Legislator minta Pemprov DKI tingkatkan kewaspadaan terkait Hantavirus

Legislator Minta Pemprov DKI Tingkatkan Kewaspadaan terkait Hantavirus

Legislator minta Pemprov DKI tingkatkan kewaspadaan – Dalam upaya mencegah penyebaran Hantavirus, para anggota legislatif kembali meminta Pemprov DKI Jakarta untuk meningkatkan langkah-langkah pencegahan. Pemprov DKI kini menjadi pusat perhatian, karena satu dari 23 kasus infeksi di Indonesia diketahui terjadi di wilayah DKI. Dalam pernyataan resmi, Sekretaris Komisi E Dewan DPRD DKI Jakarta, Justin Adrian Untayana, menegaskan bahwa kewaspadaan harus ditingkatkan secara lebih intensif untuk menghindari kemungkinan wabah yang bisa mengancam masyarakat. “Pemprov DKI wajib meningkatkan upaya pencegahan Hantavirus, karena jika tidak segera diatasi, virus ini bisa menyebar ke seluruh wilayah dan mengganggu kesehatan publik,” tutur Justin pada Selasa (12/5).

Peringatan atas Risiko Kematian dan Penyebaran Virus

Justin mengingatkan bahwa Hantavirus memiliki potensi menyebabkan kematian yang signifikan, meski penyebarannya tidak secepat virus lain. “Meskipun penularan terbatas, kita tidak boleh lengah. Jika tidak diambil tindakan segera, virus ini bisa memperburuk kondisi kesehatan masyarakat,” imbuhnya. Ia menekankan bahwa virus ini memiliki dampak serius, terutama karena kemampuannya menginfeksi pasien dan menyebabkan komplikasi fatal. “Kita mengetahui bahwa salah satu pasien terduga Hantavirus di Indonesia berada di DKI Jakarta. Maka, ini perlu diawasi secara ketat, agar kita dapat mengidentifikasi riwayat perjalanan dan interaksi sang pasien sebelumnya,” tambah Justin.

“Pemprov DKI harus memastikan bahwa langkah-langkah preventif dilakukan secara terpadu, karena risiko penyebaran virus ini tetap ada. Perlu ditingkatkan kejelian dalam mengawasi area sekitar tempat tinggal dan perawatan pasien, agar tidak terjadi penularan ke orang lain,” ujar Justin dalam wawancara.

Menurut Justin, peningkatan kewaspadaan terkait Hantavirus juga perlu melibatkan masyarakat secara aktif. “Gerakan hidup sehat harus digencarkan, terutama di lingkungan perkotaan yang rawan tikus. Kita harus memastikan bahwa alat pelindung diri (APD) digunakan secara rutin oleh tenaga kesehatan dan warga umum. Selain itu, kebersihan lingkungan harus terjaga agar tikus tidak berkembang biak di wilayah DKI Jakarta,” jelasnya. Ia menyarankan peningkatan pengawasan di rumah sakit dan pusat layanan kesehatan, serta edukasi masyarakat tentang cara mencegah paparan virus ini.

Kemungkinan Penyebaran di Wilayah DKI Jakarta

Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa Hantavirus bisa menyebar melalui kontak langsung dengan tikus atau makanan yang terkontaminasi. Dalam konteks DKI Jakarta, yang memiliki populasi tinggi dan lingkungan yang padat, keberadaan virus ini menimbulkan risiko lebih besar. “Jika tidak diatasi secara cepat, virus ini bisa menyebar ke populasi yang lebih luas, terutama di area dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Jakarta,” kata Justin. Ia menegaskan bahwa Pemprov DKI harus menjadi garda depan dalam mencegah penyebaran virus, dengan kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah daerah dan pusat.

“Kita harus memastikan bahwa respons terhadap kasus Hantavirus terkoordinasi dan cepat. Selain mengawasi pasien, pemerintah DKI juga perlu melakukan penguatan terhadap sistem deteksi dini. Ini adalah langkah kritis untuk mencegah krisis kesehatan yang bisa terjadi di masa depan,” ujar Justin.

Di sisi lain, pelaku Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa Hantavirus yang terdeteksi di Indonesia hingga saat ini belum menunjukkan penularan dari manusia ke manusia. Namun, mereka meminta Pemprov DKI untuk tetap waspada, karena penyebaran kecil tetap bisa terjadi. “Kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) di kapal pesiar MV Hondius, misalnya, menunjukkan bahwa virus ini bisa berdampak serius jika tidak diperlakukan secara tepat,” terang Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni. Ia menekankan bahwa kewaspadaan terkait Hantavirus harus tetap dipertahankan, terutama di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi.

Langkah-Langkah untuk Meningkatkan Kewaspadaan

Justin Adrian Untayana menyarankan beberapa langkah strategis yang perlu diambil Pemprov DKI. “Pemprov DKI harus meningkatkan kewaspadaan terkait Hantavirus dengan memperketat pengawasan di area rawan, seperti pasar, rumah sakit, dan pusat kebugaran,” kata Justin. Ia juga menekankan pentingnya promosi kampanye kebersihan lingkungan dan penggunaan APD oleh masyarakat. “Kita perlu meningkatkan kesadaran publik bahwa Hantavirus bisa menyebabkan komplikasi serius, dan tindakan preventif adalah kunci untuk mencegahnya,” tambahnya.

“Selain itu, Pemprov DKI perlu memperkuat sistem pengawasan kesehatan masyarakat secara berkala. Jika tidak ada upaya yang serius, kemungkinan wabah Hantavirus bisa terjadi di DKI Jakarta, terutama di wilayah dengan tingkat interaksi manusia tinggi,” jelas Justin.

Menurut data yang dirilis Kemenkes, kasus Hantavirus di Indonesia sejak tahun 2024 hingga 2026 mencapai 23, dengan satu dari mereka tercatat di DKI Jakarta. “Kasus ini menunjukkan bahwa Pemprov DKI harus tetap waspada, karena virus ini bisa menyebar melalui kontak langsung dengan tikus atau makanan yang terkontaminasi,” kata Andi Saguni. Ia menambahkan bahwa meskipun Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) belum ditemukan di Indonesia, kewaspadaan terhadap strain Seoul virus tetap diperlukan untuk menghindari kemungkinan penyebaran yang tidak terduga. “Legislator minta Pemprov DKI tingkatkan kewaspadaan terkait Hantavirus, karena tindakan segera sangat penting untuk melindungi masyarakat dari risiko kesehatan yang serius,” pungkas Justin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *