Latest Program: Kementerian Ekonomi Kreatif dukung pembinaan talenta pengisi suara

Kementerian Ekonomi Kreatif Dukung Penguatan Ekosistem Industri Sulih Suara

Latest Program – Jakarta – Sebagai upaya mendukung perkembangan industri sulih suara, Kementerian Ekonomi Kreatif melalui Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) aktif dalam pembinaan talenta pengisi suara. Deputi Bidang Kreativitas Media di kementerian tersebut, Cecep Rukendi, mengungkapkan bahwa lembaga ini tidak hanya fokus pada pelatihan teknis, tetapi juga memperkuat sistem ekosistem industri secara keseluruhan. Hal ini dilakukan melalui berbagai kegiatan, termasuk lokakarya dan kompetisi seperti Wonder Voice of Indonesia, yang bertujuan menciptakan kesempatan bagi calon profesional di bidang ini.

Workshop di Pontianak: Upaya Membentuk Talenta Global

Dalam upaya membangun kapasitas generasi muda, Kementerian Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan Seruni KMP (Solidaritas Perempuan untuk Indonesia Kabinet Merah Putih) telah menyelenggarakan Workshop Pembinaan Talenta Ekonomi Kreatif: Voice Over di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Lokakarya ini diadakan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, dengan dukungan dari PT PLN (Persero), Dekranasda Kota Pontianak, serta lembaga pemerintah lainnya. Acara tersebut dihadiri oleh ratusan peserta yang menjalani pembelajaran tentang teknik vokal, penerapan Hak Kekayaan Intelektual, serta strategi membangun personal branding di platform digital.

Menurut Cecep, kegiatan seperti ini bertujuan menghasilkan talenta yang tidak hanya mahir dalam menyampaikan narasi melalui suara, tetapi juga mampu mengelola aspek bisnis dan memahami peran HKI dalam industri. “Kami ingin mengembangkan koneksi emosional antara peserta dan audiens, sambil memberikan wawasan tentang cara membangun identitas profesional yang kuat di tingkat internasional,” jelasnya. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman tentang perubahan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), yang semakin memengaruhi dunia sulih suara.

Ekonomi Kreatif: Peluang Besar untuk Industri Sulih Suara

Data terkini dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sektor ekonomi kreatif pada 2025 memberikan kontribusi sebesar Rp1.611,2 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Nilai investasi di sektor ini mencapai Rp183,01 triliun, yang menunjukkan pertumbuhan signifikan. Menurut Cecep, keberhasilan ini membuka peluang besar bagi industri sulih suara, yang kini menjadi bagian penting dari pembuatan konten digital.

Dalam komentarnya, Cecep menekankan bahwa industri voice over tidak hanya berkembang karena kebutuhan pasar, tetapi juga karena kemampuannya untuk menembus segmen global. “Masyarakat semakin membutuhkan suara yang mampu menyampaikan pesan secara efektif, baik dalam iklan, film, maupun media sosial,” katanya. Dengan demikian, pembinaan keterampilan dan kreativitas peserta menjadi kunci dalam menghadapi tantangan persaingan yang semakin ketat.

Komentar Narasumber: Emosi Manusia Tak Tergantikan

“Pertumbuhan industri sulih suara terjadi karena kebutuhan akan storytelling yang mampu membangun hubungan emosional dengan pendengar. Meski AI bisa meniru nada, tetapi manusia tetap memiliki keunikan dalam menyampaikan pesan yang menyentuh hati,” kata Bimo Kusumo, narasumber dari Voice Institute Indonesia.

Bimo menjelaskan bahwa meskipun teknologi AI semakin maju, peran emosi manusia dalam sulih suara tetap tidak tergantikan. “Dalam dunia ini, kita tidak hanya mengeluarkan suara, tetapi juga menciptakan pengalaman yang bisa membangun kepercayaan dan koneksi dengan audiens,” tambahnya. Kehadiran AI justru memberikan tantangan baru, di mana para pengisi suara profesional harus lebih inovatif dalam menunjukkan orisinalitas dan kualitas kinerja mereka.

Pembekalan Teknis serta Wawasan Teknologi

Pelatihan di workshop Pontianak meliputi berbagai aspek, seperti teknik pengucapan, pengelolaan suara, dan penerapan HKI dalam industri. Peserta juga diberikan wawasan tentang bagaimana teknologi AI dapat digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti, dalam proses pengerjaan sulih suara. “Kombinasi antara kemampuan teknis dan penguasaan teknologi akan memperkuat daya saing para talenta di masa depan,” ujar Cecep.

Di samping itu, peserta diberikan pelatihan untuk membangun citra diri dan memperluas jaringan profesional. “Talenta sulih suara perlu memiliki kesadaran akan brand mereka, sehingga mampu menarik perhatian audiens di platform global,” tambahnya. Hal ini sejalan dengan upaya Kementerian Ekonomi Kreatif untuk memastikan industri lokal bisa bersaing di pasar internasional.

Kolaborasi untuk Membentuk Industri yang Berkelanjutan

Kemitraan antara BEKRAF dengan berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan dan lembaga ekonomi, menjadi fondasi dalam mengembangkan industri sulih suara. Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang lebih solid, dengan adanya pelatihan yang terstruktur dan akses ke sumber daya yang memadai. Cecep juga menyebutkan bahwa keberlanjutan industri bergantung pada keterlibatan masyarakat luas, mulai dari pemula hingga profesional.

Menurut data BEKRAF, industri sulih suara di Indonesia sudah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, terutama dalam konten media digital. “Kami ingin mengubah persepsi bahwa sulih suara hanya sekadar penjelasan narasi, tetapi sekaligus bentuk seni yang mampu menciptakan dampak besar di berbagai sektor,” tutur Cecep. Dengan program seperti workshop dan kompetisi, kementerian berupaya menyiapkan sumber daya manusia yang berkompeten, sekaligus mengakomodasi kebutuhan pasar yang terus berkembang.

Visi untuk Masa Depan Industri Sulih Suara

Dalam perjalanan pembinaan talenta, Kementerian Ekonomi Kreatif juga berfokus pada kesiapan generasi muda menghadapi perubahan teknologi. “Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga kualitas karya manusia di tengah kemudahan teknologi otomatis,” kata Bimo. Ia menekankan bahwa peserta workshop perlu memahami bagaimana menyesuaikan diri dengan perkembangan AI, sekaligus menjaga keunikan karya manusia.

Program Wonder Voice of Indonesia, misalnya, tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah untuk melatih kemampuan berbicara, berempati, dan menciptakan narasi yang kuat. Peserta diberikan kesempatan untuk mengasah keterampilan dalam berbagai genre, seperti iklan, animasi, dan konten edukasi. “Kami ingin membangun sumber daya yang mampu beradaptasi dengan berbagai jenis proyek, sekaligus memahami kebutuhan industri modern,” ujar Cecep.

Dengan adanya pelatihan yang terukur dan penyesuaian dengan kebutuhan pasar, Kementerian Ekonomi Kreatif berharap industri sulih suara bisa berkembang secara berkelanjutan. “Talenta yang terlatih akan mampu menjadi penggerak utama untuk memperkuat ekosistem kreatif nasional,” pungkasnya. Harapan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memajukan sektor ekonomi kreatif sebagai bagian dari transformasi digital Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *