BMKG catat tsunami tertinggi di Talengan-Sangihe

BMKG Catat Tsunami Tertinggi di Talengan-Sangihe

BMKG catat tsunami tertinggi di Talengan – Pada Senin, 8 Juni 2026, Manado menjadi pusat perhatian setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terjadi gelombang tsunami dengan ketinggian maksimal di wilayah Talengan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Peristiwa ini terjadi tepat pukul 08:20 WIB, setelah gempa bumi tektonik yang mengguncang Pantai Selatan Mindanao, Filipina, pada pukul 06:37:42 WIB. Gempa tersebut memiliki magnitudo M7,7 dan kedalaman 47 kilometer, menurut laporan BMKG yang diterima ANTARA di Manado.

Proses Peringatan Tsunami Berdasarkan SOP

Menurut Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, dalam update terbaru, peringatan dini keempat diluncurkan untuk mengakhiri status peringatan tsunami. “Peringatan dini keempat berisi pengakhiran peringatan dini pada pukul 10:15:51 WIB,” jelas Wijayanto, seperti yang dikutip dalam laporan resmi. Proses ini berlangsung sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku, di mana BMKG mengeluarkan empat tingkat peringatan dini untuk mengantisipasi potensi tsunami.

“Peringatan dini keempat berisi pengakhiran peringatan dini pada pukul 10:15:51 WIB,” kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto dalam update gempa M7.7 yang diterima ANTARA di Manado, Senin.

Peringatan dini pertama diterbitkan pada pukul 06:40:44 WIB, tiga menit dua detik setelah gempa terjadi. Pada tahap ini, BMKG memberikan parameter dasar gempa, termasuk lokasi, magnitudo, dan waktu kejadian. Status ancaman yang ditetapkan adalah siaga dan waspada, yang merupakan langkah awal untuk memastikan keselamatan masyarakat di sekitar daerah rawan.

Peringatan dini kedua, pada pukul 06:51:26 WIB, mencakup penyesuaian data gempa, termasuk lokasi dan magnitudo, yang dirilis setelah analisis lanjutan. Peringatan ini dikeluarkan sebelas menit tiga puluh empat detik setelah gempa terjadi. Pada tahap ketiga, BMKG memberikan informasi lebih detail tentang deteksi gelombang tsunami melalui observasi ‘tide gauge’ di dua lokasi berbeda. Hasilnya, dua kali tercatat adanya gelombang dengan tinggi yang berbeda.

Deteksi Tsunami dan Ketinggian Gelombang

Dalam peringatan dini ketiga, yang pertama diterbitkan pada pukul 08:13:41 WIB, tsunami terdeteksi di ‘tide gauge’ pertama dengan ketinggian 0,09 meter di Loloda, Maluku Utara, pada pukul 07:20 WIB. Deteksi kedua terjadi di Ulu Siau, Sulawesi Utara, dengan ketinggian 0,18 meter pada pukul 07:27 WIB. Selanjutnya, pada deteksi ketiga, ketinggian tsunami mencapai 0,32 meter di Melonguane, Sulawesi Utara, pada waktu yang sama.

Peringatan dini ketiga yang kedua, pada pukul 08:34:52 WIB, menunjukkan adanya deteksi tambahan. Di Tahuna, Kepulauan Sangihe, ketinggian gelombang mencapai 0,30 meter pada pukul 06:58 WIB. Deteksi berikutnya terjadi di Paleleh, Sulawesi Tengah, dengan ketinggian 0,45 meter pada pukul 07:34 WIB. Di Tanjung Sidupa, Sulawesi Utara, ketinggian tsunami mencapai 0,32 meter pada pukul 07:39 WIB.

Peringatan dini keempat, yang terakhir, mencatat ketinggian tsunami hingga 0,75 meter di Talengan, Sangihe-Sulawesi Utara, pada pukul 08:20 WIB. Sebelumnya, di Bitung, Sulawesi Utara, juga tercatat gelombang 0,29 meter pada pukul 07:51 WIB. Sementara itu, Ternate, Maluku Utara, mengalami gelombang 0,14 meter pada waktu yang sama. Seluruh data ini dihimpun melalui sistem pemodelan dan observasi yang terus berjalan.

Kabupaten dan Kota yang Terdampak Tsunami

Berdasarkan hasil pemodelan BMKG, gempa M7,7 tersebut berpotensi menyebabkan tsunami yang memengaruhi beberapa wilayah. Status siaga (tinggi gelombang antara 0,5 hingga 3 meter) diterapkan di Kabupaten Minahasa, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kota Manado, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, Buol, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Gorontalo, Kepulauan Talaud, Toli-toli, Kota Palu, Donggala, Kota Ternate, dan Kota Bitung.

Di sisi lain, status waspada (tinggi gelombang kurang dari 0,5 meter) diberikan di Kota Tidore, Bulungan, Nunukan, Halmahera, Tarakan, Halmahera Utara, Kutai, Minahasa Selatan, Donggala, Bontang, dan Berau. Wilayah-wilayah ini diperkirakan tidak terkena dampak langsung, namun tetap diawasi untuk memastikan tidak ada peningkatan ancaman.

Episenter gempa bumi terletak di koordinat 5,80° LU; 125,14° BT, yaitu di laut dengan jarak 244 kilometer arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara. Kondisi ini memicu respons BMKG untuk melakukan pemantauan intensif, karena kedalaman gempa yang relatif dangkal, yaitu 47 kilometer, memberi peluang untuk menghasilkan gelombang laut yang signifikan.

Dalam rangka mengurangi risiko, BMKG terus mengupdate informasi terkini melalui serangkaian peringatan dini. Data dari ‘tide gauge’ menjadi alat penting dalam menentukan intensitas gelombang. Meski ketinggian tsunami bervariasi, upaya pencegahan seperti evakuasi terbatas dan pengawasan wilayah pesisir tetap dijalankan untuk meminimalkan kerusakan. Dengan sistem pengumuman yang terstruktur, masyarakat dapat merespons secara tepat sebelum ancaman benar-benar terjadi.

Pada hari yang sama, pukul 06:37:42 WIB, gempa bumi tersebut mengguncang Pantai Selatan Mindanao, Filipina. Guncangan ini diakui sebagai peristiwa tektonik besar yang memicu kekhawatiran akan potensi tsunami. Selama beberapa jam setelah gempa, BMKG melakukan analisis dan mengungkap data ketinggian gelombang di berbagai titik. Hasilnya, Talengan menjadi daerah dengan tsunami tertinggi, yang mencapai 0,75 meter. Kejadian ini memberikan pelajaran penting tentang kecepatan respons dan keakuratan sistem peringatan dini dalam menghadapi bencana alam.

Selain itu, BMKG menyebutkan bahwa wilayah pesisir di sekitar Sulawesi Utara dan Maluku Utara harus tetap waspada. Meskipun peringatan dini keempat telah dikeluarkan, pemantauan terus berlangsung hingga gelombang laut benar-benar reda. Data dari ‘tide gauge’ dan pemodelan tsunami membantu mengambil keputusan akurat, seperti mengakhiri peringatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *