Kebakaran Kampung Adat Sade: Panggilan Darurat untuk Perlindungan Warisan Budaya Sasak
Pemandanganindah.com – DPR – Kawasan permukiman adat di Indonesia kerap menghadapi ancaman kebakaran yang belum sepenuhnya terantisipasi oleh sistem mitigasi yang memadai. Ketika api melahap bangunan-bangunan di Kampung Adat Sade, Nusa Tenggara Barat, persoalan yang muncul bukan sekadar kerusakan fisik, melainkan luka mendalam pada identitas kolektif masyarakat Sasak yang telah mewariskan nilai-nilai budayanya lintas generasi. Tragedi ini kini menjadi sorotan parlemen dan memicu desakan agar negara tidak hanya merespons pascabencana, tetapi juga memperkuat arsitektur pencegahan secara menyeluruh.
Dimensi Identitas yang Terbakar
Bagi masyarakat Sasak, Sade bukan sekadar deretan rumah panggung di lereng perbukitan. Kampung adat ini menyimpan lapisan sejarah, ritual, dan praktik budaya yang diwariskan turun-temurun. Kehilangan bangunan berarti kehilangan ruang di mana memori kolektif hidup dan diwariskan. Saadiah Uluputty, anggota Komisi XIII DPR RI, menegaskan bahwa dimensi ini tidak boleh direduksi menjadi persoalan infrastruktur semata.
“Yang terbakar bukan hanya bangunan. Ada rumah, ada kenangan, ada sejarah, ada warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, negara harus hadir.”
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa pemulihan pasca-kebakaran di kawasan adat menuntut pendekatan yang melampaui sekadar membangun ulang struktur fisik. Keberlangsungan kehidupan sosial, pelestarian nilai adat, dan keberlanjutan fungsi budaya kampung harus menjadi parameter utama dalam setiap langkah rehabilitasi.
Tuntutan Transparansi Penyelidikan
Di tengah duka kolektif, Saadiah menekankan bahwa masyarakat berhak memperoleh jawaban yang jelas mengenai penyebab kebakaran. Ia menolak narasi yang menutupi pertanyaan publik dengan kesimpulan terburu-buru, baik yang menuding faktor kelistrikan, kelalaian individu, maupun penyebab lain tanpa bukti forensik yang memadai.
“Saya meminta agar penyebab kebakaran Desa Adat Sade diusut tuntas. Jangan sampai setelah api padam, pertanyaan masyarakat justru dibiarkan tanpa jawaban.”
Ia menyerukan agar proses investigasi dijalankan secara profesional, transparan, objektif, dan berbasis bukti. Apabila diperlukan, pemeriksaan laboratorium forensik harus dilibatkan untuk memastikan bahwa setiap kesimpulan yang disampaikan kepada publik dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan penyebabnya. Apakah faktor kelistrikan, kelalaian, atau faktor lainnya, semuanya harus dibuktikan melalui penyelidikan yang profesional. Masyarakat berhak mengetahui kebenarannya.”
Arus Penyelidikan yang Berlangsung
Sampai saat ini, aparat kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara dengan melibatkan tim Inafis. Tim tersebut bertugas mengumpulkan barang bukti, mendokumentasikan kondisi lokasi, serta meminta keterangan dari saksi dan warga terdampak. Penyebab pasti kebakaran masih dalam tahap penyelidikan dan belum dapat dipastikan secara definitif.
Rekomendasi Penguatan Sistem Pencegahan
Saadiah memandang bahwa tragedi di Sade harus menjadi titik balik untuk memperkuat seluruh rantai pencegahan dan mitigasi kebakaran, terutama di kawasan permukiman adat yang sekaligus berfungsi sebagai destinasi wisata budaya. Ia merinci beberapa pilar penguatan yang perlu segera diimplementasikan:
Pertama, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat setempat melalui pelatihan rutin dan simulasi evakuasi. Kedua, pemetaan risiko kebakaran yang komprehensif untuk mengidentifikasi titik-titik kerentanan di permukiman adat. Ketiga, penyediaan sarana dan prasarana penanganan kebakaran yang memadai dan mudah diakses. Keempat, penguatan koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, pengelola destinasi wisata, masyarakat adat, dan pemangku kepentingan terkait.
“Kita berduka untuk Sade, tetapi dari duka ini harus lahir evaluasi dan pembenahan. Jangan sampai kejadian serupa terulang di kawasan adat lainnya.”
Langkah-langkah tersebut bukan hanya soal keselamatan jiwa, tetapi juga perlindungan terhadap aset budaya yang menjadi daya tarik wisata dan sumber penghidupan masyarakat sekitar. Kerentanan infrastruktur permukiman adat terhadap kebakaran telah lama menjadi persoalan struktural yang memerlukan intervensi kebijakan berkelanjutan, bukan sekadar respons reaktif setelah bencana terjadi.
Pemulihan yang Melampaui Bangunan
Saadiah mengingatkan agar pemerintah tidak membatasi perannya pada pembangunan kembali secara fisik semata. Pemulihan yang bermakna harus memperhatikan keberlangsungan kehidupan sosial masyarakat Sade serta kelestarian nilai adat dan budaya yang melekat pada kawasan tersebut. Tanpa pendekatan holistik, risiko terbesar bukanlah kebakaran berikutnya, melainkan hilangnya makna dan fungsi budaya yang membuat Sade eksis sebagai entitas hidup, bukan sekadar rekonstruksi arsitektural.
Tragedi di Sade kini menjadi ujian bagi komitmen negara dalam melindungi warisan budaya sekaligus menjamin keselamatan warganya. Jawaban yang diberikan—baik dalam bentuk investigasi yang transparan, pencegahan yang sistematis, maupun pemulihan yang menghormati identitas budaya—akan menentukan apakah duka ini benar-benar melahirkan perubahan, atau sekadar menjadi catatan lain dalam daftar bencana yang berulang tanpa pembelajaran.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is DPR?
DPR is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does DPR matter?
DPR matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

