Kirab Ancak Agung di Jember kembali pecahkan rekor MURI

3 hours ago  ·  4 min read
By Matthew Gonzalez - pemandanganindah.com

867 Ancak Berarak di Jember, Rekor MURI Kembali Tergeser

Pemandanganindah.com – Alun-Alun Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu sore, berubah menjadi lautan warna dan aroma rempah ketika ratusan gunungan ancak berbaris menyusuri Jalan Gajahmada menuju pusat kota. Pemerintah Kabupaten Jember kembali mencatatkan namanya di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) lewat Kirab Ancak Agung yang melibatkan 867 ancak sekaligus. Angka itu melampaui rekor sebelumnya yang juga dipegang Jember, yakni 449 ancak, sehingga posisi pemegang rekor terbanyak kini kembali jatuh ke tangan kota di ujung timur Pulau Jawa tersebut.

Rekor yang Terus Tergeser

Ancak merupakan susunan hasil bumi—beras, sayur, buah, lauk, dan perlengkapan rumah tangga—yang disusun menyerupai gunungan wayang. Tradisi ini lazim hadir dalam upacara keagamaan Jawa, terutama peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, sebagai ungkapan syukur dan doa kolektif. Ketika ribuan gunungan kecil berbaris dalam satu formasi panjang, skala visualnya menjadi luar biasa dan sulit ditandingi oleh daerah lain.

Senior Representative MURI Ari Andriani yang hadir langsung di lokasi mengonfirmasi pemecahan rekor tersebut.

“Jumlah tersebut kembali memecahkan rekor yang sebelumnya juga dicatatkan Jember sebanyak 449 ancak agung dan tahun ini sebanyak 867 ancak, sehingga menjadi yang terbanyak.”

Di samping kirab ancak, satu rekor tambahan turut dicatatkan pada hari yang sama. Sebanyak 1.600 bungkus suwar-suwir—makanan ringan khas Jember yang terbuat dari tepung beras goreng berbumbu—disusun menumpuk hingga mencapai ketinggian 3,7 meter. Kombinasi dua rekor dalam satu acara menegaskan posisi Jember sebagai salah satu pusat tradisi keagamaan berskala massal di Jawa Timur.

Dua Momentum, Satu Panggung

Kirab Ancak Agung tahun ini tidak berdiri sendiri sebagai perayaan tunggal. Acara tersebut dirancang untuk menyatukan dua momentum besar: peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tema yang diangkat, “Melestarikan Tradisi, Menguatkan Ukhuwah, Mengangkat Marwah Jember”, secara eksplisit menempatkan pelestarian budaya lokal berdampingan dengan penguatan ikatan sosial antarkelompok warga.

Pilihan untuk menggabungkan dua peringatan dalam satu panggung publik bukan tanpa alasan. Maulid menekankan dimensi spiritual dan persaudaraan umat, sementara HUT RI mengingatkan kembali pada komitmen kebangsaan. Ketika keduanya bertemu dalam satu prosesi arak-arakan, pesan yang disampaikan menjadi berlapis: cinta tanah air tidak dipisahkan dari cinta kepada sesama, dan tradisi lokal tidak dilepaskan dari identitas nasional.

Pesan Bupati dan Solidaritas Lintas Batas

Bupati Jember Muhammad Fawait hadir di tengah prosesi dan menyampaikan pesan yang menyatukan kedua peringatan tersebut.

“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan HUT Kemerdekaan RI sama-sama membawa pesan penting tentang persaudaraan, kecintaan terhadap tanah air, serta kepedulian terhadap sesama.”

Yang menarik perhatian pengamat adalah detail kecil namun bermakna: Fawait mengenakan syal bercorak bendera Indonesia dan Palestina. Langkah itu ia jelaskan sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan kemanusiaan bangsa Palestina.

“Sikap tersebut sejalan dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa kemerdekaan merupakan hak segala bangsa.”

Pernyataan tersebut menempatkan solidaritas internasional dalam kerangka konstitusional Indonesia, bukan sekadar ekspresi politik sesaat. Dalam konteks di mana isu Palestina terus menjadi perhatian publik di berbagai kota Indonesia, gestur seorang kepala daerah di panggung acara keagamaan lokal memberi sinyal bahwa empati kemanusiaan tetap hidup di tingkat komunitas, bukan hanya di level diplomasi.

Partisipasi Massal dan Pembagian Hasil Bumi

Kedelapan ratus enam puluh tujuh peserta ancak yang berbaris di Jalan Gajahmada bukan berasal dari satu kelompok tunggal. Mereka mewakili spektrum luas: organisasi perangkat daerah (OPD), puskesmas, kelurahan, desa, sekolah, hingga lembaga kemasyarakatan. Keragaman unsur ini menjadikan kirab bukan sekadar parade simbolik, melainkan potret nyata dari jaringan sosial yang mengikat seluruh lapisan pemerintahan dan masyarakat sipil di tingkat lokal.

Setelah seluruh rangkaian didokumentasikan oleh tim MURI, ratusan gunungan tersebut langsung diperebutkan warga yang telah menunggu sejak siang hari di Alun-Alun Jember. Hasil bumi yang menjadi bagian dari ancak—beras, sayur, buah, dan lauk—habis dibagikan kepada masyarakat dalam hitungan menit. Momen perebutan itu sendiri menjadi bagian dari tradisi: warga percaya bahwa membawa pulang sepotong hasil bumi dari ancak membawa berkah dan doa yang terkandung di dalamnya.

Dengan demikian, Kirab Ancak Agung di Jember bukan hanya soal angka rekor. Ia adalah mekanisme sosial yang mengubah ritual keagamaan menjadi ruang temu lintas kelompok, sekaligus menjadi pengingat bahwa tradisi yang dirawat bersama mampu mengokohkan kohesi komunitas di tengah dinamika kehidupan modern.

Frequently Asked Questions

What is Kirab Ancak Agung di Jember kembali?

Kirab Ancak Agung di Jember kembali is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kirab Ancak Agung di Jember kembali matter?

Kirab Ancak Agung di Jember kembali matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category