Strategi Pengendalian Penyakit Pascabencana Harus Disesuaikan dengan Jenis Bencana
Pemandanganindah.com – Indonesia, sebagai negara kepulauan yang dilintasi jalur cincin api Pasifik dan terpapar siklus muson tahunan, menghadapi spektrum ancaman bencana yang jauh lebih luas dibanding kebanyakan negara di kawasan Asia Tenggara. Erupsi gunung api, banjir bandang, tsunami, hingga tanah longsor terjadi secara berulang dan kerap menimpa wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. Di balik kerusakan infrastruktur dan korban jiwa, terdapat ancaman kesehatan yang lebih tersembunyi namun sama-sama mematikan: lonjakan penyakit menular yang dipicu oleh perubahan lingkungan pascabencana. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ristiyanto menegaskan bahwa pola intervensi dan pengendalian penyakit pascabencana tidak dapat diterapkan secara seragam, sebab setiap jenis bencana alam membawa karakteristik risiko bawaan yang sangat spesifik.
Satu Bencana, Satu Profil Risiko
Dalam diskusi daring tentang penyakit menular pascabencana yang digelar di Jakarta pada Kamis, Ristiyanto menjelaskan bahwa intervensi kesehatan tidak bisa dirancang sebagai satu paket universal untuk semua jenis bencana. Penentuan langkah penanganan harus berangkat dari identifikasi faktor risiko utama serta pemahaman mendalam terhadap mekanisme kejadian bencananya.
“Jadi untuk intervensi suatu bencana itu tidak satu paket untuk semua. Tapi kita harus melihat faktor risiko utamanya dan apa itu kejadian bencananya.”
Pernyataan ini menggarisbawahi prinsip dasar epidemiologi pascabencana: vektor, reservoir, dan jalur penularan yang dominan berubah total tergantung pada jenis bencana. Mengabaikan perbedaan ini berisiko membuang sumber daya pada intervensi yang tidak relevan, sementara ancaman sesungguhnya tetap tak terkendali.
Erupsi Vulkanik dan Ancaman Pes
Di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, endemisitas penyakit pes (Yersinia pestis) menjadikan erupsi gunung berapi bukan sekadar ancaman langsung dari lava dan abu, tetapi juga pemicu outbreak pes yang dapat menewaskan ratusan orang dalam hitungan minggu. Ristiyanto menekankan bahwa daerah-daerah endemis pes memerlukan early warning system yang ketat terhadap penyakit ini, mengingat outbreak yang terjadi tanpa deteksi dini akan sangat berbahaya bagi masyarakat.
“Di sini untuk erupsi di daerah-daerah yang endemis pes khususnya di daerah Jawa Barat, Jawa Timur maupun di Jawa Tengah itu perlu adanya suatu early warning system yang ketat terhadap penyakit pes ini. Karena kalau terjadi suatu outbreak sangat berbahaya bagi masyarakat.”
Mekanisme transmisinya jelas: erupsi merusak habitat alami tikus, memaksa populasi rodent bermigrasi ke permukiman manusia. Intervensi utama yang harus difokuskan secara penuh adalah pengendalian hama dan populasi tikus. Ristiyanto menceritakan pengalaman langsung di lokasi erupsi Merapi dan Bromo, di mana timnya melakukan surveillance serta pengendalian tikus secara intensif dengan frekuensi dua minggu sekali.
“Nah kalau erupsi, beda lagi. Erupsi Merapi, erupsi Bromo kemarin itu melakukan surveillance dan pengendalian tikus secara intensif. Bahkan dua minggu sekali waktu itu.”
Konteks ini penting mengingat Indonesia memiliki lebih dari 1.200 gunung api aktif, menjadikannya negara dengan konsentrasi vulkanik tertinggi di dunia. Setiap erupsi berpotensi mengganggu keseimbangan ekologis lokal dan memicu perpindahan vektor penyakit dari habitat liar ke area permukiman.
Banjir dan Ancaran Vektor Berbasis Air
Berbeda secara fundamental dengan erupsi, bencana banjir memunculkan genangan air di berbagai titik permukiman. Genangan ini menjadi tempat berkembang biak ideal bagi jentik nyamuk Aedes dan Culex, yang membawa risiko demam berdarah dengue, chikungunya, dan malaria. Selain itu, air tergenang yang terkontaminasi feses manusia dan hewan meningkatkan risiko leptospirosis dan diare. Oleh karena itu, penanganan utama pada konteks banjir harus diarahkan pada sanitasi dasar, penyebaran larvasida untuk membunuh jentik nyamuk di genangan, serta pemberantasan sarang nyamuk, terutama di kawasan padat pengungsi.
“Banjir karena kita tahu bahwa banjir itu pasti akan memunculkan genangan. Berarti kemungkinan juga (pemberian) larvasida. Yang pernah saya lakukan di Aceh itu (pemberian) larvasida. Hampir semua genangan air harus dilarvasida.”
Pengalaman di Aceh menunjukkan bahwa cakupan larvasida harus bersifat menyeluruh—hampir setiap genangan air tanpa terkecuali—agar tidak ada kantong reproduksi nyamuk yang lolos dari intervensi. Kegagalan pada satu titik saja dapat menjadi sumber infeksi baru bagi ribuan warga pengungsi yang tinggal berdempetan di tenda atau gedung darurat.
Tsunami dan Penyemprotan Residual Indoor
Untuk bencana masif berskala luas seperti tsunami, Ristiyanto menekankan bahwa intervensi penyemprotan insektisida ke dalam rumah atau indoor residual spraying (IRS) wajib dilakukan secara menyeluruh dan tidak terbatas hanya di zona inti terdampak. Tsunami menghancurkan struktur bangunan, meninggalkan celah dan retakan yang menjadi tempat persembunyian nyamuk dewasa. Tanpa IRS yang komprehensif, populasi vektor dapat pulih dengan cepat dan memicu gelombang penyakit tular vektor dalam beberapa minggu setelah air surut.
Implikasi Kebijakan: Deteksi Dini, Intervensi Cepat
Dengan perbedaan pendekatan yang begitu tajam pada tiap jenis bencana, Ristiyanto berharap para pengambil kebijakan di tingkat daerah maupun nasional dapat segera melakukan studi dinamika penularan secara cepat dan akurat, tanpa perlu menunggu terjadinya lonjakan kasus secara kasatmata. Prinsipnya sederhana namun krusial: deteksi risiko lebih dini memungkinkan intervensi lebih cepat dan tepat sasaran.
“Deteksi risiko lebih dini, lakukan intervensi lebih cepat dan tepat sasaran untuk mencegah peningkatan kasus penyakit tular vektor dan reservoir penyakit pascabencana.”
Implikasi praktisnya menuntut penguatan kapasitas surveilans epidemiologi di tingkat puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten, penyusunan protokol intervensi yang sudah dipetakan per jenis bencana sebelum kejadian, serta alokasi logistik larvasida, insektisida, dan rodentisida di gudang-gudang daerah rawan. Tanpa infrastruktur kesiapsiagaan semacam ini, setiap bencana akan menjadi ujian ulang bagi sistem kesehatan yang belum siap, dan masyarakat yang paling rentan—pengungsi, lansia, anak-anak—akan menanggung beban penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is BRIN tekankan pengendalian penyakit pascabencana tak bisa?
BRIN tekankan pengendalian penyakit pascabencana tak bisa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does BRIN tekankan pengendalian penyakit pascabencana tak bisa matter?
BRIN tekankan pengendalian penyakit pascabencana tak bisa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

