Latest Program: Khofifah raih penghargaan Persagi atas percepatan penurunan stunting
Khofifah Mendapat Apresiasi Persagi atas Kemajuan Penurunan Stunting di Jawa Timur
Latest Program – Pada hari Sabtu, di Surabaya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima penghargaan dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) atas pencapaian program percepatan penurunan stunting. Capaian ini menunjukkan penurunan signifikan dalam angka prevalensi stunting hingga 14,7 persen pada 2024, dibandingkan 17,7 persen pada 2023. Pemimpin Provinsi Jawa Timur ini mengungkapkan kebanggaannya atas penghargaan tersebut, yang menurutnya menjadi bukti komitmen daerah dalam mengatasi masalah gizi buruk.
“Alhamdulillah, komitmen Jatim dalam percepatan penurunan stunting terus menunjukkan hasil positif. Dan kami bersyukur bahwa kami hari ini menerima penghargaan dari Persagi,”
Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas upaya Khofifah dalam memimpin kerja sama lintas sektor dan menerapkan berbagai inovasi kebijakan yang berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup anak-anak di Jawa Timur. Persagi menyatakan bahwa Khofifah menjadi contoh nyata dalam menggerakkan kolaborasi yang efektif. “Bukan hanya untuk kami, penghargaan ini saya juga sebagai apresiasi untuk seluruh stakeholder yang selama ini memiliki komitmen yang sama untuk terus menurunkan angka prevalensi stunting di Jatim,”
Pengurangan Stunting Berhasil Turunkan Angka di Pulau Jawa
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, jumlah anak yang mengalami stunting di Jawa Timur berhasil menurun dari 17,7 persen pada tahun sebelumnya menjadi 14,7 persen. Hasil ini menempatkan provinsi dengan ibu kota Surabaya sebagai provinsi dengan angka stunting terendah di Pulau Jawa, serta menempati peringkat kedua secara nasional setelah Bali. Capaian ini dianggap sebagai langkah strategis dalam mengarahkan masyarakat menuju kesehatan optimal.
Komitmen Jatim dalam menurunkan stunting tidak hanya berupa kebijakan, tetapi juga implementasi yang berkelanjutan. Upaya ini melibatkan keterlibatan berbagai institusi pemerintah, organisasi masyarakat, serta peran aktif masyarakat luas. “Keberhasilan Jatim menurunkan angka prevalensi stunting ini dilakukan oleh banyak pihak, bersama-sama bergandengan tangan nyengkuyung, mulai dari Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, TP PKK Jatim, BKKBN, DP3AK, dan Perindag,”
Inovasi Kebijakan untuk Percepatan Penurunan Stunting
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperkenalkan sejumlah inovasi yang menjadi pendorong utama dalam menekan angka stunting. Salah satu inisiatif utama adalah konseling gizi langsung ke rumah warga, yang memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi secara mendalam. Selain itu, program pendampingan khusus bagi ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis juga diterapkan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi sejak awal kehamilan.
Khofifah menjelaskan bahwa upaya ini tidak terbatas pada sektor kesehatan, melainkan mencakup pendekatan holistik. “Beberapa langkah inovatif telah diambil untuk dapat menurunkan angka stunting, tidak hanya bagi ibu hamil tetapi juga ada inovasi yang memberikan pembekalan bagi para calon pengantin, ini salah satu langkah antisipatif yang dilakukan agar calon pengantin paham sehingga mereka bisa menjaga, mencegah sejak sebelum kehamilan terjadi,”
Kerja Sama dan Penguatan Sistem Pelayanan Gizi
Di samping inovasi di tingkat kebijakan, Khofifah juga menekankan pentingnya sinergi antar instansi dalam menciptakan sistem pelayanan yang terpadu. “Banyak inovasi yang dilakukan untuk dapat menurunkan angka stunting, tidak hanya bagi ibu hamil tetapi juga ada inovasi yang memberikan pembekalan bagi para calon pengantin, ini salah satu langkah antisipatif yang dilakukan agar calon pengantin paham sehingga mereka bisa menjaga, mencegah sejak sebelum kehamilan terjadi,”
Kerja sama lintas sektor ini mencakup unit-unit seperti Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan lembaga-lembaga terkait lainnya. Dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, program penurunan stunting menjadi lebih efektif dalam mencapai target nasional. Khofifah menambahkan bahwa peningkatan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memerlukan tenaga ahli gizi yang kompeten dan terverifikasi agar mutu pelayanan tetap terjaga.
“Memang setiap SPPG ada di bawah pengawasan dari ahli gizi yang sesuai klasifikasi dan terverifikasi, tidak berarti 1 SPPG 1 ahli gizi tapi bisa 1 ahli gizi memberikan pengawasan untuk beberapa SPPG,”
Khofifah menjelaskan bahwa keberadaan sumber daya manusia yang terlatih dan memiliki keahlian khusus menjadi faktor penting dalam keberhasilan program. “Para ahli gizi, menjadi ujung tombak bagaimana pemenuhan gizi di setiap menu MBG yang disajikan,”
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai Sarana Pemenuhan Gizi
Khofifah menyoroti peran kritis para ahli gizi dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai solusi untuk menangani stunting. Kebijakan ini memberikan akses makanan bergizi kepada anak-anak di berbagai wilayah, dengan fokus pada