kenaikan Tarif Hotel di Busan Sebelum Konser ARIRANG
Announced – Busan, Korea Selatan, menjadi sorotan karena kenaikan harga kamar penginapan yang signifikan sebelum gelaran konser ARIRANG grup K-pop BTS pada 12 dan 13 Juni 2026. Faktor ini memicu kecaman dari anggota grup tersebut, khususnya RM, Suga, dan Jimin, yang merupakan warga asli kota itu. Mereka mengungkapkan kekecewaan terhadap praktik akomodasi yang dianggap terlalu mahal, yang berpotensi merugikan penggemar dan masyarakat lokal.
Fluktuasi Harga Hotel di Busan Menjadi Perdebatan
Menurut laporan Korea Times pada Rabu (27/5), RM, sebagai pemimpin BTS, memberikan tanggapan terhadap kenaikan tarif hotel di Busan melalui siaran langsung di platform Weverse. Dalam wawancara, dia menyatakan, “Banyak laporan menyebutkan bahwa tarif penginapan naik drastis. Rasanya tidak mengenakkan,” sambil menyoroti situasi yang terjadi menjelang konser mereka. RM mengakui bahwa harga kamar hotel biasanya berubah sesuai musim, tetapi menilai bahwa kenaikan saat ini terlalu ekstrem.
“Banyak laporan menyebutkan bahwa tarif penginapan naik drastis. Rasanya tidak mengenakkan,” kata RM dalam siaran langsung di Weverse.
Dia menyarankan para pemilik usaha untuk tidak terlalu ambisius dalam menaikkan harga, terutama karena jumlah permintaan dari penggemar BTS sangat tinggi. “Jangan keterlaluan,” tambah RM, menggunakan dialek khas Busan dalam ucapan tersebut.
Kebiasaan Lokal dan Kritik Terhadap Penetapan Harga
Suga dan Jimin, dua anggota BTS yang berasal dari Busan, sepakat dengan pendapat RM. Keduanya mengungkapkan bahwa banyak kerabat mereka juga kesulitan mendapatkan kamar yang terjangkau. Mereka mempertanyakan apakah kenaikan harga yang mencapai ratusan ribu hingga jutaan won per malam dianggap wajar atau justru memicu ketidakpuasan.
Para penggemar secara aktif mengkritik praktik ini, dengan menyoroti kasus-kasus di mana usaha akomodasi membatalkan reservasi awal dan menjual kamar dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kenaikan tarif ini memang terjadi beberapa minggu sebelum konser ARIRANG, dan para fans menganggapnya sebagai bentuk eksploitasi terhadap penggemar yang ingin menghadiri acara tersebut.
Data Survei Mengungkap Fluktuasi Harga yang Mencengangkan
Menurut hasil survei Korea Consumer Agency pada Februari 2026, harga kamar hotel di Busan meningkat hingga 7,5 kali lipat dibandingkan minggu sebelum dan sesudah konser. Angka ini menunjukkan perubahan drastis yang terjadi dalam jangka waktu singkat, mencerminkan tekanan tinggi terhadap permintaan akomodasi.
Kenaikan harga ini tidak hanya memengaruhi penggemar BTS, tetapi juga turis umum yang berkunjung ke kota pelabuhan tersebut. Sejumlah usaha kecil dan menengah melaporkan bahwa mereka terpaksa menaikkan tarif untuk mengantisipasi kebutuhan pengunjung yang membludak. Namun, hal ini menimbulkan keluhan di kalangan masyarakat setempat, khususnya mereka yang ingin berlibur atau menghadiri acara budaya tanpa membawa beban ekstra.
Kecemasan Penggemar dan Dampak pada Perekonomian Lokal
Sebelum konser ARIRANG, banyak penggemar membagikan pengalaman mereka di media sosial, termasuk keluhan tentang kesulitan mencari penginapan dengan harga terjangkau. Beberapa mengungkapkan bahwa kamar yang biasanya dijual seharga 100 ribu won per malam kini mencapai 750 ribu won atau lebih. Perubahan ini mengakibatkan banyak orang terpaksa menginap di tempat yang jauh dari lokasi konser atau memilih alternatif transportasi yang lebih mahal.
RM, dalam siaran langsung, juga menyebutkan bahwa warga Busan sendiri merasakan dampak dari kenaikan harga. “Saya tahu kota ini sering menjadi destinasi pariwisata, tapi sekarang tarifnya terlalu tinggi,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga tidak hanya memengaruhi penggemar, tetapi juga menyebabkan ketidaknyamanan bagi penduduk lokal yang ingin melakukan perjalanan sehari-hari.
Pola Akomodasi dan Tantangan untuk Pemilik Usaha
Peningkatan permintaan akomodasi menjelang konser ARIRANG berdampak pada kebijakan pemasaran usaha penginapan. Beberapa pemilik hotel mengatakan bahwa mereka mengatur harga secara dinamis untuk memaksimalkan keuntungan. Namun, kebijakan ini dituduh sebagai tindakan manipulatif yang memanfaatkan popularitas BTS sebagai alasan kenaikan tarif yang tidak seimbang.
Karena kesulitan menemukan kamar yang murah, penggemar mulai mencari solusi alternatif, seperti memesan akomodasi secara online atau memilih hotel di luar kawasan pusat kota. Selain itu, ada juga laporan bahwa beberapa penginapan di Busan sempat kehabisan kamar hanya dalam beberapa hari sebelum konser, menyebabkan antrean panjang dan ketidakpuasan berkelanjutan.
Upaya untuk Menyeimbangkan Kebutuhan Wisata dan Kesejahteraan Masyarakat
Di tengah kenaikan harga, pemerintah lokal dan pengelola destinasi wisata Busan sedang berusaha menyeimbangkan antara kebutuhan pengunjung dan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Beberapa langkah telah diambil, seperti pembatasan tarif maksimum dan peningkatan pasokan kamar melalui kerja sama dengan hotel-hotel kecil. Namun, keberhasilan upaya ini masih diragukan, terutama karena permintaan sebelum konser sangat tinggi.
Bagi BTS, kenaikan tarif hotel menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi selama tur konser mereka. Meski konser ARIRANG di Busan diharapkan mampu meningkatkan ekonomi kota tersebut, namun hal ini juga memicu diskusi tentang akomodasi yang lebih adil. Kritik dari anggota grup dan penggemar menunjukkan bahwa kebijakan harga harus dipertimbangkan dengan cermat agar tidak merugikan masyarakat secara umum.
Konser ARIRANG akan menjadi salah satu event musik terbesar di Busan, yang berpotensi meningkatkan jumlah wisatawan dan pengunjung lokal. Namun, jika kenaikan harga terus berlanjut, keberhasilan konser tersebut bisa tergantung pada keseimbangan antara keuntungan usaha dan kenyamanan pengunjung. Perubahan ini juga menjadi bahan perdebatan terkait pengelolaan event besar di kota-kota wisata Korea Selatan.