Latest Program: Baznas bantu kembangkan usaha batik milik disabilitas mental di Jabar

Baznas Berikan Dukungan Modal Usaha untuk Pengembangan Batik di Desa Tambakbaya

Latest Program – Jakarta – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Indonesia, melalui program “Kelompok Disabilitas Berdaya,” memberikan bantuan modal senilai Rp50 juta untuk memperkuat usaha batik ciprat yang dikembangkan oleh penyandang disabilitas mental di Yayasan Antara Graha Berdaya, Desa Tambakbaya, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bantuan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi kelompok ini, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memulihkan kondisi psikologis para peserta melalui kegiatan produksi batik yang dianggap mampu memberikan ruang untuk tumbuh dan berkembang secara produktif.

Baznas telah melatih peserta program sebelumnya untuk membangun keterampilan dan rasa percaya diri. Melalui usaha ini, para penyandang disabilitas mental diharapkan bisa menghasilkan produk yang bernilai ekonomi, sekaligus menjadi bagian dari ekosistem usaha lokal. Bantuan modal usaha yang diberikan disalurkan secara bertahap, dengan fokus pada pengembangan kapasitas produktif serta penguatan mental para peserta. “Kami sangat menghargai peran Yayasan Antara Graha Berdaya dalam menggerakkan kemandirian para penyandang disabilitas mental,” kata Saidah Sakwan, Pimpinan Baznas RI Bidang Organisasi, Kelembagaan, dan Pembinaan Daerah, dalam keterangan di Jakarta, Rabu.

“Ke depan, insya Allah akan ada program lanjutan dari Baznas yang diintegrasikan untuk memperkuat kelompok berdaya di sini, sehingga keberlanjutan ekonomi mereka tetap terjaga,” tambah Saidah. Ia menekankan bahwa pelatihan keterampilan dan usaha produktif adalah bentuk pemanfaatan dana zakat yang efektif. Selain memenuhi kebutuhan dasar para penerima, bantuan ini juga mampu menciptakan kesejahteraan jangka panjang.

Baznas menilai pendampingan yang tepat menjadi faktor utama dalam menjamin keberhasilan program. Dengan mendampingi proses produksi batik, para penyandang disabilitas mental diberikan kesempatan untuk mengasah keterampilan, membangun kepercayaan diri, dan meningkatkan kualitas hidup. Saidah menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya memanfaatkan zakat tidak hanya secara konsumtif, tetapi juga sebagai investasi dalam pemberdayaan masyarakat. “Zakat bisa menjadi alat untuk mengubah pola hidup mustahik dari penerima bantuan menjadi pelaku ekonomi yang mandiri,” ujarnya.

Pelatihan batik ciprat di Yayasan Antara Graha Berdaya terbukti memberikan dampak signifikan. Para peserta tidak hanya menguasai teknik membuat batik, tetapi juga membangun koneksi sosial serta memperoleh pengakuan dari masyarakat sekitar. Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana untuk mengurangi stigma terhadap penyandang disabilitas mental. “Usaha ini membantu mereka merasa bahwa mereka punya nilai dan bisa berkontribusi,” jelas Saidah. Dengan adanya bantuan, kelompok ini diharapkan mampu terus berkembang, baik dalam produksi maupun pemasaran produk.

Kepedulian Masyarakat dan Sinergi Kolaborasi

Kepala Desa Tambakbaya, Lukman Mulyadi, mengapresiasi dukungan Baznas yang tidak hanya berupa dana, tetapi juga memperkuat semangat masyarakat untuk terlibat dalam program pemberdayaan. Menurut Lukman, bantuan modal usaha ini memberikan dampak psikologis positif, karena para warga binaan merasa dihargai dan punya peluang untuk berpartisipasi secara aktif. “Ini membuktikan bahwa kelompok disabilitas juga mampu berdaya jika diberikan kesempatan,” ujarnya.

“Kami sangat berterima kasih kepada Baznas RI dan Baznas Kabupaten Kuningan atas kepedulian nyata melalui bantuan modal usaha ini,” kata Lukman. Ia menjelaskan bahwa yayasan berdaya di Desa Tambakbaya telah bertahan berkat kerja sama yang baik antara warga, pemilik usaha, dan pihak-pihak yang peduli. Bantuan modal usaha dari Baznas menjadi penguat untuk program-program yang telah dijalankan selama ini.

Lukman menambahkan bahwa usaha batik ciprat bukan hanya berdampak ekonomi, tetapi juga mendorong masyarakat setempat untuk terus memperhatikan kondisi penyandang disabilitas mental. “Program ini menciptakan suasana yang inklusif, sehingga mereka tidak hanya dianggap sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang aktif,” tuturnya. Ia berharap bantuan yang diberikan Baznas bisa diikuti oleh pihak lain, seperti lembaga swadaya masyarakat atau perusahaan-perusahaan lokal, untuk memperluas jaringan pemberdayaan.

Baznas RI memastikan bahwa bantuan modal ini akan disalurkan secara transparan, serta diawasi untuk memastikan penggunaannya tepat sasaran. Dengan adanya program yang dijalankan, diharapkan kelompok disabilitas mental di Jawa Barat bisa menjadi contoh keberhasilan dalam pemberdayaan. Selain itu, Baznas juga berencana menggandeng berbagai stakeholder untuk menciptakan peluang kerja dan ekonomi yang lebih luas bagi penyandang disabilitas mental. “Kerja sama antara pemerintah, Baznas, dan masyarakat adalah kunci utama agar program berjalan berkelanjutan,” ujar Saidah.

Pelatihan batik ciprat di Yayasan Antara Graha Berdaya menunjukkan bahwa disabilitas mental tidak harus menghalangi partisipasi dalam kegiatan ekonomi. Kegiatan ini menekankan pentingnya pendekatan holistik, yaitu memadukan aspek ekonomi, sosial, dan psikologis. Para peserta diberikan pelatihan dasar dalam teknik pembuatan batik, serta dikelola secara sistematis untuk memastikan konsistensi produksi. Baznas juga memberikan akses pemasaran, termasuk kerja sama dengan pihak ketiga untuk memperluas jangkauan produk.

Usaha ini diharapkan menjadi bagian dari ekosistem usaha inklusif di Jawa Barat. Dengan adanya partisipasi aktif penyandang disabilitas mental, ekonomi desa dan sekitarnya bisa terus tumbuh. Saidah menekankan bahwa program pemberdayaan seperti ini bisa menjadi model bagi wilayah lain. “Kami ingin bahwa keberhasilan di Desa Tambakbaya bisa diadopsi di daerah lain, karena keberlanjutan pemberdayaan harus terus digalakkan,” tuturnya. Dengan kata lain, bantuan modal dari Baznas bukan sekadar kredit ekonomi, tetapi juga investasi dalam peningkatan kualitas hidup mustahik.

Kelompok Disabilitas Berdaya di Yayasan Antara Graha Berdaya menunjukkan bahwa keberhasilan pemberdayaan harus didukung oleh berbagai pihak. Baznas RI berkomitmen untuk terus mengembangkan program ini, baik melalui pendampingan langsung maupun melalui peningkatan kapasitas organisasi. “Kami ingin bahwa kelompok ini bisa mandiri, sehingga mereka tidak lagi bergantung pada bantuan yang sama setiap tahun,” ujar Saidah. Hal ini juga menunjukkan bahwa zakat tidak hanya menjadi sumber dana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *