Polisi sebut pencuri kotak amal di Pesanggrahan pura-pura shalat

Polisi sebut pencuri kotak amal di Pesanggrahan pura-pura shalat

Polisi sebut pencuri kotak amal di Pesanggrahan – Jakarta, Antaranews – Kepolisian mengungkap cara seorang pelaku mencuri kotak amal di beberapa mushala di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Modus kejahatan tersebut melibatkan pelaku yang berpura-pura menunaikan shalat sebelum melakukan aksi pencurian. Menurut Kepala Seksi Humas Polres Metro Jakarta Selatan, AKP Joko Adi, pelaku mengambil kesempatan saat mushala dalam kondisi sepi untuk membuka kotak amal dan mengambil isinya.

Deteksi aksi melalui rekaman CCTV

AKP Joko Adi mengatakan, aksi pelaku tercatat dalam video pengawas (CCTV) yang memperlihatkan dia berpura-pura melakukan shalat Ashar di Mushala As-Syukur, Gang Haji Liun, Petukangan Utara, Pesanggrahan. Pelaku kemudian menggunakan anak kunci untuk membuka kotak amal dan mengambil uang yang disimpan di dalamnya. Ia diamankan oleh warga pada Senin (18/5) sekitar pukul 16.45 WIB setelah terekam aksi pencurian di lokasi tersebut.

“Modus pelaku melakukan pencurian yaitu caranya dia pura-pura numpang shalat di mushala, kemudian karena situasi sepi, membuka kotak amal dan mengambil isinya,” ujar AKP Joko Adi di Jakarta, Kamis.

Setelah dilaporkan oleh warga, pelaku diserahkan ke polisi dan kasusnya dikembangkan oleh Tim Reskrim Polsek Pesanggrahan. Dari pemeriksaan, terungkap bahwa pelaku dengan inisial AK sudah melakukan tindakan serupa di lokasi lain. Tiga tempat ibadah lainnya yang menjadi sasaran pencurian, antara lain Mushala Nurul Fajri di Petukangan Selatan, Mushala Nurul Hikmah di Petukangan Utara, serta beberapa mushala di wilayah Ciledug, Kota Tangerang.

Pemilihan waktu dan tempat strategis

AKP Joko Adi menjelaskan, pelaku memilih waktu menjelang Maghrib untuk menjalankan aksinya. Saat itu, kondisi mushala cenderung sepi karena jemaah sudah pulang atau sedang berada di tempat lain. Modus ini terlihat serupa di berbagai lokasi, termasuk saat dia berpura-pura melaksanakan shalat Ashar di mushala tertentu. “Bisa dibilang demikian karena dari modusnya seperti itu dan waktu yang dilaksanakan waktu-waktu shalat Ashar,” tambahnya.

“Karena kebutuhan kemudian ya itu jalan pintas, apapun dilakukan, kotak amal pun disikat,” kata Joko.

Pelaku menggunakan beberapa anak kunci untuk membuka kotak amal. Polisi menemukan sejumlah kunci tersebut saat menangkapnya. Dari hasil pemeriksaan, uang yang berhasil dicuri mencapai ratusan ribu rupiah. Jumlahnya bervariasi antara Rp750 ribu di Mushala As-Syukur, Rp500 ribu di Mushala Nurul Fajri, dan Rp400 ribu di Mushala Nurul Hikmah. Aksi pencurian di setiap lokasi dilakukan secara terencana, dengan pelaku memanfaatkan kepercayaan jemaah terhadap kehadirannya.

Pengakuan dari pelaku menunjukkan bahwa motif kejahatan ini diduga berawal dari kebutuhan ekonomi. Ia mengambil langkah cepat tanpa memikirkan konsekuensi, mengingat kebutuhan finansial yang mendesak. Selain itu, polisi mengimbau pengurus masjid dan musholla untuk meningkatkan pengawasan terhadap lingkungan tempat ibadah. “Kami imbau kepada jemaah masjid agar waspada terhadap situasi lingkungan masjid atau mushollanya,” ucap Joko.

Kasus ini memberikan peringatan bagi masyarakat Muslim untuk lebih berhati-hati, terutama di saat shalat berlangsung. Meski pelaku memakai pakaian serupa dengan jemaah, kejutan terjadi saat aksinya terungkap melalui rekaman CCTV. Kejadian ini juga menunjukkan bahwa meskipun tempat ibadah umumnya dianggap aman, pelaku tetap memanfaatkan kesempatan saat orang-orang sedang fokus pada ibadah.

Dalam upaya mencegah tindakan serupa, polisi berencana mengintensifkan patroli di sekitar mushala dan menyebarkan informasi kepada warga setempat. Selain itu, mereka juga mendorong pengurus masjid untuk memasang perangkat keamanan tambahan, seperti sensor gerak atau sistem pengawasan yang lebih canggih. Joko menyebut bahwa tim Reskrim sedang menyelidiki apakah ada pelaku lain yang terlibat atau sudah terbentuk kelompok pencuri.

Peristiwa pencurian kotak amal ini memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Beberapa mengatakan bahwa kejahatan terjadi karena kurangnya pengawasan, sementara yang lain menilai pelaku sengaja memanipulasi kepercayaan jemaah. Meski begitu, polisi tetap menegaskan bahwa tindakan serupa bisa dicegah jika masyarakat lebih waspada.

Langkah pencegahan dan peringatan

AKP Joko Adi menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam mengamankan tempat ibadah. Ia mengajak warga untuk melaporkan setiap kejanggalan, seperti pelaku yang terlihat lama berada di mushala tanpa tanda-tanda ingin shalat. Selain itu, dia juga mendorong pengurus masjid agar melakukan konsultasi dengan pihak kepolisian untuk memperkuat protokol keamanan. “Kejadian seperti ini bisa berulang jika kita tidak mengambil langkah pencegahan,” imbuh Joko.

Peristiwa di Pesanggrahan menjadi contoh bagaimana kejahatan bisa terjadi di tempat-tempat yang biasanya dianggap aman. Dengan menggunakan modus pura-pura shalat, pelaku memanfaatkan kesempatan saat jemaah sedang fokus pada ibadah, sehingga tidak menyadari aksinya. Uang yang dicuri dari kotak amal, yang biasanya digunakan untuk kegiatan sosial, menjadi isu yang memicu kecemasan di komunitas lokal.

Polisi juga sedang mempelajari apakah ada pola serupa di wilayah lain. Dari penelusuran, mereka menemukan kemungkinan pelaku lain yang beroperasi dengan metode serupa. Untuk itu, pihak kepolisian berharap masyarakat bisa berperan aktif dalam mengawasi kegiatan di lingkungan masjid. “Jika warga lebih sigap, kita bisa mengurangi aksi pencurian seperti ini,” katanya.

Dengan modus yang terus berubah, kejahatan di tempat ibadah tetap menjadi tantangan. Namun, keberhasilan penangkapan pelaku di Pesanggrahan membuktikan bahwa polisi dan masyarakat bisa bekerja sama untuk mencegah tindakan serupa. Kejadian ini juga mengingatkan bahwa kotak amal, yang mengandung uang dari zakat dan sedekah, bisa menjadi sasaran pencurian jika tidak dijaga dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *