2.614 calon haji asal Riau telah diberangkatkan ke Tanah Suci
2.614 Calon Haji Asal Riau Berangkat ke Tanah Suci
2 614 calon haji asal Riau – Pekanbaru, (ANTARA) – Sebanyak 2.614 calon jamaah haji dari wilayah Riau telah berhasil diberangkatkan ke Tanah Suci, Makkah, dalam rangkaian keberangkatan yang terbagi dalam enam kloter. Pemberangkatan ini dilakukan melalui Embarkasi Batam, Kepulauan Riau. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Riau, Defizon, menyampaikan bahwa seluruh proses keberangkatan berjalan lancar hingga Kamis (30/4/2026).
Penundaan Akibat Kesehatan dan Administrasi
Meski proses umumnya berjalan baik, Defizon mengungkapkan ada sejumlah calon haji yang mengalami penundaan karena kondisi kesehatan atau masalah administrasi. “Hingga 30 April 2026, total jumlah calon haji Riau yang telah diberangkatkan mencapai 2.614 orang, ditambah 12 petugas haji daerah, tiga pembimbing KBIHU, serta 24 petugas haji lainnya, sehingga total sebanyak 2.653 orang,” jelasnya dalam keterangan yang diterima di Pekanbaru, Jumat.
“Kami terus memantau kondisi jamaah, terutama yang tertunda keberangkatannya. Semoga seluruh calon haji diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah haji,” tuturnya.
Perinci Kloter Berangkat
Kloter BTH 3 mengirimkan 443 orang, yang terdiri dari 435 calon haji, dua petugas haji daerah (PHD), dua pembimbing KBIHU, serta empat petugas kloter. Di sisi lain, satu calon haji asal Pekanbaru bersama satu pendamping mengalami penundaan karena sedang menjalani perawatan di Batam.
Kloter BTH 4 menyentuh 440 orang, terdiri dari 434 calon haji, dua PHD, dan empat petugas kloter. Tiga calon haji asal Pekanbaru serta dua pendamping mereka tertunda karena sedang dirawat di Batam. Dalam kloter BTH 5, jumlah yang diberangkatkan mencapai 438 orang, dengan komposisi 431 calon haji, dua PHD, satu pembimbing KBIHU, dan empat petugas kloter. Tiga calon haji dari Kampar serta tiga pendampingnya tertunda, sementara satu calon haji lainnya sakit di daerah asal.
Kloter BTH 6 menyentuh 399 orang, terdiri dari 393 calon haji, dua PHD, dan empat petugas kloter. Namun, tiga calon haji batal berangkat, dua di antaranya berasal dari Rokan Hilir. Selain itu, Defizon menyebutkan terjadi mutasi 45 calon haji ke Kloter BTH 7, sebagian besar berasal dari Kepulauan Meranti. Dua calon haji juga masuk ke kloter tersebut dari Kloter BTH 4 asal Pekanbaru.
Perjalanan Kloter BTH 7 dan BTH 8
Kloter BTH 7 berjumlah 488 orang, yang terdiri dari 482 calon haji, dua PHD, dan empat petugas kloter. Satu calon haji dari Indragiri Hilir tertunda keberangkatannya karena sedang menjalani perawatan di Batam. Kloter BTH 8 menyentuh 445 orang, terdiri dari 439 calon haji, dua PHD, serta empat petugas kloter. Tiga calon haji dari Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan Kuantan Singingi serta tiga pendampingnya tertunda karena sedang dirawat di Batam. Satu calon haji asal Kuantan Singingi juga dilaporkan wafat sebelum berangkat.
Penjelasan Lebih Lanjut dari Kepala Kantor
Defizon menambahkan bahwa selain kloter yang sudah berangkat, ada juga mutasi jumlah calon haji dari kloter sebelumnya. “Mutasi tersebut mencakup 45 calon haji yang dialihkan ke Kloter BTH 7, dengan mayoritas berasal dari Kepulauan Meranti, serta dua calon haji yang masuk dari Kloter BTH 4 asal Pekanbaru,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tim terus memantau keadaan jamaah, terutama mereka yang mengalami penundaan, untuk memastikan kesiapan mereka menjalani ibadah haji.
Proses pemberangkatan ini menggambarkan koordinasi yang intensif antara berbagai pihak, mulai dari kloter haji, petugas, hingga pembimbing. Defizon menekankan bahwa upaya ini dilakukan untuk memastikan keberangkatan calon haji berjalan aman dan sesuai dengan protokol kesehatan yang diterapkan. Selain itu, kloter yang terlambat berangkat diberikan perhatian khusus, termasuk pemantauan medis untuk menghindari risiko kesehatan di tengah perjalanan.
Ringkasan dan Harapan
Dari total 2.614 calon haji yang berangkat, jumlah mereka dikelompokkan dalam delapan kloter, dengan penyesuaian beberapa orang yang tertunda atau batal keberangkatan. Penundaan terjadi karena kondisi kesehatan, seperti sakit atau perawatan, serta masalah administratif. Dengan adanya mutasi, jumlah kloter mencapai delapan, dengan distribusi yang beragam di berbagai kabupaten dan kota di Riau.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah juga mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan jamaah menjadi prioritas dalam proses pemberangkatan. “Kami melakukan langkah-langkah pencegahan, termasuk pemantauan rutin terhadap calon haji yang mengalami gangguan kesehatan,” kata Defizon. Harapan utamanya adalah semua jamaah haji dapat melaksanakan ibadah dengan lancar, baik yang berangkat langsung maupun yang sempat tertunda.
Sejumlah data menunjukkan perbedaan antara jumlah calon haji yang berangkat dan yang tertunda. Misalnya, Kloter BTH 3 mengirimkan 443 orang, tetapi ada 2 calon haji yang tidak dapat berangkat. Sementara itu, Kloter BTH 8 memiliki 445 orang, tetapi tiga calon haji dan tiga pendampingnya tertunda karena perawatan. Selain itu, satu calon haji dari Kuantan Singingi meninggal sebelum keberangkatan, menambahkan sedikit ketidakpastian dalam jumlah total.
Defizon menegaskan bahwa setiap kloter diberi batas waktu berangkat untuk memastikan ketersediaan tempat dan fasilitas di Tanah Suci. “Kloter yang diatur merupakan bagian dari strategi distribusi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap wilayah,” jelasnya. Dengan demikian, keberangkatan calon haji dari Riau terus berjalan sesuai jadwal, meski ada penyesuaian untuk kondisi yang tak terduga.
Ketersediaan Sumber Daya dan Koordinasi
Defizon menyebutkan bahwa jumlah petugas haji