Meeting Results: Xinjiang di China percepat akses membaca digital di daerah pedesaan

Xinjiang di China percepat akses membaca digital di daerah pedesaan

Meeting Results – Seiring kemajuan teknologi, Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China, semakin giat mengembangkan akses perpustakaan digital untuk masyarakat pedesaan. Inisiatif ini bertujuan memberdayakan pengetahuan melalui media elektronik, mengingat banyak warga desa masih menghadapi keterbatasan dalam mencari bahan bacaan. Seorang warga desa bernama Shemshinur Batur, misalnya, telah mengalami perubahan signifikan dalam rutinitas membacanya sejak perpustakaan desa mulai beroperasi.

Dengan dukungan aplikasi WeChat, platform

“Perpustakaan Digital Pedesaan Xinjiang”

menawarkan akses gratis ke berbagai kategori buku, seperti sastra, kesehatan, teknik pertanian, serta kebugaran. Fitur ini mengizinkan pengguna mengakses konten dalam enam bahasa, termasuk Mandarin, Uighur, dan Kazakh. Dalam waktu kurang dari setahun sejak peluncurannya pada September 2024, platform tersebut telah mengumpulkan lebih dari 17.000 judul buku elektronik dan menawarkan layanan seperti audiobook dan video.

Peningkatan Partisipasi Masyarakat

Menurut data terkini, platform ini telah menarik 241.000 pengguna terdaftar dan mencatatkan lebih dari 18,37 juta kunjungan. Kebiasaan membaca yang sebelumnya terbatas oleh jarak dan waktu kini lebih mudah diakses. Shemshinur Batur, yang tinggal di Kashgar, menjelaskan bahwa sebelum adanya akses digital, ia memerlukan usaha besar untuk mengunjungi perpustakaan. Kini, ia dapat mendengarkan novel favoritnya sambil menyiapkan makanan atau melakukan pekerjaan rumah tangga.

“Belakangan ini saya terpikat oleh novel panjang berjudul

“Sungai Hobok”

(Hobok River),” katanya. “Buku-buku tentang teknik pertanian juga sangat berguna bagi saya, karena membantu memecahkan berbagai masalah di kebun.” Kemudahan akses ini menunjukkan upaya pemerintah Xinjiang untuk membentuk kebiasaan membaca yang lebih luas, baik secara online maupun offline.

Perpustakaan Digital sebagai Jembatan

Komunitas desa di Xinjiang kini dilengkapi dengan fasilitas digital yang memudahkan penggunaan layanan perpustakaan. Misalnya, dalam aplikasi WeChat, pengguna bisa mencari buku-buku terdekat secara real-time melalui peta interaktif yang terintegrasi. Selain itu, fitur seperti peminjaman antarperpustakaan, pemesanan daring, dan pengiriman buku ke rumah rumah telah diterapkan di beberapa daerah.

Dalam wawancara dengan Zhang Shihang, wakil direktur Perpustakaan Kashgar, ia menjelaskan bahwa perpustakaan desa di kota tersebut menyediakan layanan digital yang mendukung komunitas. “Kini, warga bisa mengakses berbagai koleksi melalui ponsel, termasuk audiobook dan video edukatif,” katanya. Layanan ini memungkinkan masyarakat pedesaan, terutama yang berada di daerah terpencil, untuk tetap terlibat dalam kegiatan literasi meskipun tidak memiliki akses langsung ke pusat perpustakaan.

Kebiasaan Membaca di Seluruh Wilayah

Xinjiang memiliki hampir 9.000 perpustakaan desa yang tersebar di 96 daerah setingkat wilayah. Di Kashgar, misalnya, perpustakaan lokal rutin mengadakan sesi berbagi bacaan dan ceramah. Tujuannya adalah menjadikan tempat tersebut sebagai pusat informasi yang aktif. Zhao Yan, seorang warga desa di Changji, mengatakan bahwa sebelumnya ia memerlukan waktu setengah hari untuk pergi ke toko buku terdekat yang berjarak 10 km dari rumahnya.

“Kini, dengan perpustakaan desa kami yang menyediakan buku beragam, anak-anak bisa sering mengunjungi sini selama masa libur,” tambah Zhao. Ia menekankan peran perpustakaan dalam meningkatkan minat baca generasi muda di wilayah tersebut. Pembaruan teknologi juga berdampak pada pengembangan layanan di desa-desa terpencil, seperti di Prefektur Otonom Etnis Hui Changji.

Peran Rencana Lima Tahun ke-15

Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030) China menekankan perluasan layanan perpustakaan pintar dan platform kebudayaan publik berbasis cloud. Regulasi nasional terbaru yang diberlakukan Februari lalu memberikan kerangka kerja untuk mengintegrasikan aktivitas membaca digital dan tradisional. Selain itu, kebijakan ini memperkuat penyediaan konten berkualitas tinggi serta meningkatkan kenyamanan dalam membaca secara online.

Salah satu manfaat yang dirasakan warga adalah pengembangan sumber daya manusia melalui edukasi literasi. Rabiya Yusup, siswi SD di wilayah Hoxud, mengungkapkan bahwa audiobook telah memperkaya pengalaman membacanya. “Mendengarkan karya sastra klasik seperti

“Perjalanan ke Barat”

(Journey to the West) dan

“Impian di Kamar Merah”

(Dream of the Red Chamber) memberikan sensasi berbeda dibandingkan membaca teks secara langsung,” jelas Rabiya. “Para narator ekspresif membuat saya lebih tertarik untuk menikmati literasi secara aktif.”

Adopsi platform digital ini juga berdampak pada pengurangan ketergantungan pada layanan perpustakaan fisik. Di beberapa daerah, masyarakat dapat mengumpulkan poin yang bisa ditukar dengan kebutuhan pokok, seperti beras, minyak goreng, dan wajan. Hal ini menggambarkan strategi pemerintah untuk menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan sehari-hari, sehingga memicu partisipasi lebih luas.

Upaya ini menunjukkan bahwa Xinjiang berkomitmen untuk menjadikan literasi sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat. Dengan integrasi teknologi, akses ke informasi tidak lagi terbatas oleh jarak, sehingga mendorong tumbuhnya komunitas pembaca yang lebih inklusif. Kebiasaan membaca digital di daerah pedesaan tidak hanya memperkaya kognisi, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal melalui pelayanan yang menjangkau seluruh wilayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *