Topics Covered: RI serukan Iran-AS redakan ketegangan usai eskalasi di Selat Hormuz

Indonesia Minta AS dan Iran Kendalikan Ketegangan Usai Eskalasi di Selat Hormuz

Topics Covered – Jakarta – Indonesia kembali mengingatkan Amerika Serikat dan Iran agar tetap bijak dalam menangani situasi yang kian memanas di Selat Hormuz. Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arrmanatha Nasir mengatakan bahwa pihaknya berharap kedua negara dapat menahan diri dan kembali berkomitmen pada gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati. “Kita tentu ingin terus mendorong para pihak untuk segera kembali ke meja perundingan dan memperkuat upaya gencatan senjata,” ujarnya saat diwawancara di Kompleks Parlemen Jakarta, Kamis.

“Kita pun kembali menyerukan agar semua pihak segera melakukan gencatan senjata dan terus menjaga dialog untuk mencegah konflik memburuk,” tambah Wamenlu RI.

Kebijakan tersebut diungkapkan setelah bentrokan antara pasukan Iran dan Amerika Serikat (AS) terjadi pada dini hari Kamis (11/6) di perairan Teluk Persia dan Teluk Oman. Insiden tersebut memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital untuk pengangkutan minyak mentah, kembali menjadi sasaran perang. Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, lembaga militer Iran, mengumumkan penutupan penuh jalur tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Xinhua.

Kabar awal menyebutkan bahwa beberapa kapal milik AS yang berada di sekitar Selat Hormuz menjadi korban serangan rudal serta drone dari angkatan bersenjata Iran. Dalam peristiwa ini, ledakan terdengar di wilayah Sirik dan Minab, serta kota pelabuhan Bandar Abbas. Semua lokasi tersebut berada di Provinsi Hormozgan, sementara pulau Qeshm dan Hengam menjadi area tambahan yang terkena dampak.

Melalui pernyataan resmi, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengatakan bahwa penutupan Selat Hormuz diperlukan untuk mencegah ancaman keamanan terhadap kapal-kapal yang melintas, termasuk tanker minyak dan kapal niaga. Langkah ini berdampak signifikan pada alur distribusi energi global, mengingat strait tersebut menjadi jalan utama bagi sekitar 20 persen dari total produksi minyak dunia.

Dalam konteks ini, Wamenlu RI menekankan bahwa konflik antara AS dan Iran bukan hanya berdampak bagi rakyat kedua negara, tetapi juga mengganggu kestabilan regional dan internasional. Ia menyoroti bahwa ketegangan yang kian memuncak dapat memicu krisis pangan atau bahan bakar jika terjadi gangguan serius terhadap rantai pasokan.

Eskalasi Kembali Terjadi Setelah Masa Damai

Ketegangan antara AS dan Iran sejak awal tahun ini sudah memasuki fase ketiga setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut memicu respons langsung dari Iran, yang kemudian meluncurkan serangan udara ke wilayah Irak dan Suriah. Peristiwa itu mengarah pada konfrontasi militer beruntun, serta meningkatkan tekanan diplomatik antara kedua negara.

Menyusul insiden terbaru di Selat Hormuz, sistem pertahanan udara Iran diaktifkan di wilayah barat Teheran dan Provinsi Fars. Laporan dari kantor berita semiresmi Iran, Mehr, menyebutkan bahwa langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan serangan berikutnya. Pihak AS juga berupaya memperkuat kehadiran militer di kawasan tersebut, terutama di perairan yang berbatasan dengan Kedaulatan Iran.

Indonesia, sebagai negara yang aktif dalam diplomasi regional, mengingatkan kedua belah pihak untuk tidak memperpanjang konflik menjadi perang total. “Kita mendukung upaya penghentian tembak-menembak dan menekankan pentingnya dialog sebagai jalan keluar,” jelas Wamenlu Nasir. Ia menambahkan bahwa konflik yang berlarut-larut akan mengganggu perdagangan internasional dan memperburuk krisis ekonomi di berbagai negara.

Menurut data dari Organisasi Energi Internasional (IEA), Selat Hormuz setiap tahun melayani lebih dari 20 juta barel minyak mentah per hari. Penutupan penuh jalur ini selama beberapa hari dapat mengganggu pasokan energi ke Eropa, Asia, dan Amerika Utara. Pemerintah Indonesia, dalam pernyataan terpisah, berharap AS dan Iran dapat berkoordinasi dengan negara-negara lain, termasuk PBB, untuk mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.

Kebijakan penutupan Selat Hormuz juga mengakibatkan peningkatan tarif pengiriman minyak, yang berdampak pada harga global. Pada hari yang sama, komunitas internasional mulai memberikan perhatian khusus terhadap situasi ini. Beberapa negara seperti Jepang dan Tiongkok mengingatkan AS dan Iran agar tidak mengorbankan perdagangan internasional demi kepentingan politik.

Sebagai langkah pencegahan, Wamenlu RI menyarankan bahwa AS dan Iran dapat mengadakan pertemuan darurat di tingkat diplomatik untuk membahas isu keselamatan jalur pelayaran. Ia menegaskan bahwa Indonesia terus memantau perkembangan konflik dan siap membantu mediasi jika diperlukan. “Kita yakin bahwa gencatan senjata bisa tercapai, selama para pihak bersedia melibatkan diri dalam negosiasi yang jujur,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *