Visit Agenda: Gubernur NTT: Festival Fulan Fehan jadi penggerak ekonomi perbatasan

Festival Fulan Fehan Dikenal sebagai Platform Ekonomi dan Budaya Perbatasan

Visit Agenda – Kupang, Minggu – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, mengungkapkan Festival Fulan Fehan semakin berperan sebagai sarana diplomasi budaya, promosi pariwisata, dan penggerak perekonomian di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste. Acara yang digelar pada Sabtu (27/6) ini, menurutnya, telah menjadi bukti bahwa budaya mampu menjadi jembatan antar komunitas, serta penghubung ke dunia internasional.

Perubahan Kesan dalam Event Kultural

Dalam pernyataannya yang diterima di Kupang, Melki mengungkapkan bagaimana festival tersebut memberikan perubahan signifikan dalam persepsi masyarakat. “Kemarin, saya mengamati langsung bagaimana Savana Fulan Fehan berubah menjadi ruang yang penuh manusia, budaya, dan persahabatan. Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi pesan bahwa seni dan tradisi dapat menyatukan kita,” katanya.

Partisipasi Menteri dan Delegasi

Festival yang bertema “Dance for Friendship” ini tidak hanya dihadiri oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh tokoh nasional seperti Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP). Selain itu, acara tersebut diikuti oleh delegasi dari Timor Leste dan Australia sebagai simbol hubungan persahabatan serta kerja sama antarnegara.

Seni Kolosal yang Menggambarkan Identitas Timor

Dalam pementasan, Tari Likurai Kolosal menjadi pusat perhatian. Ribuan penari yang tampil di Savana Fulan Fehan dan Gunung Lakaan menciptakan suasana unik yang menggabungkan keindahan seni dengan makna sejarah. “Di hamparan savana yang luar biasa ini, ribuan penari menghadirkan Tari Likurai Kolosal. Suara tifa, langkah kaki, dan gerakan penuh makna membawa cerita leluhur Pulau Timor ke mata dunia,” ujar Melki.

“NTT bukan hanya tentang alam yang indah. NTT adalah tentang budaya yang hidup, masyarakat yang ramah, dan tradisi yang mampu menghubungkan dunia,” tambahnya.

Keanekaragaman Budaya sebagai Daya Tarik Global

Menurut Melki, Festival Fulan Fehan kini telah berkembang menjadi ajang bertaraf internasional. Acara ini mampu mempertemukan berbagai budaya, baik dari dalam maupun luar negeri, serta memperkuat persaudaraan lintas daerah. “Saya sudah menyampaikan kepada Pak Menteri Dalam Negeri bahwa ke depan acara festival ini kami dukung penuh agar bisa lebih hebat lagi,” ujarnya.

Pengaruh Ekonomi yang Terlihat

Selain meningkatkan kunjungan wisatawan, festival ini juga berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Acara tersebut menjadi etalase budaya dan destinasi wisata, sekaligus menggerakkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) lokal. Produk seperti tenun ikat, kuliner tradisional, dan kerajinan tangan dipromosikan, memberikan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Peran Pemerintah Daerah dalam Konsistensi Acara

Menurut gubernur, Pemerintah Provinsi NTT berkomitmen untuk menjaga konsistensi festival ini sebagai agenda tahunan yang mendukung pembangunan wilayah perbatasan. “Kami berkomitmen mendukung festival ini terus berjalan setiap tahun,” tegasnya. Selain itu, festival ini diharapkan mampu mengangkat identitas budaya NTT sebagai bagian dari kekayaan Indonesia.

Kolaborasi dengan Negara Tetangga

Acara ini juga menjadi wadah kolaborasi antara NTT dan negara-negara tetangga, terutama Timor Leste. Dengan hadirnya delegasi dari Australia, festival tersebut menunjukkan upaya menggarap potensi hubungan diplomatik dan ekonomi secara bersama. Melki menekankan bahwa budaya lokal tidak hanya menjadi hiasan, tetapi juga alat perekonomian yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat.

Potensi Pariwisata dan Pertumbuhan Ekonomi

Dengan kemasan yang menarik, festival ini diharapkan mampu menjadi pendorong utama pariwisata di NTT. Selain itu, ekonomi wilayah perbatasan pun diharapkan tumbuh lebih pesat melalui pembangunan infrastruktur dan promosi produk lokal. “Festival ini adalah jembatan antara budaya, pariwisata, dan perekonomian,” jelas Melki.

Perspektif Masa Depan

Menurutnya, Festival Fulan Fehan kini menunjukkan pergeseran dari acara lokal ke tingkat nasional, bahkan internasional. “Pemerintah Kabupaten Belu dan masyarakat Belu telah melakukan upaya luar biasa untuk menjadikan acara ini sukses. Kita harus terus bersinergi agar bisa mengembangkan lebih lanjut,” tuturnya.

Kontribusi Budaya dalam Membangun Kebersamaan

Budaya menjadi faktor utama dalam membangun kebersamaan antar komunitas di kawasan perbatasan. Melki menegaskan bahwa NTT memiliki kekuatan tidak hanya dari keindahan alam, tetapi juga dari kekayaan budaya yang masih terjaga dan dinikmati oleh generasi muda. “Budaya adalah identitas kita, dan melalui festival ini, kita bisa menunjukkan bahwa NTT adalah wilayah yang memiliki nilai-nilai persaudaraan yang kuat,” pungkasnya.

Kegiatan yang Menyatukan Komunitas

Dengan pementasan kolosal yang melibatkan ribuan peserta, festival ini menciptakan suasana persatuan yang sejuk dan harmonis. Tari Likurai, sebagai simbol budaya Timor, tidak hanya memperlihatkan keindahan gerakan tari, tetapi juga memperkuat rasa kebangsaan dan kebersamaan antar etnis serta antar negara. “Ini adalah cerminan dari masyarakat NTT yang bisa menerima berbagai budaya secara terbuka,” katanya.

Dengan keberhasilan ini, Melki berharap festival bisa menjadi contoh bagaimana acara budaya dapat memperkuat hubungan antarnegara, sekaligus mendorong kehidupan ekonomi masyarakat. Pemerintah daerah dan pusat akan terus mendukung upaya-upaya yang mampu membangun ekonomi dan pariwisata secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *