Pemulihan Jiwa Anak Pasca-Gempa Flores Jadi Prioritas Utama Undana
Pemandanganindah.com – Getaran bumi yang mengguncang Pulau Flores meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat dari luar. Di balik reruntuhan bangunan dan jalan yang retak, terdapat lapisan trauma psikologis yang menimpa ribuan warga, terutama anak-anak yang tiba-tiba kehilangan tempat tinggal, rutinitas belajar, dan rasa aman. Menyadari dimensi tersembunyi ini, Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang menempatkan pemulihan mental generasi muda sebagai inti dari seluruh operasi pascabencana yang kini mereka jalankan.
Rektor Undana, Prof Jefri S. Bale, menegaskan bahwa memasuki fase pemulihan, arah kerja kampus bergeser dari penanganan darurat menuju pendampingan emosional. Pernyataan itu ia sampaikan di Kupang pada hari Rabu, ketika tim-tim relawan Undana sudah beroperasi di beberapa titik terdampak gempa.
“Sekarang fokus kami lebih ke pendampingan terhadap trauma bagi anak-anak khususnya, mungkin juga bantuan berupa obat-obatan yang lebih diperlukan.”
Dua Kloter Relawan di Lapangan
Untuk mewujudkan pendampingan tersebut, Undana telah melepas dua kloter tim relawan ke wilayah-wilayah yang paling terdampak. Komposisi setiap kloter bersifat multidisipliner: mahasiswa dari berbagai program studi, tenaga kesehatan profesional, personel Tim Bantuan Medis (TBM) Komodo, serta dosen yang mendampingi kegiatan Kuliah Kerja Nyata Berdampak Tematik Penanggulangan Bencana. Keberagaman latar belakang ini memungkinkan tim tidak hanya menyalurkan logistik dan kebutuhan medis, tetapi juga melakukan interaksi langsung dengan keluarga dan anak-anak yang membutuhkan ruang aman untuk mengekspresikan ketakutan serta kecemasan mereka.
Jefri menjelaskan bahwa pengerahan tim tidak bersifat satu kali selesai. Kampus akan terus menyesuaikan jumlah dan komposisi personel yang dikirimkan berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Artinya, jika suatu desa masih membutuhkan kehadiran psikolog atau tenaga medis dalam jangka panjang, Undana akan memperpanjang durasi pendampingan di lokasi tersebut.
Mengapa Trauma Healing Anak Menjadi Kritis
Gempa bumi bukan sekadar peristiwa geologis; ia adalah pengalaman eksistensial bagi siapa pun yang mengalaminya. Bagi anak-anak, efeknya jauh lebih dalam. Kehilangan rumah yang menjadi ruang bermain, terputusnya akses ke sekolah, serta paparan langsung terhadap suara gemuruh dan getaran tanah dapat memicu gangguan kecemasan, gangguan tidur, hingga regresi perilaku. Tanpa intervensi tepat waktu, tekanan psikologis semacam itu berisiko menetap dan mengganggu perkembangan kognitif serta sosial anak dalam jangka panjang.
Di sinilah peran program trauma healing menjadi vital. Melalui kegiatan bermain terpandu, bercerita, dan interaksi kelompok yang difasilitasi oleh tenaga terlatih, anak-anak diberi ruang untuk memproses pengalaman traumatis secara bertahap. Pendekatan ini tidak bertujuan “menghapus” ingatan, melainkan membantu anak membangun kembali rasa kontrol dan keamanan emosional.
Menjaga Keberlanjutan Pendidikan
Di samping pemulihan psikologis, Undana juga menyiapkan skenario dukungan terhadap kelangsungan proses belajar anak di wilayah yang fasilitas pendidikannya rusak. Jefri menegaskan bahwa kampus siap menyediakan alternatif ruang belajar sementara apabila gedung sekolah atau kampus tidak lagi layak digunakan.
“Kalau misalnya ada kampus atau sekolah yang gedungnya tidak bisa digunakan, kita bisa memberikan bantuan berupa bangunan atau tenda darurat.”
Langkah ini penting karena setiap hari tanpa sekolah memperpanjang isolasi sosial anak dan memperdalam rasa ketidakpastian. Kehadiran ruang belajar darurat, meskipun sederhana, memberi sinyal bahwa kehidupan normal akan kembali dan bahwa komunitas masih hadir untuk mereka.
Kewajiban Moral Perguruan Tinggi
Jefri menekankan bahwa keterlibatan Undana dalam penanganan bencana bukan sekadar program sosial kampus, melainkan kewajiban moral institusi pendidikan tinggi untuk hadir di tengah masyarakat. Peran ini tidak berhenti ketika fase tanggap darurat berakhir; justru di titik itulah kerja pemulihan jangka menengah dan panjang dimulai.
“Di hari pertama setelah gempa, kita langsung membuka posko untuk menerima donasi dan bantuan. Posko itu juga merupakan posko bagi perwakilan perguruan tinggi negeri dan swasta yang ada di Indonesia.”
Posko tersebut berfungsi sebagai titik konsolidasi logistik sekaligus forum koordinasi antarperguruan tinggi. Dengan demikian, Undana tidak hanya bertindak sebagai pemberi bantuan, tetapi juga sebagai fasilitator yang mempertemukan kapasitas berbagai institusi pendidikan di seluruh Indonesia agar respons terhadap korban gempa Flores lebih terstruktur dan tidak tumpang tindih.
Ke depan, seluruh dukungan Undana akan terus dikalibrasi mengikuti kebutuhan riil masyarakat terdampak. Pemulihan psikologis anak dan keberlanjutan pendidikan diposisikan sebagai dua pilar utama yang tidak dapat dipisahkan dari proses pemulihan pascagempa Flores secara keseluruhan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Undana fokus trauma healing anak korban?
Undana fokus trauma healing anak korban is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Undana fokus trauma healing anak korban matter?
Undana fokus trauma healing anak korban matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

