Main Agenda: Yayasan Perempuan Laju Perkasa dukung perempuan berdaya di era digital
Yayasan Perempuan Laju Perkasa Dorong Keterampilan Digital Perempuan
Main Agenda – Di tengah transformasi digital yang semakin cepat, Yayasan Perempuan Laju Perkasa terus berupaya memperkuat peran perempuan melalui inisiatif pendidikan. Pelatihan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dengan tema “Perempuan Berani, Berdaya dan Terampil” menjadi salah satu upaya strategis yang dilakukan lembaga tersebut. Kegiatan ini diadakan di Jakarta Timur, di mana peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari remaja hingga profesional. Acara yang berlangsung pada Sabtu (16/5) di Balairung Gajah Mada, Kraton Majapahit Jakarta, menandai langkah penting dalam meningkatkan literasi teknologi perempuan.
Komitmen untuk Pemberdayaan Perempuan
Ketua Yayasan Perempuan Laju Perkasa, Hetty Andika Perkasa, menjelaskan bahwa pelatihan AI bertujuan mengembangkan kemampuan teknis dan kreatif perempuan. “Kami melaksanakan kegiatan ini sebagai bentuk komitmen untuk membantu perempuan Indonesia beradaptasi dalam dunia digital yang semakin dominan,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu. Menurut Hetty, program ini tidak hanya memberikan wawasan tentang teknologi, tetapi juga mendorong perempuan untuk menguasai alat-alat canggih agar bisa memanfaatkannya secara optimal dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui pelatihan ini, kami harap peserta mendapatkan pengetahuan serta semangat untuk menjadi lebih bijak dan terampil dalam mengoperasikan AI,” tambah Hetty. Ia menekankan bahwa kemampuan digital kini menjadi aset penting bagi perempuan, terutama dalam meningkatkan kemandirian ekonomi dan sosial.
Isi Materi Pelatihan AI
Pelatihan yang berlangsung selama satu hari ini mencakup berbagai topik yang relevan dengan kebutuhan peserta. Mulai dari dasar-dasar AI, teknik pembuatan prompt yang efektif, hingga penerapan langsung dalam fitur-fitur digital. Selain itu, peserta juga diajak untuk mengikuti kuis yang dirancang untuk memperdalam pemahaman tentang AI dan manfaatnya bagi masyarakat. “Tujuan utama adalah memastikan peserta bisa mengakses teknologi secara mandiri dan menggunakannya untuk tujuan produktif,” jelas Hetty.
Program ini diselenggarakan dengan kerja sama antara Yayasan Perempuan Laju Perkasa, FBPWI, dan ICT Watch. Kerja sama tersebut diharapkan bisa memperkuat keberagaman perspektif dalam pembelajaran digital. Dalam prosesnya, peserta dibimbing untuk memahami cara mengintegrasikan AI dalam pekerjaan, komunikasi, dan kehidupan pribadi. Hetty menambahkan bahwa AI tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga peluang untuk menemukan solusi inovatif dalam tantangan sosial dan ekonomi.
Keterlibatan ICT Watch dalam Literasi Digital
Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti, turut mengapresiasi pelatihan yang ditujukan untuk perempuan dan kalangan pelajar. Menurutnya, inisiatif ini menjadi bagian dari upaya menyebarluaskan kesadaran akan pentingnya literasi digital di tengah kemajuan teknologi. “ICT Watch memulai gerakan literasi digital sejak 2002 melalui program Internet Sehat, dan kini bertransformasi menjadi penggerak peningkatan pengetahuan berbasis AI,” kata Indriyatno.
“Kemitraan dengan Yayasan Perempuan Laju Perkasa adalah langkah yang bermakna. Kami ingin memastikan bahwa perempuan, khususnya ibu-ibu, bisa merasakan manfaat dari kecerdasan buatan dalam berbagai aspek kehidupan,” tambah Indriyatno. Ia menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan melalui teknologi harus berkelanjutan, dengan penekanan pada penguasaan keterampilan yang relevan.
Manfaat Praktis yang Dirasakan Peserta
Salah satu peserta pelatihan, Tuti Marwati, menceritakan pengalamannya selama kegiatan. Ia mengatakan bahwa pelatihan ini membuka wawasan baru, terutama tentang cara mengontrol penggunaan gadget oleh anak-anak dan memantau konten media sosial. “Saya terkesan dengan kesempatan belajar membuat lagu melalui AI. Ini adalah hal yang luar biasa bagi saya,” ujar Tuti. Selain itu, ia juga menemukan cara menerapkan teknologi dalam pekerjaan, seperti memanfaatkan AI untuk transkrip rapat.
Tuti menekankan bahwa pelatihan ini bukan hanya sekadar pembelajaran teknis, tetapi juga menjadi wahana untuk meningkatkan kepercayaan diri. “Saya merasa lebih mampu menghadapi tantangan digital dengan lebih tenang dan siap. Ini memberi saya alat untuk berinovasi di bidang yang saya geluti,” tambahnya. Keberhasilan program ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi inisiatif serupa di daerah lain.
Perspektif Masa Depan Pemberdayaan Perempuan
Menurut Hetty, keberhasilan pelatihan ini menjadi dasar untuk program lebih lanjut yang akan mencakup pelatihan lanjutan dan kolaborasi dengan institusi lain. “Kami ingin memastikan bahwa perempuan tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi pemain utama dalam mengubahnya,” kata Hetty. Ia menambahkan bahwa era digital memungkinkan perempuan memiliki akses lebih luas ke sumber daya, asalkan dilengkapi dengan pengetahuan dan kepercayaan diri.
Indriyatno Banyumurti juga berharap pelatihan ini bisa menjadi titik awal untuk membangun ekosistem pendidikan digital yang lebih inklusif. “Kami percaya bahwa dengan meningkatkan literasi AI, perempuan bisa menjadi agen perubahan di segala bidang,” ujarnya. Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam pengembangan teknologi akan membawa dampak positif pada perekonomian dan sosial Indonesia.
Hasil yang Diinginkan dari Kegiatan
Sebagai bagian dari kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan sertifikat pelatihan, tetapi juga berbagai alat dan panduan untuk melanjutkan pembelajaran mandiri. Hetty menjelaskan bahwa program ini dirancang agar peserta bisa mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan nyata. “Harapan kami adalah setiap peserta bisa menjadi pionir dalam memanfaatkan AI untuk mendorong kesejahteraan masyarakat,” kata Hetty. Ia menekankan bahwa keberhasilan pemberdayaan perempuan tergantung pada kesadaran dan keterlibatan aktif dalam menguasai teknologi.
Dengan pelatihan seperti ini, Yayasan Perempuan Laju Perkasa dan ICT Watch menggambarkan komitmen bersama dalam menghadirkan kesetaraan gender di tengah kemajuan teknologi. Para peserta yang berasal dari berbagai profesi dan usia menunjukkan bahwa kebutuhan akan keterampilan digital tidak terbatas pada satu kelompok tertentu, melainkan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Program ini diharapkan bisa menjadi model bagi inisiatif serupa di tahun mendatang.