Guru besar UI : Tekstologi Jawa pilar penting revitalisasi budaya
Revitalisasi Budaya Melalui Teknologi Jawa: Pandangan Prof. Darmoko
Guru besar UI – Depok, Senin – Profesor Darmoko, seorang Guru Besar Tetap Universitas Indonesia (UI) di Ranting Ilmu Filologi Sastra Jawa Kuno, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), menyatakan bahwa teknologi Jawa memiliki peran sentral dalam upaya memperkuat kehidupan budaya. Dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar di kota Depok, ia menekankan bahwa teks-teks Jawa tidak hanya sebagai bahan bacaan, tetapi juga menjadi alat penting dalam membangun identitas nasional dan mengembangkan karakter bangsa yang beradab.
Teori Tekstologi: Mempertahankan Nilai Budaya
Menurut Prof. Darmoko, tekstologi Jawa adalah cabang ilmu yang mempelajari sejarah, otentisitas, serta variasi teks dalam konteks budaya Jawa. Ia menjelaskan bahwa disiplin ini memiliki fungsi krusial dalam memperkuat nilai-nilai luhur yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Indonesia. “Tekstologi membantu menyelenggarakan pendidikan empati serta memperkaya pemahaman tentang warisan budaya lokal,” katanya dalam wawancara eksklusif. Penekanan pada empati ini, menurut Darmoko, adalah kunci dalam menjaga keharmonisan antara generasi muda dan tradisi lama yang sering kali terabaikan di tengah perubahan zaman.
“Tekstologi, sebagai ilmu yang mempelajari sejarah, otentisitas, dan varian teks, berperan krusial dalam pembangunan karakter bangsa melalui pelestarian nilai luhur, penanaman empati, dan penguatan identitas budaya,” ujarnya.
Profesor ini juga menyoroti bahwa nilai-nilai Jawa, seperti kearifan lokal dan prinsip-prinsip hidup yang berdasarkan kesabaran, kebersamaan, serta keharmonisan, bisa dipertahankan melalui pendekatan modern. “Kajian akademis terhadap teks-teks Jawa tidak hanya menjaga otentisitasnya, tetapi juga membantu menyelaraskan antara tradisi dan kebutuhan masyarakat saat ini,” tambahnya. Ia menambahkan bahwa penerapan teknologi dalam revitalisasi budaya bisa mengurangi risiko kepunahan teks-teks yang sudah ada sejak berabad-abad lalu.
Revitalisasi Naskah Kuno: Strategi Dalam Perubahan
Prof. Darmoko menggarisbawahi urgensi revitalisasi naskah-naskah kuno sebagai bagian dari teknologi Jawa. Ia menjelaskan bahwa naskah-naskah ini, yang berupa sastra lama seperti Kawi, Sanskerta, atau bahasa daerah lainnya, perlu disesuaikan dengan konteks zaman modern agar tetap relevan. “Dengan mengkaji dan menyajikan teks sastra secara akurat, kita bisa memastikan bahwa warisan budaya Jawa tidak hanya disimpan, tetapi juga dimaknai secara mendalam oleh generasi berikutnya,” kata Darmoko.
Menurutnya, revitalisasi naskah kuno tidak terbatas pada perawatan fisik, tetapi juga melibatkan transformasi bentuk dan alih wahana ke medium baru. “Misalnya, teks yang awalnya ditulis pada papyrus atau kertas bisa diubah menjadi bentuk digital, sehingga lebih mudah diakses dan disebarkan ke berbagai kalangan,” imbuhnya. Ia menekankan bahwa inisiatif seperti ini bisa membuka peluang baru untuk menarik minat generasi muda terhadap budaya Jawa.
“Dengan mengkaji dan menyajikan teks sastra secara akurat, tekstologi memfasilitasi internalisasi moral, sejarah, dan kearifan lokal yang membentuk kepribadian bangsa yang beradab dan berkarakter,” ujarnya.
Pentingnya Keakuratan dalam Pelestarian Budaya
Prof. Darmoko menjelaskan bahwa keakuratan dalam mengkaji teks sastra adalah prinsip utama dalam tekstologi Jawa. Ia mengatakan, jika teks-teks tersebut tidak dijaga dari penyimpangan atau distorsi, maka makna dan nilai yang terkandung bisa hilang. “Kita harus memastikan bahwa teks-teks Jawa tidak hanya menjadi hiasan, tetapi juga menjadi bahan pembelajaran yang bermakna bagi masyarakat,” katanya.
Menurutnya, teknologi juga membantu mengidentifikasi variasi-variasi teks yang ada. Dengan metode digital dan analisis data, para peneliti bisa mengklasifikasikan teks-teks Jawa sesuai dengan konteks sejarahnya, sehingga tidak hanya mempertahankan bentuk asli, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang perjalanan budaya tersebut. “Ini penting karena kita hidup di tengah dunia yang semakin cepat berubah, dan tanpa teknologi, budaya Jawa bisa terabaikan,” ujarnya.
Keterkaitan dengan Identitas Nasional
Profesor ini menambahkan bahwa pelestarian teks Jawa memiliki implikasi besar terhadap pembentukan identitas nasional. Ia menyoroti bahwa budaya Jawa tidak hanya meliputi seni dan sastra, tetapi juga nilai-nilai sosial yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Indonesia. “Tekstologi Jawa tidak hanya membantu menulis sejarah, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya budaya dalam menjaga keberagaman bangsa,” kata Darmoko.
Menurutnya, masyarakat modern cenderung mengabaikan budaya lokal karena terlalu fokus pada pengaruh global. Oleh karena itu, teknologi Jawa harus menjadi pilar utama dalam mengembangkan budaya yang tetap relevan. “Kita perlu menciptakan keterhubungan antara teks tradisional dan kebutuhan zaman sekarang, agar budaya Jawa bisa bertahan dalam lingkungan yang semakin kompetitif,” imbuhnya. Ia mencontohkan bahwa teks-teks Jawa bisa diintegrasikan ke dalam pendidikan sekolah, media sosial, atau bahkan pertunjukan digital untuk memastikan bahwa budaya tersebut tetap hidup dalam masyarakat.
Tantangan dan Peluang di Tengah Perkembangan Teknologi
Meski teknologi memberikan banyak peluang, Prof. Darmoko juga menyadari bahwa ada tantangan yang perlu diatasi. Salah satu tantangan utamanya adalah kesenjangan antara teks tradisional dan gaya komunikasi modern. “Kita harus menemukan cara yang tepat agar teks Jawa tidak hanya terlihat kuno, tetapi juga menarik bagi kalangan yang menghargai keindahan bahasa dan budaya,” katanya. Ia menekankan bahwa teknologi bisa menjadi jembatan, bukan pengganti, dalam mempertahankan makna budaya.
Menurut Darmoko, revitalisasi teks Jawa juga memerlukan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, serta masyarakat. “Tidak cukup hanya mempelajari teks dari sisi akademis, tetapi juga perlu diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya. Ia berharap bahwa dengan pendekatan yang tepat, teknologi Jawa bisa menjadi alat utama dalam menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Indonesia. “Budaya adalah identitas kita, dan teknologi harus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan identitas tersebut,” tutupnya.
Sebagai akibat dari pandangan ini, Prof. Darmoko menyarankan bahwa institusi pendidikan, seperti UI, harus terus berperan dalam mengembangkan disiplin tekstologi Jawa