PERKI dukung peningkatan upaya pencegahan penyakit jantung

PERKI Mendorong Penguatan Strategi Pencegahan Penyakit Kardiovaskular di Indonesia

PERKI dukung peningkatan upaya pencegahan penyakit – Jakarta menjadi saksi bisu dari komitmen kuat organisasi profesi kedokteran dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan jantung bagi masyarakat. Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia atau yang dikenal dengan singkatan PERKI secara resmi menyatakan dukungannya terhadap berbagai inisiatif pencegahan penyakit jantung. Langkah ini diambil dengan tujuan utama untuk menekan angka kejadian penyakit kardiovaskular yang masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan publik nasional.

Visi dan Misi Organisasi dalam Konteks Kesehatan Nasional

Ketua Pengurus Pusat PERKI, dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP, FIHA, hadir dalam acara temu media yang diselenggarakan di Jakarta pada hari Kamis. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan secara jelas bahwa visi dan misi perhimpunan sangat berfokus pada pengurangan kejadian penyakit jantung serta pembuluh darah di seluruh wilayah Indonesia. Pernyataan ini menjadi fondasi penting bagi berbagai program yang akan dikembangkan ke depan.

Acara yang dilaksanakan di sela-sela penyelenggaraan Annual Scientific Meeting of the Indonesian Heart Association (ASMIHA) ke-35 ini menjadi momentum strategis. dr. Ade menekankan bahwa edukasi kepada masyarakat umum serta tenaga kesehatan merupakan komponen krusial. Kedua kelompok ini perlu meningkatkan pemahaman mereka mengenai berbagai upaya pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah secara komprehensif.

“Ada prevensi primer bagi mereka yang punya faktor risiko, bagaimana supaya enggak sakit jantung koroner, atau yang sudah pasang ring, bypass, jangan pasang ring lagi,” jelas dr. Ade Meidian Ambari.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya pendekatan preventif yang berbeda untuk setiap kelompok pasien. Bagi individu dengan faktor risiko, pencegahan primer menjadi prioritas utama. Sementara bagi mereka yang telah menjalani prosedur medis seperti pemasangan ring atau bypass, pencegahan sekunder diperlukan agar tidak memerlukan intervensi ulang.

Edukasi dan Komunikasi dalam Pelayanan Kesehatan

dr. Ade menambahkan bahwa tugas memberikan edukasi tidak terbatas hanya pada dokter dan perawat saja. Masyarakat juga merupakan sasaran utama dalam program edukasi ini. Selain itu, beliau mengemukakan pentingnya mendorong komunikasi yang lebih efektif antara pasien dan dokter dalam konteks pelayanan kesehatan jantung. Hubungan yang baik ini dapat meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan dan gaya hidup sehat.

Masalah lain yang dibahas oleh dr. Ade adalah fenomena warga Indonesia yang lebih memilih berobat ke luar negeri dibandingkan menggunakan pelayanan kesehatan di dalam negeri. Menurut analisis beliau, hal ini lebih berkaitan dengan tingkat kepercayaan pasien terhadap kualitas pelayanan kesehatan di dalam negeri, bukan semata-mata karena kurangnya fasilitas.

“Saya berani katakan bahwa pasien di Indonesia itu banyak. Jadi jam terbang dokter kita itu tinggi. Di Singapura, pasiennya enggak sebanyak sama kita. Cuma kelebihan mereka menulis lebih banyak, sehingga orang lain lebih tahu,” papar dr. Ade.

Penjelasan dr. Ade memberikan perspektif baru mengenai persepsi masyarakat. Dokter-dokter Indonesia memiliki volume pasien yang sangat besar sehingga tidak sempat menulis atau mempublikasikan karya ilmiah. Hal ini menyebabkan kontribusi mereka kurang dikenal secara internasional dibandingkan dokter dari negara tetangga.

Perbaikan Kesejahteraan Tenaga Kesehatan

Di samping aspek edukasi dan komunikasi, dr. Ade juga mengemukakan pentingnya peningkatan kesejahteraan dan pelindungan tenaga kesehatan. Langkah ini merupakan bagian integral dari upaya perbaikan kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Beliau menegaskan bahwa peningkatan kualitas layanan harus diiringi dengan dukungan yang memadai bagi para profesional kesehatan.

“Kita meningkatkan kualitas kita, service kita,” tegas dr. Ade Meidian Ambari.

PERKI secara aktif bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, kolegium, dan BPJS Kesehatan untuk meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan dokter. Kolaborasi multi-pihak ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem kesehatan yang lebih berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *