Announced: Kemenlu Rusia: Hampir 8.500 warga sipil tewas akibat serangan Ukraina sejak Februari 2022
Kemenlu Rusia: Hampir 8.500 warga sipil tewas akibat serangan Ukraina sejak Februari 2022
Announced – Duta Besar Kementerian Luar Negeri Rusia, Rodion Miroshnik, mengungkapkan pada Jumat (3/7) bahwa serangan militer Ukraina telah mengakibatkan kematian hampir 8.500 warga sipil di Rusia sejak 2 Februari 2022. Informasi ini dibagikan dalam sebuah taklimat resmi, menegaskan keseriusan dampak perang yang terus berlangsung di wilayah tersebut. Angka ini menjadi bagian dari total 30.913 korban, terdiri dari 8.434 orang meninggal dan ratusan lainnya cedera, yang tercatat sejak dimulainya konflik pada bulan Februari 2022.
Korban dan Kerusakan Infrastruktur
Miroshnik menjelaskan bahwa perang antara Rusia dan Ukraina telah menyebabkan kerusakan signifikan terhadap infrastruktur sipil di 42 wilayah Rusia. Dalam tiga bulan terakhir, jumlah korban terus meningkat, dengan data yang diperbarui mencerminkan keparahan situasi di lapangan. Menurutnya, serangan-serangan ini tidak hanya menghancurkan bangunan dan fasilitas umum, tetapi juga menimbulkan ancaman terhadap kehidupan masyarakat sipil.
“Dari awal perang pada Februari 2022 hingga 30 Juni 2026, jumlah korban mencapai 30.913 orang, termasuk sekitar 8.434 korban tewas,” ujar Miroshnik dalam taklimat tersebut.
Duta Besar juga menyebutkan bahwa kejadian-kejadian serius terus terjadi, termasuk serangan terhadap target-target yang tidak bersenjata. Contohnya, serangan pada sebuah perguruan tinggi di Starobelsk dan serangan terhadap bus yang membawa anak-anak Belarus di wilayah Bryansk. Insiden-insiden ini menjadi bukti bahwa operasi militer Ukraina terus menargetkan masyarakat sipil secara sistematis.
Insiden Penting yang Dibahas
Menurut Miroshnik, beberapa insiden utama yang disebutkan termasuk serangan terhadap sebuah perguruan tinggi di Starobelsk, serangan terhadap bus yang membawa anak-anak Belarus di wilayah Bryansk, serta serangan terhadap bus penumpang sipil di Yenakiyevo. Dalam taklimat tersebut, ia menekankan bahwa setiap serangan tersebut menunjukkan upaya untuk menyasar warga non-berperang dan merusak kehidupan sehari-hari mereka.
“Serangan Ukraina terhadap perguruan tinggi di Starobelsk, bus Belarusian di Bryansk, serta bus sipil di Yenakiyevo adalah contoh nyata dari perang yang berlangsung di luar wilayah militer,” kata Miroshnik.
Selain insiden yang disebutkan, Miroshnik juga mengungkapkan bahwa jumlah korban anak-anak sangat signifikan. Dari tahun 2014 hingga saat ini, total 373 anak telah tewas dan 1.845 lainnya mengalami cedera akibat serangan-serangan militer. Angka ini menunjukkan bahwa wilayah Rusia tidak hanya menjadi sasaran langsung, tetapi juga mengalami dampak keluarga yang diakibatkan oleh perang tersebut.
Kritik Terhadap Serangan Ukraina
Rusia mengecam serangan militer Ukraina yang menargetkan warga sipil, menyatakan bahwa kejadian-kejadian ini menunjukkan kurangnya pengendalian dalam operasi militer. Sebagai langkah diplomatik, pemerintah Rusia mengirimkan nota resmi kepada Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) guna meminta penyelidikan internasional atas insiden-insiden tersebut. Nota ini bertujuan untuk menyoroti kebutuhan transparansi dan akuntabilitas atas korban yang terus terjadi.
Miroshnik menambahkan bahwa data yang diberikan mencerminkan upaya yang dilakukan oleh pihak Ukraina untuk merusak infrastruktur Rusia secara terencana. Menurutnya, serangan-serangan ini tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat. Duta Besar menekankan bahwa korban yang tercatat hingga saat ini masih bisa meningkat, tergantung pada intensitas operasi militer yang terus berlangsung.
Respons Internasional yang Diharapkan
Dalam pernyataannya, Miroshnik mengharapkan respons internasional terhadap data yang disampaikan. Ia mengingatkan bahwa PBB memiliki peran penting dalam menjamin keadilan bagi korban perang. “Penyelidikan oleh lembaga internasional diperlukan untuk memastikan bahwa serangan-serangan terhadap warga sipil tidak terlewatkan dari pertimbangan hak asasi manusia,” tegasnya.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga meminta para negara anggota PBB untuk meninjau kembali sikap mereka terhadap Ukraina. Miroshnik menyoroti bahwa serangan-serangan ini memperlihatkan taktik yang tidak hanya melibatkan kekuatan militer, tetapi juga kebijakan yang bertujuan mengurangi jumlah populasi sipil yang terkena dampak. Dengan mengirimkan data ini, Rusia berharap memperkuat posisi mereka dalam perdebatan global mengenai konflik yang berlangsung