New Policy: Kemenhaj perkuat layanan ramah lansia dan disabilitas perempuan
Kemenhaj perkuat layanan ramah lansia dan disabilitas perempuan
New Policy – Makassar, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengintensifkan upaya memastikan kenyamanan bagi jamaah calon haji yang termasuk lansia, disabilitas, dan perempuan dalam musim haji 2026. Fokus pada pelayanan khusus ini menjadi prioritas utama sejak jamaah tiba di asrama haji hingga keberangkatan ke Arab Saudi. Ikbal Ismail, Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Makassar, menjelaskan bahwa langkah tersebut bertujuan memudahkan perjalanan para jamaah yang memerlukan dukungan tambahan.
Intervensi Praktis di Embarkasi Makassar
Dalam pelayanan di Embarkasi Makassar, langkah khusus dimulai saat jamaah turun dari bus dan memasuki aula penerimaan. Petugas setempat telah menyediakan berbagai fasilitas seperti kursi roda, tenaga pendamping, dan area khusus untuk menjamu jamaah lansia. “Sejak jamaah mendarat di aula, kami sudah menyiapkan alat bantu berjalan, petugas yang membantu pergerakan, dan ruang layanan terpisah agar lebih mudah diakses,” tutur Ikbal.
“Pada tahun ini, Kemenhaj membuat penekanan pelayanan ramah lansia, disabilitas, dan perempuan. Karena itu, dibentuk layanan khusus untuk melayani jamaah calon haji lansia, disabilitas, dan perempuan,” ujarnya.
Ikbal menegaskan bahwa perhatian terhadap kelompok rentan ini tidak hanya berhenti di asrama haji. Saat proses pemberangkatan ke bandara, jamaah lansia diberangkatkan menggunakan ambulans guna memastikan kenyamanan dan keselamatan selama perjalanan. “Jamaah lansia tidak lagi menggunakan kendaraan biasa, tetapi diangkut dengan ambulans hingga tiba di Arab Saudi,” imbuhnya.
Di samping itu, petugas PPIH Arab Saudi juga menunjukkan komitmen tinggi dalam menyambut jamaah. Dari berbagai video yang diunggah, terlihat mereka sangat antusias memberikan bantuan. “Mereka sangat senang melayani tamu-tamu Allah,” ujarnya sambil menyoroti kerja sama antara PPIH Makassar dan Arab Saudi.
Penjelasan Kategori Jamaah Lansia
Ikbal menjelaskan bahwa kategori jamaah lansia ditentukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025, yakni individu yang berusia 65 tahun ke atas. Program ini juga mencakup kategori disabilitas dan perempuan, dengan tujuan menjamin akses yang lebih mudah untuk semua kelompok. “Jamaah yang berusia 65 tahun ke atas dianggap lansia, dan mereka mendapatkan prioritas kuota khusus,” kata dia.
Kemenhaj memberikan kuota prioritas sebesar lima persen dari total 203 ribu calon haji nasional. Kuota ini dirancang untuk memastikan lebih banyak lansia dapat menunaikan ibadah haji, terlepas dari keterbatasan fisik mereka. Ikbal menuturkan bahwa beberapa jamaah lansia bahkan berangkat dengan usia mencapai 84 tahun. “Ada jamaah yang berusia 84 tahun tetap berangkat, menunjukkan komitmen kuat terhadap keberangkatan,” ujarnya.
“Nah, kemarin ada program prioritas kuota jamaah calon haji lansia sebanyak lima persen dari 203 ribu kuota. Bahkan, ada jamaah lansia yang berangkat usianya mencapai 84 tahun,” ucapnya.
Ikbal menjelaskan bahwa kuota prioritas diberikan kepada jamaah lansia yang telah mendaftar haji secara konsisten selama lima tahun. “Program ini dilakukan untuk memudahkan jamaah yang sudah menunggu lama. Kami ingin memastikan mereka tidak terlewatkan,” katanya. Selain itu, ia menegaskan bahwa pelayanan ini akan terus berlanjut setiap tahun, guna memperluas peluang bagi lansia.
Peningkatan Fasilitas untuk Perempuan dan Disabilitas
Dalam menunjang keberangkatan perempuan dan disabilitas, Kemenhaj memperkenalkan berbagai inovasi. Untuk perempuan, layanan seperti perlengkapan khusus dan pengaturan jalur lembut telah disiapkan. Sementara itu, bagi jamaah disabilitas, diatur sistem transportasi yang lebih fleksibel, termasuk penggunaan kursi roda dan bantuan pribadi. “Ini semua bagian dari upaya Kemenhaj untuk menyesuaikan kebutuhan setiap jamaah,” jelas Ikbal.
Ikbal juga menyoroti keterlibatan masyarakat dan organisasi dalam mendukung pelayanan tersebut. “Kami bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk keluarga jamaah, agar semua kebutuhan terpenuhi,” katanya. Pada gelombang pertama pemberangkatan, jumlah jamaah lansia yang berangkat mencapai 1.463 orang. Angka ini menjadi bukti bahwa Kemenhaj berhasil meningkatkan aksesibilitas untuk kelompok rentan.
Dengan pendekatan yang lebih terstruktur, Kemenhaj berupaya memastikan setiap jamaah merasa nyaman dan aman selama perjalanan ke Tanah Suci. Pelayanan ini tidak hanya terbatas pada alat bantu fisik, tetapi juga mencakup pengaturan jadwal yang lebih fleksibel, tempat ibadah yang mudah dijangkau, dan pemantauan kesehatan rutin. Ikbal menegaskan bahwa prioritas bagi lansia, disabilitas, dan perempuan diwujudkan melalui berbagai inisiatif, termasuk pelatihan petugas penyelenggara haji.
Ikbal Ismail menyampaikan bahwa keberhasilan program ini tidak terlepas dari keterlibatan masyarakat. “Seluruh elemen masyarakat diimbau untuk turut serta dalam memastikan kenyamanan jamaah,” ujarnya. Dengan demikian, Kemenhaj tidak hanya memperhatikan kebutuhan fisik, tetapi juga menyediakan dukungan emosional dan psikologis bagi para jamaah.
Komitmen untuk Kesetaraan dan Kemandirian
Pelayanan ramah lansia dan disabilitas juga menjadi bagian dari upaya menciptakan kesetaraan dalam ibadah haji. Ikbal menegaskan bahwa jamaah disabilitas diberikan fasilitas seperti akses ke toilet khusus, area parkir yang mudah, dan pengaturan jadwal yang disesuaikan dengan kemampuan individu. “Kami ingin jamaah disabilitas merasa bisa mengikuti semua rangkaian ibadah haji tanpa hambatan,” tuturnya.
Di samping itu, Kemenhaj juga memberikan pelatihan khusus kepada petugas penyelenggara haji. Materi pelatihan mencakup cara memandu jamaah disabilitas, teknik menyesuaikan jadwal bagi lansia, serta penggunaan teknologi untuk memudahkan proses. Ikbal menambahkan bahwa langkah ini menjadi langkah penting dalam memastikan keberlanjutan pelayanan yang baik di masa mendatang.
Kebijakan Kemenhaj dalam menangani jamaah rentan ini tidak hanya berdampak pada pengalaman pribadi, tetapi juga menciptakan contoh terbaik bagi penyelenggara haji di negara lain. Ikbal menegaskan bahwa pelayanan ini dirancang untuk menjadi benchmark keberangkatan yang inklusif. “Kami berharap pelayanan seperti ini bisa diadopsi di Embarkasi lain,” katanya.
Dengan adanya program kuota prioritas dan layanan khusus, Kemenhaj menggarisbawahi komitmen untuk menjadikan haji sebagai kegiatan yang lebih mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat. Ikbal Ismail menutup w