New Policy: Presiden Xi beri dukungan bagi PBB saat temui Direktur Jenderal UNESCO

Presiden Xi Beri Dukungan untuk PBB Saat Bertemu Direktur Jenderal UNESCO

New Policy – Beijing, 22 Juli 2025 – Pada pertemuan resmi dengan Direktur Jenderal UNESCO, Khaled El-Enany, Presiden Tiongkok Xi Jinping menegaskan komitmen Tiongkok terhadap sistem multilateralisme dan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menjaga keseimbangan global. Pertemuan ini berlangsung di Balai Besar Rakyat Tiongkok, Beijing, pada Selasa, di mana Xi menyampaikan pernyataan tentang pentingnya kerja sama internasional dan kontribusi UNESCO dalam memperkuat hubungan antarbangsa.

Kontribusi UNESCO dalam Penguatan Kebudayaan dan Pendidikan

Pada kesempatan tersebut, Xi menyoroti bahwa UNESCO telah berperan signifikan dalam meningkatkan pemahaman dan kepercayaan antarbangsa. Ia menyatakan bahwa organisasi tersebut juga menjadi wadah untuk menggerakkan pertukaran dan pembelajaran antarperadaban, yang menciptakan ruang dialog global. “Saya sangat menghargai peran UNESCO dalam membantu bangsa-bangsa mengeksplorasi keanekaragaman budaya serta mengembangkan ilmu pengetahuan bersama,” ujarnya dalam pidato yang diberikan.

“China telah konsisten menjalankan prinsip multilateralisme yang benar, mendukung dan menjaga kekuatan PBB, serta mengakui peran UNESCO dalam membangun sistem global yang adil dan harmonis,” tambah Xi.

Presiden Tiongkok juga menegaskan bahwa istrinya, Peng Liyuan, memegang jabatan khusus sebagai utusan UNESCO untuk pendidikan anak dan perempuan. Ini menunjukkan komitmen pemerintah Tiongkok terhadap isu-isu sosial dan pendidikan global. “UNESCO terus memperluas pengaruhnya di berbagai bidang, termasuk reformasi struktur tata kelola internasional,” lanjut Xi.

Kerja Sama Tiongkok dan UNESCO di Bidang Pendidikan

Xi menyebut bahwa Tiongkok aktif mendukung berbagai inisiatif UNESCO, terutama dalam pengembangan pendidikan digital, kecerdasan buatan, serta penguatan kerja sama ilmu pengetahuan. “Kedua pihak telah bekerja sama dalam mengatasi tantangan bersama dan menciptakan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dunia,” jelasnya.

“China bersedia memperdalam hubungan strategis dengan UNESCO agar dapat memberikan manfaat lebih besar bagi seluruh umat manusia,” kata Xi.

El-Enany, yang baru dilantik pada November 2025, menyatakan bahwa kunjungan pertamanya ke Beijing diterima dengan baik oleh pihak Tiongkok. “Saya menjalani tiga kunjungan ke Tiongkok sebagai Direktur Jenderal UNESCO, dan kali ini saya sangat senang dapat berdiskusi langsung dengan Presiden Xi tentang arah kerja sama masa depan,” ujarnya.

“Saya berasal dari Afrika, Mesir, dan negara-negara Muslim. Tujuan utama saya adalah menggandeng anggota UNESCO untuk memperkuat dialog, kerja sama, serta pembelajaran antarperadaban,” tambah El-Enany.

Dalam pembicaraan, Xi menyampaikan apresiasi atas dukungan Tiongkok terhadap UNESCO sejak lama. “Kehadiran Tiongkok dalam organisasi ini memperkuat kemitraan yang bermakna untuk kesejahteraan global,” katanya. El-Enany menegaskan bahwa UNESCO terus berupaya memperbaiki standar pendidikan dan kebudayaan internasional, serta mempromosikan pertukaran teknologi dan inovasi.

Pola Pikir Perang Dingin dan Tantangan Global

Pada kesempatan ini, Xi mengingatkan bahwa era perdamaian dan kolaborasi tidak lagi menjadi jaminan. “Tata kelola global sekarang berada di ambang perubahan besar, dengan munculnya pola pikir Perang Dingin, hegemonisme, dan unilateralisme,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Tiongkok dan UNESCO perlu bersinergi dalam empat inisiatif global untuk memastikan keadilan dan keberlanjutan.

“China dan UNESCO harus bekerja sama memperkuat kerja sama dalam kecerdasan buatan, sains terbuka, pendidikan digital, serta bidang lainnya. Ini penting untuk menjaga keberagaman peradaban dan menciptakan harmoni global,” jelas Xi.

Dalam diskusi, Xi menekankan bahwa UNESCO perlu berperan aktif dalam memperluas akses pendidikan dan budaya ke seluruh dunia. “Organisasi ini harus menjadi wadah untuk membangun komunitas umat manusia yang saling menguntungkan,” tambahnya. El-Enany menyatakan bahwa UNESCO terus berupaya meningkatkan kesejahteraan global melalui program-program yang berfokus pada pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya.

Keputusan AS Meninggalkan UNESCO dan Dukungan Tiongkok

El-Enany menegaskan bahwa UNESCO mengharapkan kerja sama yang lebih erat dengan Tiongkok. “PBB dan UNESCO perlu bersinergi untuk memperkuat tata kelola global yang adil, serta memastikan bahwa semua bangsa dapat menikmati manfaat dari pembangunan bersama,” ujarnya.

“UNESCO berharap dapat terus memperkuat koordinasi dengan China, terutama dalam mempromosikan pendidikan dan kebudayaan yang inklusif, serta mempercepat progres global,” tambah El-Enany.

Pertemuan ini dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, serta delegasi UNESCO yang dipimpin oleh Shahbaz Khan. Kehadiran mereka menegaskan komitmen untuk memperdalam kerja sama antara kedua pihak. Pada tahun 2025, Tiongkok menjadi salah satu negara besar yang aktif dalam UNESCO setelah AS mengambil keputusan untuk menarik diri dari organisasi tersebut pada 22 Juli 2025. Keputusan ini berlaku efektif pada 31 Desember 2026.

Presiden AS Donald Trump menarik Tiongkok dari UNESCO karena dinilai bertentangan dengan kebijakan luar negeri “America First” dan pengakuan terhadap Palestina. “Keputusan ini memperkuat retorika anti-Israel di dalam PBB,” katanya. Meski begitu, Tiongkok tetap berkomitmen untuk menjaga keseimbangan global dan menegaskan bahwa UNESCO tetap menjadi pilar penting dalam menghadapi tantangan baru.

Dalam konteks ini, Xi menyebut bahwa Tiongkok terus memperkuat kehadirannya dalam UNESCO, terutama untuk mendorong pertukaran budaya, peningkatan standar pendidikan, serta keadilan dalam tata kelola internasional. “Kita harus bersama-sama menciptakan masa depan yang lebih baik bagi seluruh umat manusia,” tegas Xi. Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan komitmen Tiongkok terhadap multilateralisme dan keberlanjutan organisasi global.

Kerja Sama di Bidang Kebudayaan dan Teknologi

El-Enany juga menyoroti bahwa UNESCO terus memperhatikan pidato penting yang pernah disampaikan Xi Jinping saat berkunjung ke Paris pada 2014. “Pidato tersebut menjadi inspirasi untuk memperkuat peran UNESCO dalam mempromosikan perdamaian dan kerja sama antarbangsa,” kata El-Enany. Ia menegaskan bahwa Tiongkok merupakan mitra penting dalam membangun organisasi yang lebih inklusif dan berfokus pada keberlanjutan.

“Kehadiran Tiongkok dalam UNESCO telah menciptakan dampak besar, terutama dalam pengembangan pendidikan dan kebudayaan di berbagai wilayah dunia,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Xi juga menyoroti pentingnya keberagaman peradaban dan kerja sama timbal balik antarbangsa. “Pemerintah Tiongkok berkomitmen untuk mendorong penghormatan terhadap keberagaman budaya serta menjaga perdamaian global,” kata Xi. Dengan dukungan bersama, Tiongkok dan UNESCO diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dunia.

El-Enany menyampaikan bahwa UNESCO memiliki peran strategis dalam membantu negara-negara berkembang. “Kita harus terus bekerja sama untuk menghadapi tantangan yang muncul di era baru ini, seperti perubahan iklim, keamanan global, dan ketimpangan pendidikan,” jelasnya. Pidato Xi dalam pertemuan tersebut diharapkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *