NU Care-LAZISNU hidupkan kembali gerakan “Palestina Fonds”

1 hour ago  ·  4 min read
By Sarah Jackson - pemandanganindah.com
khrisna-edit-1788092453-0d243fe949

Palestina Fonds 2.0: NU Menggali Ulang Warisan Kemanusiaan Berusia Hampir Sepuluh Dekade

Pemandanganindah.com – Di tengah hiruk-pikuk agenda Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Jombang, Jawa Timur, satu agenda kemanusiaan mendapat sorotan tersendiri. NU Care-LAZISNU, lembaga filantropi di bawah naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), secara resmi mengaktifkan kembali program penggalangan dana untuk rakyat Palestina yang pertama kali digulirkan pada tahun 1938. Peluncuran versi baru ini diberi nama Palestina Fonds 2.0, menandai kelanjutan solidaritas organisasi yang telah berlangsung selama hampir sembilan dekade.

Akar Historis: Menes, Banten, dan Semangat 1938

Jejak awal gerakan ini tertanam dalam Muktamar ke-13 NU yang digelar di Menes, Banten, pada tahun 1938. Saat itu, KH Abdul Wahab Chasbullah — yang kelak dikenal sebagai salah satu arsitek utama organisasi — menginisiasi penggalangan dana khusus untuk meringankan penderitaan rakyat Palestina dan menopang perjuangan kemerdekaan mereka. Inisiatif tersebut dilakukan atas restu KH M Hasyim Asy’ari, pendiri NU sekaligus tokoh sentral dalam sejarah organisasi.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Ginanjar Sya’ban, menekankan bahwa komitmen NU terhadap nasib Palestina bukan fenomena baru, melainkan benang merah yang telah terjalin jauh sebelum Republik Indonesia sendiri merdeka. Ia menyebut peristiwa di Menes sebagai salah satu tonggak paling krusial dalam sejarah organisasi.

“Salah satu tonggak pentingnya terjadi dalam Muktamar NU di Menes, Banten, pada 1938, yang diinisiasi oleh KH Abdul Wahab Hasbullah atas restu KH M Hasyim Asy’ari.”

Ginanjar menambahkan bahwa pengaktifan kembali Palestina Fonds dalam konteks Muktamar ke-35 memiliki dimensi historis yang kuat. Bagi para pengurus, langkah ini bukan sekadar program filantropi rutin, melainkan upaya menghidupkan kembali semangat yang ditanam oleh para pendiri organisasi.

“Gerakan ini seperti mengulang kembali semangat yang pernah dibangun para pendiri NU dalam memberikan dukungan kepada Palestina. Kita seolah dejavu, karena lokasinya berada di Jombang.”

Dimensi Kemanusiaan dan Jaringan Penyaluran

Ketua LAZISNU PBNU, Habib Ali Hasan Al Bahar, menegaskan bahwa dukungan terhadap rakyat Palestina akan terus berlanjut tanpa henti, baik dalam bentuk bantuan materiil maupun dukungan moral. Ia menyebut KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai tokoh yang sejak awal memberikan perhatian istimewa terhadap nasib bangsa Palestina, dan menyatakan bahwa organisasi tidak akan berhenti membantu.

“Ketika berbicara terkait Palestina, almarhum Mbah Wahab itu salah satu tokoh yang sudah memberikan perhatian istimewa kepada Palestina. Dan kita tidak akan berhenti membantu Palestina.”

Dari sisi operasional, LAZISNU telah membangun jaringan mitra internasional yang memungkinkan penyaluran bantuan melewati beberapa jalur negara. Habib Ali merinci bahwa akses logistik tersedia melalui Mesir, Turki, dan Yordania, serta melalui mitra yang beroperasi langsung di dalam wilayah Palestina. Ia menyatakan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan masyarakat untuk menyalurkan amanah tersebut.

“Kami bersyukur LAZISNU memiliki akses untuk menyalurkan bantuan kepada Palestina itu melalui Mesir, Turki, Yordania, bahkan melalui mitra di dalam Palestina itu sendiri. Dan alhamdulillah kami mendapatkan banyak amanah tersebut.”

Bantuan yang dihimpun dari Indonesia diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan material mendesak, tetapi juga mengirimkan pesan moral bahwa komunitas Muslim Nusantara tetap hadir di sisi saudara mereka yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan.

“Sedikit yang kita berikan tentu tidak sedikit bagi saudara-saudara kita di Palestina. Itu akan besar dan dianggap suatu dukungan moral dan materi. Mudah-mudahan menjadi keberkahan buat kita.”

Momen Peluncuran dan Deklarasi

Revitalisasi Palestina Fonds ditandai secara formal melalui pembacaan deklarasi Palestina Fonds 2.0. Acara tersebut berlangsung dalam rangkaian Silaturahim Nasional (Silatnas) LAZISNU Sedunia yang diselenggarakan di Aula Pondok Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang. Pemilihan lokasi di Jombang — kota yang juga menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 — memberikan resonansi simbolis tersendiri, mengingat Jombang telah lama menjadi pusat gravitasi keilmuan dan organisasi NU.

Jarak waktu antara penggalangan dana pertama tahun 1938 dan peluncuran kembali pada Muktamar ke-35 mencapai 88 tahun. Selama rentang waktu tersebut, kondisi di Palestina telah berubah secara dramatis, namun esensi solidaritas yang ingin dihidupkan kembali tetap sama: memastikan bahwa suara dan kebutuhan rakyat Palestina tidak tenggelam dalam dinamika geopolitik global. Dengan mengaktifkan kembali mekanisme penggalangan dana yang telah teruji secara historis, NU Care-LAZISNU berupaya menjembatani warisan moral para pendiri organisasi dengan kebutuhan kemanusiaan kontemporer, sekaligus menegaskan bahwa solidaritas lintas generasi bukan sekadar retorika, melainkan komitmen operasional yang terus berjalan.

Frequently Asked Questions

What is NU Care LAZISNU hidupkan kembali gerakan?

NU Care LAZISNU hidupkan kembali gerakan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does NU Care LAZISNU hidupkan kembali gerakan matter?

NU Care LAZISNU hidupkan kembali gerakan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category