Topics Covered: Badan Bahasa: Pembelajaran bahasa Indonesia sudah ada di 61 negara

Program BIPA Di Seluruh Dunia

Topics Covered – Di tengah semaraknya globalisasi, Bahasa Indonesia terus menunjukkan perannya sebagai alat komunikasi lintas budaya. Saat ini, pendidikan bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) telah menjangkau 61 negara, menurut pernyataan Hafidz Muksin, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), dalam Konferensi Internasional Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (Adobsi) 2026. Acara tersebut diadakan di Kantor Balai Bahasa Jawa Tengah dengan tema “Transformasi Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Pendidikan dan Teknologi: Perspektif Interdisipliner.” Hafidz menegaskan bahwa Badan Bahasa terus berkomitmen untuk memperluas akses belajar bahasa Indonesia, baik melalui metode tatap muka maupun online.

Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa jumlah lembaga yang menyelenggarakan program BIPA telah mencapai lebih dari 770, termasuk yang dikelola oleh KBRI, perguruan tinggi dalam negeri, maupun lembaga luar negeri. “Tidak hanya institusi pendidikan, kita juga bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan program ini berjalan optimal,” kata Hafidz. Tidak hanya itu, ia menambahkan bahwa Badan Bahasa melakukan seleksi ketat terhadap pengajar BIPA, sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), agar kualitas pengajaran tetap terjaga.

“Saat ini, sudah ada 61 negara yang memiliki program BIPA. Kami terus memperluas jaringan pengajar dan memastikan modul pembelajaran disesuaikan dengan perkembangan teknologi,” ujarnya.

Program BIPA tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga alat untuk memperkuat keberadaan Bahasa Indonesia di tingkat internasional. Hafidz menekankan bahwa Badan Bahasa aktif dalam menyediakan pengajar yang terpilih, baik dari dalam maupun luar negeri. “Kami menyediakan pengajar BIPA yang diseleksi secara ketat, sehingga memastikan peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang berkualitas,” tambahnya. Dengan pendekatan ini, Badan Bahasa berupaya menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan masyarakat global.

Inisiatif Kolaboratif Badan Bahasa

Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan pengembangan BIPA. Badan Bahasa bekerja sama dengan Afiliasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (APPBIPA) untuk meningkatkan kualitas program tersebut. “Kerja sama dengan APPBIPA memungkinkan kami menjangkau lebih banyak institusi, termasuk di luar negeri,” kata Hafidz. Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan perguruan tinggi Indonesia, serta partisipasi mahasiswa asing yang semakin aktif dalam mempelajari bahasa.

“Kami berharap bisa menambah sekitar tiga atau empat negara sasaran baru dalam tahun ini. Ini adalah langkah strategis untuk membuat Bahasa Indonesia semakin dikenal secara internasional,” ujarnya.

Salah satu contoh nyata pertumbuhan minat belajar Bahasa Indonesia adalah Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir, yang telah membuka program studi bahasa dan sastra Indonesia. “Di semester pertama tahun 2025, lebih dari 300 mahasiswa mendaftar program tersebut. Ini menunjukkan keinginan global untuk memahami bahasa Indonesia lebih dalam,” jelas Hafidz. Ia menyoroti bahwa minat belajar bahasa Indonesia tidak hanya berasal dari negara-negara Asia Tenggara, tetapi juga beragam wilayah lain di dunia.

Di sisi lain, Bahasa Indonesia kini mendapat pengakuan resmi dalam forum internasional. Menurut Hafidz, Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa resmi di sidang UNESCO, sebuah lembaga besar yang berperan dalam pengembangan pendidikan dan kebudayaan global. Selain itu, ia menyebutkan bahwa Bahasa Indonesia juga diakui sebagai bahasa resmi ke-57 di Vatican News, media keagamaan yang menyasar umat Katolik di seluruh dunia. “Dengan menjadi bahasa resmi di UNESCO dan Vatican News, kita bisa melihat bahwa Bahasa Indonesia semakin dikenal sebagai alat komunikasi lintas budaya dan agama,” tuturnya.

“Artinya, masyarakat dunia yang biasa mengikuti berita atau pesan dari Paus sudah mengenali bahwa Bahasa Indonesia bisa menjadi sarana komunikasi yang efektif. Ini adalah peluang besar yang harus kita manfaatkan,” katanya.

Dalam perspektif teknologi, Badan Bahasa terus berinovasi dengan menyediakan platform laman BIPA daring, yang bisa diakses oleh peserta didik di berbagai belahan dunia. “Modul ajar kami terus diperbaiki dan diperbaharui, agar sesuai dengan standar, kualitas, dan variasi yang dibutuhkan,” kata Hafidz. Ia menyatakan bahwa adaptasi terhadap teknologi menjadi strategi penting untuk memperluas akses dan meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Menurut Hafidz, langkah-langkah yang telah diambil tidak hanya mencerminkan keseriusan Badan Bahasa, tetapi juga menunjukkan potensi Bahasa Indonesia sebagai bahasa global. “Dengan 61 negara yang menyelenggarakan program BIPA dan penggunaan bahasa dalam forum internasional, kita bisa melihat bahwa Bahasa Indonesia semakin berperan dalam kehidupan global,” tambahnya. Ia berharap ke depan, jumlah negara yang menerapkan BIPA akan terus bertambah, serta kualitas pengajaran tetap terjaga melalui kolaborasi yang lebih intensif.

Perluasan BIPA juga diharapkan dapat memperkuat hubungan diplomatik dan budaya antar negara. Hafidz menegaskan bahwa Badan Bahasa berkomitmen untuk menyediakan sumber daya pendidikan bahasa yang terjangkau dan berkualitas. “Kami akan terus berupaya meningkatkan jumlah negara yang menawarkan program BIPA, serta memastikan modul-modul yang digunakan relevan dengan kebutuhan pendidikan modern,” ujarnya. Dengan demikian, Bahasa Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari identitas nasional, tetapi juga alat untuk menjembatani perbedaan budaya dan meningkatkan pemahaman antar bangsa.

Seiring dengan semakin banyaknya lembaga yang memperkenalkan Bahasa Indonesia, Hafidz menyatakan bahwa Badan Bahasa juga fokus pada pengembangan kualitas pengajar. “Kami memastikan para pengajar BIPA memiliki kompetensi yang sesuai, sehingga mampu memberikan pengajaran yang bermakna bagi peserta didik,” katanya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada kesiapan dan keberlanjutan kemitraan dengan berbagai institusi pendidikan.

Terlepas dari pencapaian yang telah ada, Hafidz mengakui masih ada tantangan dalam menyebarluaskan Bahasa Indonesia di tingkat global. “Meski sudah mencapai 61 negara, kita masih perlu berinovasi dan beradaptasi agar program BIPA tetap relevan dan diminati,” tuturnya. Ia berharap teknologi dan kerja sama dengan lembaga pendidikan asing akan membantu mengatasi hambatan tersebut. “Dengan dukungan perguruan tinggi dan mahasiswa asing, kita bisa memperkuat posisi Bahasa Indonesia di dunia internasional,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *