DKI berkoordinasi dengan daerah pemasok – pastikan hewan kurban sehat
DKI Jakarta Pastikan Kualitas Hewan Kurban Melalui Kolaborasi dengan Daerah Pemasok
DKI berkoordinasi dengan daerah pemasok – Jakarta, sebuah kota besar yang menjadi pusat kegiatan ibadah kurban, kini melakukan langkah kolaboratif dengan beberapa daerah penyalur hewan kurban guna menjamin kesehatan hewan dan daging yang dibawa ke ibu kota. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, melalui Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Mujiati, menjelaskan bahwa pengawasan terhadap kualitas hewan dilakukan sejak sebelum pengiriman ke Jakarta. “Kita perlu memastikan bahwa hewan kurban yang akan dikirim ke Jakarta dalam kondisi sehat dan tidak mengandung penyakit yang berpotensi merugikan masyarakat,” tutur Mujiati dalam acara webinar yang digelar di Jakarta, Selasa.
Kerja Sama dengan Daerah Asal
Menurut Mujiati, DKI Jakarta telah mengadakan kerja sama dengan tujuh provinsi utama sebagai sumber pemasok hewan kurban, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, serta Lampung. “Dari 1.327 tempat penampungan hewan kurban yang ada, jumlah hewan yang masuk mencapai lebih dari 80 ribu ekor, dan semuanya berasal dari daerah-daerah tersebut,” ujarnya. Kebijakan ini diambil untuk mencegah masuknya hewan yang tidak sehat atau terjangkit penyakit ke kota metropolitan.
“Kita memastikan bahwa hewan kurban yang diizinkan masuk ke Jakarta bebas dari penyakit yang bisa menular ke manusia atau mengancam kesehatan umum,” imbuh Mujiati. Penyakit seperti antraks menjadi fokus utama karena risiko penularan yang tinggi. “Antraks adalah penyakit yang sangat berbahaya, bisa menyebar cepat dan berdampak besar jika tidak terdeteksi sejak awal,” lanjutnya.
Untuk mengatasi ancaman ini, Dinas KPKP DKI melakukan pemeriksaan di tempat pemotongan hewan kurban (TPHK) sebelum hewan diproses menjadi daging. “Pemeriksaan ini dilakukan secara menyeluruh, termasuk menguji hewan sebelum dipotong dan memastikan tanah di sekitar lokasi pemotongan juga aman dari virus antraks,” jelas Mujiati. Ia menegaskan bahwa penyakit ini tidak hanya berdampak pada hewan, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan manusia yang terlibat langsung dalam pengambilan dan pemanfaatan daging kurban.
Hasil Pemeriksaan Tahun 2025
Dalam tahun 2025, Dinas KPKP DKI Jakarta mengambil 547 sampel dari 106 lokasi TPHK yang menjadi pusat pengolahan hewan kurban. “Semua sampel yang diambil dari hewan dan lingkungan sekitarnya menunjukkan hasil negatif terhadap antraks,” kata Mujiati. Ia menambahkan bahwa pengambilan sampel tanah dilakukan karena virus ini dapat bertahan dalam kondisi lingkungan yang kering atau dingin. “Dari 93 sampel tanah yang diperiksa, tidak ditemukan virus penyebab antraks, sehingga menegaskan bahwa lingkungan pemotongan hewan di daerah pemasok aman,” ujarnya.
“Kita berharap kegiatan kurban tahun ini berjalan lancar, tanpa hambatan dari segi kesehatan hewan atau daging. Ini adalah langkah penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap keamanan produk hewani yang dipakai sebagai ibadah,” tambah Mujiati.
Lebih lanjut, Mujiati menjelaskan bahwa proses pemeriksaan tidak hanya terbatas pada hewan, tetapi juga mencakup sanitasi di seluruh tahap pengelolaan. “Panitia pemotongan harus memastikan lingkungan kerja, alat-alat pemotongan, serta proses penyimpanan daging tetap steril dan higienis,” katanya. Ia menekankan bahwa higienitas dalam setiap tahapan penting untuk mencegah kontaminasi dan menjaga kualitas daging yang disajikan kepada masyarakat.
Langkah-Langkah Pemantauan
Sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas, Dinas KPKP DKI Jakarta juga melakukan beberapa tindakan pencegahan. Pertama, inspeksi kesehatan hewan dilakukan dengan memeriksa gejala penyakit secara visual dan menggunakan alat uji spesifik. “Kita memastikan bahwa hewan tidak memiliki tanda-tanda infeksi, seperti sesak napas atau bintik putih di kulit,” terang Mujiati. Kedua, pemeriksaan daging dilakukan setelah pemotongan untuk menjamin bahwa tidak ada bagian hewan yang terkontaminasi.
“Jika hewan terjangkit antraks, maka dagingnya bisa menjadi sumber penularan. Oleh karena itu, kita mengambil langkah-langkah ekstra untuk memastikan kebersihan selama seluruh proses,” ujarnya.
Menurut Mujiati, kerja sama dengan daerah pemasok menjadi kunci keberhasilan program ini. “Kami tidak hanya mengawasi hewan saat masuk ke Jakarta, tetapi juga terus memantau kondisi mereka di tempat asal sebelum dipotong,” terangnya. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan risiko penyakit yang mungkin muncul selama transportasi atau penyimpanan. Selain itu, pihaknya juga memberikan panduan teknis kepada panitia untuk memastikan penerapan standar kesehatan hewan yang ketat.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat
Di samping pemeriksaan langsung, Mujiati mengimbau masyarakat dan panitia kurban untuk lebih waspada. “Penting bagi masyarakat untuk memperhatikan cara pengambilan dan pemanfaatan hewan kurban. Jika ada gejala penyakit yang mencurigakan, segera laporkan kepada pihak terkait,” sarannya. Ia juga menekankan bahwa kegiatan kurban tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga wujud tanggung jawab bersama dalam menjaga kesehatan dan keamanan konsumen.
“Kita harus saling berbagi informasi dan berkoordinasi agar tidak ada kekurangan dalam proses pengawasan. Ini adalah bentuk pencegahan yang efektif untuk mencegah wabah penyakit di masa depan,” pungkas Mujiati.
Dengan adanya mekanisme ini, DKI Jakarta berharap dapat memastikan bahwa hewan kurban yang diterima di kota ini benar-benar layak untuk dikonsumsi. Pemeriksaan yang ketat di lokasi pemasok dan Jakarta mencerminkan komitmen pemerintah daerah untuk menjaga kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. “Kita tidak ingin ada kejadian seperti tahun lalu, di mana sejumlah hewan kurban terbukti terjangkit penyakit dan menyeb