BPOM ungkap penyalahgunaan obat tertentu yang masih mengancam remaja

BPOM Ungkap Penyalahgunaan Obat Tertentu Masih Mengancam Remaja

BPOM ungkap penyalahgunaan obat tertentu – Kasus penyalahgunaan obat-obatan tertentu di Kalimantan Barat (Kalbar) masih menjadi perhatian serius, terutama di kalangan remaja dan pekerja tambang. Dalam kegiatan Aksi Nasional Pencegahan Penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu yang diadakan di Pontianak, Kepala BPOM Pontianak Hariani mengungkapkan bahwa fenomena ini tidak hanya merusak kesehatan individu, tetapi juga berpotensi menciptakan masalah sosial yang lebih luas.

Kasus Penyalahgunaan Obat di Kalbar Meningkat

BPOM Pontianak mencatat bahwa jumlah kasus penyalahgunaan obat tertentu telah mengalami kenaikan signifikan. Sepanjang tahun 2026, terdapat 27 laporan yang diterima dari tujuh kabupaten/kota yang menjadi wilayah kerja BPOM di sana. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2025, yang hanya mencatat 17 kasus. Perubahan ini menunjukkan adanya tren peningkatan penggunaan obat secara tidak wajar, terutama di kota Pontianak yang menjadi pusat utama.

“Remaja sering kali mencoba hal-hal baru sebagai cara mengeksplorasi jati diri, lalu dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan teman-temannya. Mereka tidak sadar kalau penyalahgunaan obat ini bisa merusak diri sendiri, lingkungan, keluarga, bahkan masa depannya,” kata Hariani.

Kerentanan Remaja dan Pekerja Tambang

Menurut Hariani, remaja merupakan kelompok yang paling rentan terhadap penyalahgunaan obat. Mereka cenderung tergoda oleh efek sementara yang ditawarkan obat, seperti rasa kuat atau percaya diri yang meningkat. Sementara itu, pekerja tambang juga menjadi sasaran utama karena kondisi kerja yang melelahkan dan kurangnya hiburan di lokasi tersebut.

“Kondisi kerja yang berat dan minim hiburan membuat para pekerja rentan terhadap peredaran obat-obatan. Pengedar tahu bahwa pasar ini mudah dipengaruhi, karena efek obat memang membuat tubuh terasa lebih bugar secara sementara, tetapi akhirnya menimbulkan ketergantungan dan kerusakan jangka panjang,” katanya.

Kerja berat di tambang sering kali menguras energi fisik dan mental. Akibatnya, banyak pekerja mencari cara untuk mengatasi rasa lelah dan stres melalui obat-obatan tertentu. Ini menciptakan siklus yang berkelanjutan, di mana penggunaan obat yang awalnya hanya sementara bisa menjadi kebiasaan yang mengancam kesehatan jangka panjang.

Peredaran Obat Melalui Jalur Ekspedisi

BPOM Pontianak juga mengungkapkan bahwa obat-obatan yang disalahgunakan masuk ke wilayah Kalbar melalui jasa ekspedisi, bukan melalui jalur perbatasan. Fakta ini menunjukkan bahwa distribusi obat cukup mudah dilakukan, terutama karena kurangnya pengawasan di tingkat lokal.

“Yang menjual ini banyak anak muda juga. Mereka tahu pasar anak muda itu seperti apa. Kadang karena faktor ekonomi, tapi mereka tidak berpikir dampaknya bisa merusak konsumennya,” kata Hariani.

Menurut Hariani, sebagian besar penjual obat adalah individu muda yang secara sengaja menargetkan konsumen sebaya. Mereka memanfaatkan kebutuhan akan fisik kuat dan eksplorasi jati diri remaja sebagai alasan untuk menjual obat secara ilegal. Faktor ekonomi juga berperan, di mana harga obat yang relatif murah menarik minat konsumen yang ingin mencoba efek tertentu.

Respons BPOM untuk Mengatasi Masalah

BPOM Pontianak menekankan perlunya kolaborasi dari berbagai pihak untuk mengurangi penyalahgunaan obat. Hariani menyarankan penguatan pengawasan terhadap penjualan obat keras tanpa resep dokter, serta edukasi yang lebih masif di lingkungan sekolah dan masyarakat.

“Penyalahgunaan obat-obatan tertentu perlu menjadi perhatian bersama karena tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berpotensi memicu persoalan sosial dan kriminalitas,” katanya.

Kebiasaan ini tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga bisa memengaruhi lingkungan sekitar, seperti keluarga dan komunitas. BPOM mengimbau orang tua untuk lebih aktif mengawasi aktivitas anak, termasuk pergaulan dan penggunaan obat. Selain itu, sekolah dianggap sebagai tempat strategis untuk menyampaikan pengetahuan tentang dampak jangka panjang dari penyalahgunaan obat.

Pencegahan dan Edukasi sebagai Solusi

Hariani menyoroti pentingnya pencegahan dini melalui edukasi yang efektif. Ia menjelaskan bahwa kebanyakan kasus penyalahgunaan obat terjadi karena kurangnya kesadaran akan bahaya penggunaannya. Edukasi di tingkat keluarga dan sekolah bisa menjadi benteng pertama sebelum kebiasaan tersebut berkembang.

Masyarakat dihimbau untuk meningkatkan pemantauan terhadap konsumsi obat, terutama di kalangan remaja. BPOM juga berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dapat bekerja sama dalam mengendalikan peredaran obat ilegal. Pengawasan ketat terhadap ekspedisi dan jalur distribusi menjadi langkah penting untuk mengurangi akses obat kepada masyarakat yang rentan.

Kebutuhan Kolaborasi Lintas Sektor

Menurut Hariani, penanganan masalah ini tidak bisa dilakukan secara individu. “Kolaborasi antara BPOM, keluarga, sekolah, pemerintah daerah, dan aparat hukum menjadi kunci dalam memutus mata rantai penyalahgunaan obat,” ujarnya.

Kolaborasi ini diperlukan karena penggunaan obat secara tidak benar sering kali terjadi di luar pengawasan. Dengan edukasi yang lebih menyeluruh dan pengawasan yang ketat, diharapkan angka penyalahgunaan obat dapat ditekan. Hariani juga menyoroti peran media dalam menyebarkan informasi tentang bahaya obat tertentu.

BPOM Pontianak berharap dengan adanya Aksi Nasional pada Mei 2026, masyarakat lebih waspada terhadap risiko penyalahgunaan obat. Ia menegaskan bahwa upaya pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan, karena masalah ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga dengan perubahan perilaku dan pengaruh lingkungan sosial.

Kasus penyalahgunaan obat di Kalbar menjadi peringatan bahwa kebiasaan ini bisa menyebar dengan cepat jika tidak ditangani sejak dini. Dengan kepedulian yang lebih tinggi dari seluruh elemen masyarakat, BPOM yakin bahwa ancaman ini bisa diatasi secara efektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *