Topics Covered: Nyeri dada bisa jadi tanda anak alami GERD

Nyeri dada bisa jadi tanda anak alami GERD

Topics Covered – Dalam diskusi daring yang diadakan di Jakarta pada Selasa, Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. Sri Kesuma Astuti, Sp.A, Subsp. G. H (K), menyoroti bahwa nyeri dada atau chest pain sering kali menjadi indikator awal anak mengalami Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Ia menjelaskan bahwa gejala ini tidak hanya menyebabkan rasa sakit di area dada, tetapi juga dapat dirasakan sekitar tulang dada dan menimbulkan sensasi terbakar yang berdekatan dengan ulu hati.

Penjelasan tentang Gejala dan Penyebab

GERD, yang juga disebut penyakit refleks gastroesofageal, terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan menyebabkan iritasi. Menurut Dr. Sri, gejala ini pada anak-anak cenderung lebih khas dibandingkan pada orang dewasa. Nyeri dada yang dialami biasanya memburuk setelah anak selesai makan atau saat berbaring. Kondisi ini bisa terjadi karena faktor-faktor seperti kebiasaan makan berlebihan, mengonsumsi makanan pedas atau berlemak, serta minum soda secara rutin.

“Pada anak yang lebih besar, apa gejala tipikal GERD? Gejala typical simptomp-nya GERD pada anak itu adalah kalau ada nyeri dada atau chest pain,” ujar Dr. Sri Kesuma Astuti dalam diskusi tersebut.

Menurut dokter dari Universitas Indonesia ini, nyeri dada terjadi di bagian bawah tulang dada dan sering kali disertai dengan rasa panas atau terbakar. Gejala ini tidak hanya menyakitkan, tetapi juga bisa memengaruhi kenyamanan anak sehari-hari. Selain itu, kondisi ini dapat memicu ketergantungan pada obat penekan asam lambung jika tidak dikelola dengan tepat.

Faktor Risiko dan Penyebab Utama

Dr. Sri menambahkan bahwa beberapa anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami GERD. Misalnya, anak dengan gangguan neurologis, atresia esofagus, hernia diafragmatika, obesitas, penyakit paru kronis, serta kondisi seperti laringomalacia dan trakeomalacia. Kondisi-kondisi ini memperburuk proses pencernaan dan meningkatkan kemungkinan GERD.

Dalam penelitian yang dikutipnya, GERD pada anak-anak, terutama remaja, sering kali berkaitan dengan gaya hidup dan kebiasaan makan. Anak-anak yang terbiasa makan terlalu banyak, makan menjelang tidur, atau mengonsumsi makanan yang sulit dicerna lebih rentan terkena penyakit ini. Selain itu, konsumsi soda dan makanan pedas juga menjadi faktor utama yang memicu kenaikan asam lambung.

Tata Laksana dan Solusi Medis

Untuk mengatasi GERD pada anak, dokter biasanya melakukan tata laksana yang melibatkan beberapa langkah. Pertama, anamnesis atau pemeriksaan riwayat penyakit untuk memahami pola makan dan gejala yang dialami. Kedua, pemeriksaan fisik untuk mengecek kondisi perut dan kerongkongan. Selanjutnya, identifikasi tanda bahaya seperti kesulitan menelan atau batuk kronis yang bisa menunjukkan komplikasi.

Dr. Sri juga menyarankan modifikasi gaya hidup dan pola makan. Salah satu langkah penting adalah memastikan anak tidak makan tiga jam sebelum tidur. Hal ini memberi waktu bagi sistem pencernaan untuk kembali stabil dan mengurangi risiko asam lambung naik ke kerongkongan. Selain itu, menghindari makanan pedas atau berlemak dapat mencegah gejala memburuk.

Kapan Harus Memeriksa ke Dokter Spesialis?

Jika gejala GERD tidak menunjukkan perbaikan setelah beberapa minggu, anak direkomendasikan untuk dirujuk ke dokter spesialis anak konsultan pencernaan. Di sini, prosedur seperti endoskopi dan esofageal pH-monitoring dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis akurat. Endoskopi melibatkan pemeriksaan langsung ke saluran pencernaan menggunakan tabung fleksibel, sedangkan pH-monitoring mengukur tingkat asam di kerongkongan selama 24 jam.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tenaga medis bisa menetapkan terapi obat penekan asam lambung, transpyloric feeding (pemberian makanan melalui saluran lambung), atau bahkan anti-reflux surgery (pembedahan untuk mengatasi refleks asam lambung) jika kondisi sudah parah. Pemilihan metode pengobatan tergantung pada tingkat keparahan gejala dan respons anak terhadap perubahan gaya hidup.

Peran Orang Tua dalam Mencegah GERD

Dr. Sri menekankan pentingnya peran orang tua dalam mencegah dan mengelola GERD pada anak. Ia menyarankan agar orang tua memperhatikan jenis makanan yang diberikan, menghindari makanan berlemak dan pedas, serta memastikan anak tidak makan terlalu dekat dengan waktu tidur. Selain itu, menjaga postur tubuh saat makan dan setelah makan, seperti tidak terlalu cepat makan atau duduk tegak, dapat mengurangi risiko GERD.

Kebiasaan tidur juga berperan dalam memperparah gejala. Anak yang terbiasa tidur dengan posisi telentang mungkin lebih rentan mengalami refleks asam lambung karena gravitasi menarik asam ke kerongkongan. Orang tua disarankan untuk memberi anak posisi miring saat tidur atau menggunakan bantal agar tubuh tidak terlalu rata.

Perkembangan Penyakit dan Komplikasi

Jika tidak diatasi secara tepat, GERD dapat menyebabkan komplikasi seperti inflamasi kerongkongan, kanker kerongkongan, atau gangguan pernapasan. Kondisi ini juga bisa memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak karena mengurangi nafsu makan atau menyebabkan kelelahan. Oleh karena itu, deteksi dini dan pengelolaan yang baik sangat penting untuk mencegah dampak jangka panjang.

Dr. Sri menambahkan bahwa kebiasaan makan yang tidak sehat, seperti makan berlebihan atau tidak teratur, dapat memperburuk gejala GERD. Selain itu, faktor psikologis seperti stres atau ketakutan pada anak juga memengaruhi kondisi ini. Untuk itu, orang tua perlu menciptakan lingkungan yang nyaman dan menyesuaikan kebiasaan makan dengan kebutuhan anak.

Kesimpulan dan Langkah Perawatan

GERD pada anak bukanlah penyakit yang tidak bisa diatasi, tetapi memerlukan perhatian khusus dari orang tua dan tenaga medis. Dengan memahami gejala, faktor risiko, dan tata laksana yang tepat, kondisi ini dapat dikelola secara efektif. Dr. Sri Kesuma Ast

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *