Dosen Unej teliti potensi tumbuhan paku pohon jadi bahan baku obat
Dosen Unej Teliti Potensi Tumbuhan Paku Pakis Jadi Bahan Baku Obat
Dosen Unej teliti potensi tumbuhan paku – Di Jember, Jawa Timur, seorang dosen dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember (Unej), Fuad Bahrul Ulum, sedang melakukan penelitian terkait kemungkinan tumbuhan paku pakis menjadi bahan baku obat. Peneliti ini tidak hanya fokus pada observasi pertumbuhan tanaman, tetapi juga mengeksplorasi manfaat kimiawi dari spesies yang dikenal sebagai tumbuhan prasejarah. Berdasarkan hasil kajian, paku pohon memiliki kandungan antioksidan yang tinggi, menjadikannya bahan potensial untuk pengobatan penyakit kanker.
Bakal Menjadi Bahan Baku Obat
Menurut Fuad, keterbatasan penelitian tentang paku pohon sebagai bahan baku obat menjadi alasan utama untuk memulai riset ini. “Minimnya riset mengenai paku pohon sebagai bahan baku obat membuat saya tertarik untuk menggali potensinya lebih dalam,” ujarnya di Jember, Jumat. Dosen yang lulusan Gottingen University Jerman ini bersama tim peneliti dari berbagai institusi perguruan tinggi serta ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan penelitian sejak tahun 2022. Proses investigasi dilakukan secara intensif, termasuk pengambilan sampel dari lingkungan alamiah tanaman tersebut.
“Penelitian saya menyimpulkan bahwa paku pohon tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga potensi terapi dalam bidang kesehatan. Kadar antioksidannya yang tinggi dapat berperan sebagai senyawa penangkal radikal bebas, yang sangat penting dalam proses pengobatan kanker,” tambah Fuad.
Di lapangan, Fuad menemukan bahwa masyarakat sekitar hutan tempat paku pohon tumbuh telah memanfaatkan getah tunas muda dari tanaman ini sebagai obat penumbuh rambut. “Getah tersebut secara tradisional diyakini efektif dalam merangsang pertumbuhan rambut, bahkan ada yang menggunakan campuran bahan alami lainnya untuk meningkatkan hasilnya,” jelasnya. Dengan menemukan penggunaan tradisional ini, peneliti semakin yakin bahwa paku pohon bisa menjadi alternatif bahan obat modern yang ramah lingkungan.
Kolaborasi Peneliti dan Potensi Ekosistem
Penelitian ini tidak hanya melibatkan Fuad sendiri, tetapi juga para rekan sejawat dari lembaga penelitian dan universitas lain. “Kolaborasi dengan BRIN dan institusi pendidikan tinggi lainnya memungkinkan kami memperluas cakupan penelitian, termasuk pengujian klinis yang lebih mendalam,” tuturnya. Selain itu, Fuad juga melibatkan mahasiswa bimbingannya dalam proses pengumpulan data dan analisis. Dengan pendekatan multidisiplin, tim berusaha menggali sisi bioteknologi dan farmakologi dari tumbuhan ini.
Paku pohon, menurut Fuad, merupakan bagian integral dari ekosistem hutan. “Bila paku pohon tumbuh subur, itu berarti lingkungan sekitarnya memiliki ketersediaan air yang cukup serta kepadatan pohon yang optimal,” katanya. Ia menekankan bahwa tanaman ini tidak hanya berguna secara langsung, tetapi juga menjadi pendukung bagi pertumbuhan tanaman lain seperti pakis hingga anggrek. “Paku pohon berperan sebagai penghubung kehidupan flora di dalam hutan, sehingga ekosistemnya menciptakan lingkungan yang seimbang dan kaya akan keanekaragaman hayati,” tambah Fuad.
“Kami juga menemukan bahwa keberadaan paku pohon berkorelasi dengan kualitas tanah dan kelembapan udara di sekitarnya. Ini menunjukkan bahwa tanaman ini bisa menjadi indikator keberlanjutan lingkungan,” lanjutnya.
Penelitian ini menjadi langkah awal dalam mengungkap manfaat tumbuhan yang sering dianggap sepele. Fuad berharap hasilnya bisa memberikan kontribusi nyata dalam bidang kedokteran tradisional dan kefarmasian. “Tujuan utama kami adalah menemukan senyawa aktif dari paku pohon yang bisa dikembangkan menjadi produk obat, baik untuk pengobatan kanker maupun penyakit lainnya,” jelasnya. Selain itu, ia juga ingin meningkatkan kesadaran masyarakat akan nilai-nilai ekologis dan farmakologis dari tanaman ini.
Langkah Selanjutnya dan Harapan
Sejak 2022, Fuad dan tim terus memperluas jaringan penelitian, termasuk melibatkan laboratorium lokal dan pusat riset nasional. “Kami sedang mengembangkan metode ekstraksi yang lebih efisien untuk mengisolasi senyawa aktif dari paku pohon. Teknik ini juga dirancang agar ramah lingkungan dan tidak merusak keberlanjutan ekosistem hutan,” katanya. Dengan pendekatan ini, ia ingin memastikan bahwa penggunaan paku pohon sebagai bahan obat tidak hanya efektif, tetapi juga berkelanjutan.
Di sisi lain, Fuad juga berencana melibatkan masyarakat setempat dalam proses penelitian. “Keterlibatan masyarakat sangat penting karena mereka memiliki pengetahuan tradisional yang bisa memperkaya hasil riset kami. Kami ingin menggabungkan ilmu pengetahuan modern dengan pengalaman lokal,” tuturnya. Hal ini diharapkan dapat menciptakan solusi yang lebih holistik dalam pengembangan obat alami.
“Jika berhasil, kami bisa menghasilkan bahan baku obat yang bisa diproduksi secara skala besar, sekaligus menjaga keanekaragaman hayati hutan. Ini merupakan langkah penting dalam menghadapi tantangan kesehatan dan lingkungan di masa depan,” pungkas Fuad.
Dengan penelitian ini, Fuad berharap bisa memberikan kontribusi baru dalam bidang fitofarmasi, terutama dalam mengatasi kebutuhan akan bahan baku obat yang ramah lingkungan. “Paku pohon adalah bagian dari kekayaan alam Indonesia, dan kita perlu mengeksplorasinya secara lebih mendalam,” tambahnya. Selain itu, ia juga ingin membangun kerja sama internasional guna menyebarluaskan hasil riset ini ke berbagai negara.
Keterlibatan dalam proyek ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ilmiah, tetapi juga memperkuat hubungan antara akademisi, lembaga riset, dan komunitas lokal. “Kami ingin menciptakan ekosistem kolaborasi yang saling mendukung, sehingga penelitian ini bisa berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” pungkas Fuad. Dengan konsep ini, penelitian terus berjalan dalam upaya menjawab tantangan kesehatan dan ekologis secara bersamaan.