Important Visit: Bandara Samrat libatkan ratusan personel tingkatkan penanganan darurat
Bandara Samrat Libatkan Ratusan Personel Tingkatkan Penanganan Darurat
Important Visit – Manado – Pihak PT InJourney Airports, yang mengelola Bandara Sam Ratulangi (Samrat), melakukan latihan kesiapsiagaan keadaan darurat dengan melibatkan ratusan personel. Simulasi ini bertujuan memastikan bandara siap menghadapi situasi kritis yang bisa muncul kapan saja. Menurut CEO Regional V, Handy Heryudhitiawan, latihan tersebut merupakan bagian dari program rutin yang dilakukan seluruh bandara, termasuk Samrat, yang beroperasi non-stop 24 jam sehari.
Kesiapsiagaan 24 Jam
Handy menjelaskan bahwa Bandara Samrat harus selalu siap, terlepas dari apakah pesawat yang mendarat di sana merupakan tujuan akhir atau hanya singgah. “Jika ada pesawat yang tidak direncanakan, misalnya harus mendarat darurat, maka seluruh sistem harus berjalan lancar,” tuturnya. Latihan ini juga menjadi wajib bagi setiap bandara, terutama yang memiliki pengoperasian 24 jam, karena risiko insiden bisa terjadi kapan saja, baik siang maupun malam.
“Untuk meningkatkan kualitas personel kami melakukan simulasi latihan penanggulangan keadaan darurat atau Airport Emergency Exercise di Bandara Sam Ratulangi Manado,” kata Handy Heryudhitiawan di Manado, Kamis. Dia mengatakan kegiatan ini melibatkan sebanyak 508 personel dari berbagai instansi dan pemangku kepentingan guna memastikan kesiapan penanganan insiden penerbangan di kawasan bandara.
Partisipasi Lintas Instansi
Simulasi ini melibatkan berbagai elemen seperti Basarnas, TNI, Polri, BPBD, petugas pemadam kebakaran, Aviation Security, serta rumah sakit rujukan di Sulawesi Utara. “Ini adalah latihan penanggulangan keadaan darurat yang melibatkan seluruh ekosistem bandara dan pemangku kepentingan terkait,” tambahnya. Keterlibatan instansi luar ini dianggap penting untuk memperkuat koordinasi, baik dalam hal respons cepat maupun pengambilan keputusan di lapangan.
Penyebab Kesiapsiagaan
Handy menyebutkan bahwa kondisi geografis Sulawesi Utara (Sulut) menjadi alasan utama mengapa kesiapsiagaan bandara tetap dijaga. Daerah ini rentan terhadap gempa bumi dan bencana lainnya, sehingga persiapan darurat harus selalu siap. “Kesiapan fasilitas dan personel adalah prioritas, karena keselamatan penerbangan menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Proses Evaluasi dan Revisi
Dalam latihan tersebut, seluruh prosedur penanganan darurat diuji secara langsung, termasuk kecepatan koordinasi antar-instansi dan waktu respons pihak yang memberikan bantuan. “Kami memastikan seluruh fasilitas dalam kondisi siaga. Dukungan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan sangat luar biasa,” kata Handy. Proses ini juga menjadi sarana evaluasi terhadap dokumen prosedur, kesiapan fasilitas, serta pembaruan data personel dan kontak setiap instansi yang terlibat.
“Semua prosedur dicek satu per satu. Kalau ada yang berubah, baik personel maupun nomor kontak, harus segera direvisi agar saat kondisi darurat terjadi seluruh koordinasi berjalan cepat dan tepat,” katanya.
Persiapan untuk Pesawat Berbadan Lebar
Bandara Samrat juga fokus pada kesiapan melayani pesawat besar, seperti Airbus A330. Handy menjelaskan bahwa pengelolaan pesawat berbadan lebar memerlukan perhitungan kapasitas penumpang dan fasilitas penanganan korban yang lebih kompleks. “Kita harus memastikan bahwa semua aspek penanganan darurat, termasuk untuk jenis pesawat tersebut, sudah teruji dan dapat diandalkan,” katanya.
Kolaborasi dengan Rumah Sakit
Handy menekankan pentingnya kerja sama dengan rumah sakit rujukan sebagai bagian dari sistem darurat. “Kerja sama ini memastikan korban bisa segera mendapatkan perawatan medis secara cepat,” ujarnya. Proses penanganan korban dalam kondisi darurat melibatkan alur kerja yang terpadu, mulai dari evakuasi ke darat hingga penanganan di fasilitas medis bandara.
Langkah Berikutnya
Latihan yang digelar kali ini merupakan tahapan lanjutan setelah sebelumnya dilakukan simulasi table top exercise. Menurut Handy, latihan serupa akan diadakan di Bandara Sentani Jayapura pada bulan depan. “Kami ingin memastikan bahwa semua prosedur dan koordinasi terus diperbaiki, baik melalui latihan langsung maupun evaluasi berkala,” katanya. Dengan adanya simulasi seperti ini, pihaknya yakin bandara bisa merespons keadaan darurat secara optimal, terutama dalam menghadapi kondisi yang tidak terduga.
Penekanan pada Kepatuhan dan Efektivitas
Latihan penanggulangan keadaan darurat di Bandara Samrat juga bertujuan memperkuat kepatuhan terhadap standar keselamatan penerbangan. Handy menambahkan bahwa latihan ini bukan hanya untuk mengecek kesiapan, tetapi juga sebagai sarana memperbarui pengetahuan semua pihak terkait. “Kami ingin semua personel dan instansi paham peran masing-masing, agar ketika terjadi keadaan darurat, semua pihak bisa bekerja secara sinergis,” ujarnya.
Kesiapan Fasilitas dan Peralatan
Persiapan fisik bandara menjadi salah satu fokus utama dalam latihan ini. Fasilitas seperti penerangan darurat, sistem komunikasi, dan alat pemadam kebakaran harus dalam kondisi baik. Handy menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara menyeluruh, termasuk pengujian peralatan dan penggunaan jalan darurat. “Kesiapan ini penting karena dalam kondisi darurat, kita tidak memiliki waktu yang banyak untuk menunggu,” katanya.
Manfaat Simulasi untuk Keberlanjutan
Dengan adanya simulasi berkala, Handy percaya bahwa Bandara Samrat dapat terus meningkatkan kualitas penanganan keadaan darurat. “Ini bukan hanya untuk situasi darurat saat ini, tetapi juga sebagai persiapan untuk situasi yang mungkin terjadi di masa depan,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa partisipasi masyarakat dan pihak eksternal memperkaya pengalaman dalam menjalankan operasi darurat, termasuk meningkatkan kecepatan respons dan keakuratan informasi.
Kesiapan untuk Segala Jenis Insiden
Latihan ini dirancang untuk mengecek kesiapan menghadapi berbagai jenis insiden, baik kebakaran, kecelakaan, maupun bencana alam. Handy menjelaskan bahwa Bandara Samrat siap merespons insiden penerbangan dalam skala besar, seperti penumpang terjebak di pesawat atau korban terluka yang memerlukan evakuasi darurat. “Kami juga memastikan bahwa semua prosedur dilakukan sesuai dengan standar internasional, sehingga kredibilitas bandara tetap terjaga,” katanya.
Analisis Kinerja dan Pembaruan Data
Selain menguji prosedur, latihan ini juga memberikan wawasan terkait kinerja masing-masing instansi. Handy menyebutkan bahwa data kontak personel dan alat komunikasi harus selalu diperbarui, karena kecepatan respons bergantung pada informasi yang akurat. “Dengan adanya simulasi, kita bisa memperbaiki celah-celah kelemahan, termasuk melatih tim secara berkala,” ujarnya. Proses ini dianggap sangat vital untuk menjaga konsistensi kesiapan bandara dalam menghadapi situasi kritis.
Kesimpulan dan Harapan
Handy berharap latihan penanganan darurat ini menjadi contoh bagi bandara lain di Indonesia. “Kami ingin semua bandara memiliki sistem darurat yang solid, karena keselamatan penerbangan adalah prioritas utama,” katanya. Dengan demikian, Bandara Samrat tidak hanya fokus pada layanan sehari-hari, tetapi juga pada persiapan menghadapi skenario yang paling mempercepat kesiapan operasional di kawasan bandara.