Key Strategy: MAMI sebut konsumsi domestik hadapi tantangan di kuartal II 2026

Ekonomi Domestik Hadapi Tantangan Beragam di Kuartal Kedua 2026

Key Strategy – Perkembangan ekonomi global memberikan sinyal positif bagi pasar, terutama setelah Amerika Serikat dan Iran memulai proses perundingan damai pada bulan Juni. Dalam nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara, normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz menjadi salah satu prioritas utama. Langkah strategis ini dinilai sangat penting mengingat sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia setiap harinya melewati jalur tersebut. Freddy Tedja, Kepala Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), menilai bahwa apabila pasokan energi kembali normal, tekanan inflasi global berpotensi mereda. Kondisi ini akan membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.

Namun demikian, Freddy mengingatkan bahwa pasar tetap harus menunggu finalisasi kesepakatan yang ditargetkan selesai dalam 60 hari sejak nota kesepahaman ditandatangani. Proses tersebut masih bisa diperpanjang tergantung pada perkembangan negosiasi. “Namun sekali lagi, pasar tetap harus menunggu finalisasi kesepakatan yang ditargetkan selesai dalam 60 hari sejak nota kesepahaman ditandatangani, dan masih bisa diperpanjang. Tentu yang kita harapkan adalah outcome yang baik dan sustainable,” ujarnya.

Indikator Ekonomi Menunjukkan Tekanan pada Konsumsi

Di sisi domestik, Freddy Tedja menilai konsumsi Indonesia mulai menghadapi tekanan yang lebih besar pada kuartal II 2026. Faktor-faktor pendorong tekanan tersebut meliputi kenaikan suku bunga, inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta likuiditas yang semakin ketat. Pada kuartal pertama 2026, aktivitas ekonomi domestik masih relatif tangguh karena ditopang oleh beberapa faktor musiman. Hari Raya, belanja pemerintah yang besar, investasi, serta peningkatan skala berbagai program sosial menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi saat itu.

“Namun untuk kuartal II dan secara keseluruhan tahun 2026 ini tantangan dan keterbatasan semakin meningkat seiring kenaikan BI Rate, kenaikan inflasi, pelemahan rupiah dan likuiditas yang lebih ketat,” ujar Freddy dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, tekanan terhadap konsumsi tercermin dari sejumlah indikator ekonomi terkini. Inflasi secara tahun berjalan hingga akhir Juni 2026 mencapai 1,79 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,38 persen. Kenaikan harga tersebut dinilai berdampak pada penjualan ritel yang terkontraksi selama dua bulan berturut-turut. Penjualan retail mencatat minus 3,7 persen pada April dan minus 3,2 persen pada Mei.

Respons Pemerintah dan Prospek ke Depan

Penurunan penjualan ritel itu kemudian ikut menekan aktivitas sektor manufaktur. Hal tersebut terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang turun menjadi 46,9 pada Juni 2026. Angka ini merupakan level terendah sejak Juni 2025. Selain itu, Freddy menuturkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga menunjukkan tren penurunan secara bertahap di berbagai komponen. Penurunan ini mencakup ekspektasi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, hingga prospek iklim usaha.

Di sisi lain, pemerintah telah merespons perlambatan daya beli dengan menggelontorkan stimulus ekonomi semester II 2026 senilai Rp26,34 triliun. Paket stimulus ini mencakup bantuan pangan, insentif transportasi, serta program magang dan vokasi. “Stimulus ini dapat membantu menjaga daya beli, tetapi kita harus menunggu efektivitasnya, di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas yang membatasi ruang pemberian stimulus lanjutan yang lebih besar,” kata Freddy.

Kondisi makroekonomi saat ini menuntut keseimbangan antara dukungan kebijakan fiskal dan moneter. Dengan likuiditas yang semakin ketat dan nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan, pemerintah perlu memastikan bahwa stimulus yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Sementara itu, perkembangan positif dari negosiasi AS-Iran memberikan harapan bahwa tekanan inflasi global dapat mereda dalam waktu dekat. Hal ini akan memberikan ruang bagi bank sentral di berbagai negara untuk menyesuaikan kebijakan moneter mereka sesuai dengan kondisi ekonomi yang berkembang.

Freddy menambahkan bahwa meskipun tantangan di kuartal kedua 2026 cukup signifikan, fondasi ekonomi domestik masih kuat. Sektor-sektor produktif seperti manufaktur dan ritel masih memiliki potensi untuk pulih jika kondisi eksternal membaik. Dengan kombinasi stimulus pemerintah dan normalisasi kondisi global, Indonesia diharapkan dapat melewati periode tantangan ini dengan lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *