Tim Medis UMI Makassar Jangkau Cibal dan Reok Barat di Pegunungan Manggarai
Pemandanganindah.com – Setelah bencana melanda wilayah Manggarai di Nusa Tenggara Timur, akses menuju komunitas pegunungan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi distribusi bantuan dan layanan kesehatan. Di tengah jalan-jalan yang rusak dan medan yang terjal, Tim Relawan Medis Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar memilih menembus kawasan pegunungan untuk menjangkau warga yang paling terdampak. Langkah ini bukan sekadar pengiriman logistik, melainkan upaya memastikan bahwa masyarakat di pelosok tidak ditinggalkan tanpa penanganan medis dasar.
Koordinasi dengan Pemda dan Penentuan Titik Tujuan
dr. Berry Erida Hasbi, Sp.B, selaku Ketua Tim Bantuan Medis UMI di lapangan, menjelaskan bahwa keputusan untuk bergerak ke Kecamatan Cibal dan Reok Barat diambil setelah berkoordinasi langsung dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai. Informasi yang diterima menunjukkan bahwa sejumlah puskesmas di wilayah tersebut belum memiliki dokter yang bertugas, sehingga kebutuhan akan tenaga medis menjadi sangat mendesak.
“Kami mendapat informasi bahwa di sejumlah puskesmas belum ada dokter. Karena itu, setelah berkoordinasi dengan BPBD dan Dinas Kesehatan, kami bergerak ke Cibal dan Reok Barat.”
Pemilihan lokasi ini juga didasarkan pada pertimbangan strategis. Berry menjelaskan bahwa bantuan dan layanan kesehatan secara umum lebih mudah disalurkan ke daerah yang aksesnya relatif lebih dekat. Namun, data dari Dinas Kesehatan dan BPBD Manggarai mengonfirmasi bahwa Cibal dan Reok Barat masih menjadi wilayah yang kekurangan dukungan tenaga medis, sehingga tim memutuskan untuk menjangkau titik tersebut meskipun medan yang harus ditempuh cukup berat.
Medan Terjal dan Kebutuhan Dasar Pascabencana
Perjalanan menuju lokasi bukan hal yang ringan. Berry mengungkapkan bahwa tim harus menyusuri jalan berkelok selama sekitar tiga hingga empat jam, melewati lereng pegunungan serta sejumlah ruas jalan yang rusak akibat dampak bencana. Kondisi infrastruktur pascabencana membuat setiap kilometer yang ditempuh memerlukan kewaspadaan ekstra.
“Sekitar tiga hingga empat jam tim menyusuri jalan berkelok, melewati lereng pegunungan dan sejumlah ruas jalan yang rusak akibat kondisi pascabencana. Kami turut bahagia karena kedatangan kami disambut baik.”
Sesampainya di wilayah Cibal dan Reok Barat, tim langsung memulai pemeriksaan kesehatan. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah anak mengalami batuk dan sesak napas, sementara kelompok lanjut usia menghadapi kesulitan nyata untuk menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Selain persoalan medis, tim juga mencatat bahwa banyak warga masih bertahan dengan kebutuhan dasar yang sangat terbatas pascabencana, meliputi obat-obatan, selimut, terpal, dan tempat berlindung yang layak.
Alasan Memilih Cibal dan Reok Barat, Bukan Dampek
Menariknya, sebagian besar tim medis lain yang beroperasi di Manggarai saat itu justru bergerak ke wilayah Dampek. Berry menjelaskan bahwa Cibal dan Reok Barat belum banyak tersentuh oleh tim medis karena konsentrasi bantuan tertuju ke daerah lain. Kondisi ini membuat kebutuhan pelayanan kesehatan di kedua kecamatan tersebut tetap tinggi dan belum terpenuhi.
“Tempat ini belum banyak tersentuh karena rata-rata tim medis lain ke daerah Dampek. Karena itu kami mencoba menjangkau Cibal dan Reok Barat.”
Keputusan untuk mengisi kekosongan layanan di wilayah yang kurang mendapat perhatian ini menunjukkan pendekatan yang lebih merata dalam distribusi bantuan medis, bukan sekadar mengikuti arus utama distribusi yang cenderung terkonsentrasi di satu titik.
120 Warga Terima Layanan dalam Satu Misi
Dalam misi tersebut, tim medis UMI memeriksa 110 pasien yang datang ke tenda pengobatan sementara, ditambah 10 pasien lain yang dikunjungi langsung di rumah masing-masing. Total 120 warga memperoleh pelayanan kesehatan dalam satu kali operasi lapangan.
“Total 120 warga memperoleh pelayanan kesehatan dalam misi tersebut. Keluhan yang banyak ditemukan antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dermatitis, dan gangguan tidur atau insomnia.”
Pola keluhan yang dominan—mulai dari infeksi saluran pernapasan akut hingga dermatitis dan gangguan tidur—mengindikasikan dampak langsung kondisi lingkungan pascabencana terhadap kesehatan warga. Cuaca pegunungan yang dingin, keterbatasan tempat tinggal yang layak, serta stres akibat kehilangan tempat tinggal menjadi faktor pemicu yang saling berkaitan. Insomnia, misalnya, bukan sekadar keluhan ringan, melainkan cerminan dari ketidakamanan dan ketidakpastian yang masih dirasakan masyarakat di wilayah terdampak.
Upaya tim medis UMI ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga soal memastikan bahwa setiap warga, termasuk mereka yang tinggal di lembah-lembah pegunungan Manggarai yang sulit dijangkau, tetap mendapat akses terhadap layanan kesehatan dasar. Tanpa kehadiran tenaga medis di titik-titik seperti Cibal dan Reok Barat, luka-luka kecil dapat berkembang menjadi masalah serius, dan kelompok rentan seperti anak-anak serta lansia menjadi paling berisiko.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Relawan medis UMI menembus pegunungan Manggarai?
Relawan medis UMI menembus pegunungan Manggarai is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Relawan medis UMI menembus pegunungan Manggarai matter?
Relawan medis UMI menembus pegunungan Manggarai matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

