Topics Covered: Menpar pantau pelaksanaan RIDPN Raja Ampat 2024-2044
Menpar Pantau Pelaksanaan RIDPN Raja Ampat 2024–2044
Topics Covered – Jakarta – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana melakukan inspeksi langsung ke Papua Barat Daya, dengan tujuan memastikan keberhasilan pelaksanaan Rencana Induk Destinasi Pariwisata Nasional (RIDPN) untuk Raja Ampat, yang diperkirakan akan berlangsung hingga tahun 2044. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka mengevaluasi kinerja pemerintah daerah serta mendorong sinergi antara pusat dan lokal dalam mewujudkan visi pariwisata yang berkelanjutan.
Langkah Pemantauan untuk Keberlanjutan
Dalam sesi rapat bersama Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat di Sorong, Senin (11/5), Widiyanti menyampaikan bahwa pertemuan tersebut bertujuan menyelaraskan strategi pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga kualitas destinasi pariwisata. “Kita ingin Raja Ampat menjadi pusat pariwisata geopark yang kuat, didasari konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan,” ujarnya dalam siaran pers yang diterbitkan di Jakarta, Selasa.
“Raja Ampat harus dijaga sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan. Industri pariwisata di sini tidak boleh bersifat ekstraktif maupun eksploitatif yang mengorbankan alam,” tambah Widiyanti.
Menurut Widiyanti, koordinasi antara pihak daerah dan pusat menjadi elemen penting dalam menghadapi tantangan nyata, seperti ancaman aktivitas ekstraktif dan manajemen daya dukung lingkungan. Ia menekankan bahwa pariwisata berkualitas bukan hanya tentang jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga mencakup aspek keamanan, kebersihan, aksesibilitas, layanan, serta kehormatan terhadap alam dan manusia.
Kebutuhan Intervensi Bersama
Hasil penilaian lapangan menunjukkan adanya beberapa titik yang perlu diperhatikan. Di antaranya adalah pengendalian aktivitas yang bisa merusak ekosistem laut, serta penataan lalu lintas kapal wisata. Widiyanti menyebutkan bahwa pemerintah sedang mengevaluasi penambahan mooring buoy (pelampung tambat) sebagai solusi utama mengurangi kerusakan terumbu karang akibat penggunaan jangkar kapal. “Komitmen pemerintah daerah sangat penting untuk memastikan pengelolaan mooring buoy berjalan efektif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam konteks yang sama, Widiyanti menyoroti risiko overtourism yang mungkin terjadi jika frekuensi penerbangan ke Sorong ditingkatkan tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Ia mengingatkan bahwa status Raja Ampat sebagai “Surga Terakhir di Bumi” menuntut tanggung jawab besar bagi aparatur pemerintah dalam menjaga etika lingkungan di atas keuntungan jangka pendek.
Keunggulan Raja Ampat dalam Konservasi
Sebagai wakil gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau mengungkapkan bahwa Raja Ampat memegang dua gelar UNESCO, yakni Global Geopark dan Biosphere Reserve. Ia juga menambahkan bahwa kawasan ini telah meraih status Platinum Blue Park 2024 dari Marine Conservation Institute. “Keistimewaan ini menjadikan Papua Barat Daya sebagai laboratorium pariwisata berkelanjutan yang unik di dunia,” katanya.
“Raja Ampat merupakan contoh nyata destinasi yang menggabungkan nilai ekologis dan ekonomi secara seimbang,” ujar Nausrau.
Nausrau juga menyebutkan beberapa tantangan yang dihadapi pelaku pariwisata lokal. Antara lain, keterbatasan kompetensi tenaga kerja, jadwal feri Sorong–Waisai yang kurang optimal, serta kurangnya transportasi antar-pulau dengan tarif terjangkau. Selain itu, akses internet berbasis satelit di pulau-pulau terpencil masih perlu ditingkatkan untuk memperkuat konektivitas.
Langkah untuk Mempertahankan Kualitas Destinasi
Nausrau menekankan perlunya dukungan dari Kementerian Pariwisata dalam proses revalidasi status UNESCO Raja Ampat, yang akan dilakukan tim asesor pada Agustus 2026. “Kolaborasi ini menjadi kunci untuk menjaga keunggulan kawasan sebagai destinasi pariwisata kelas dunia,” tuturnya.
Pemerintah setempat berharap bahwa kebijakan-kebijakan yang diusulkan dapat diterapkan secara konsisten untuk memastikan Raja Ampat tetap menjadi referensi pariwisata berkelanjutan. Tantangan seperti pengelolaan sumber daya manusia dan pengurangan dampak lingkungan menjadi fokus utama dalam rencana ini.
Strategi untuk Menjaga Keseimbangan
Kunjungan Menpar Widiyanti tidak hanya menjadi evaluasi, tetapi juga momentum untuk merumuskan strategi jangka panjang. Di antaranya, penguatan kebijakan terkait keberlanjutan pariwisata melalui pemanfaatan teknologi modern dan peningkatan kapasitas SDM. “Solusi ini harus mengintegrasikan kepentingan ekonomi dengan perlindungan lingkungan, karena keduanya saling terkait,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Raja Ampat telah menunjukkan potensi besar sebagai destinasi pariwisata. Namun, untuk menjaga eksistensinya sebagai “Surga Terakhir di Bumi”, perlunya pengelolaan yang lebih ketat. Menpar Widiyanti menyarankan pembatasan jumlah wisatawan dan peningkatan layanan infrastruktur sebagai langkah preventif.
Menurut Widiyanti, pengelolaan pariwisata yang baik harus memprioritaskan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan. “Kita tidak ingin Raja Ampat menjadi tempat yang hanya diuntungkan secara sementara, tetapi yang bisa berkelanjutan hingga generasi mendatang,” pungkasnya.
Konteks Internasional dan Lokal
Dalam