Facing Challenges: Acha Septriasa alami pecah pembuluh darah syuting film Suamiku Lukaku
Acha Septriasa alami pecah pembuluh darah syuting film Suamiku Lukaku
Facing Challenges – Jakarta – Dalam rangkaian pengambilan gambar untuk film drama “Suamiku Lukaku,” aktris Acha Septriasa mengungkapkan pengalamannya mengalami pecah pembuluh darah di wajah. Hal ini terjadi akibat upayanya mendalami peran sebagai Amina, seorang istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Proses syuting film tersebut memberikan dampak fisik dan emosional yang cukup signifikan, menurut Acha.
Pengulangan Adegan yang Menyiksa
Acha menjelaskan bahwa dalam memerankan karakter Amina, ia terpaksa mengulangi adegan yang memicu emosi hingga puluhan kali. “Saat memerankan adegan yang memicu emosi, saya melakukan pengulangan hingga puluhan kali. Itu sampai membuat pembuluh darah di wajah saya pecah-pecah,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis lalu. Menurut Acha, kondisi fisiknya menjadi terganggu karena stres yang diakibatkan oleh pengulangan berulang dan keinginan untuk menampilkan emosi secara maksimal.
“Saya mengira itu gejala alergi dari produk makeup, tapi ternyata itu semua pembuluh darah di muka saya yang pecah. Efeknya seperti sapu lidi yang menempel di wajah, dengan tonjolan merah yang menyebar,” ujarnya.
Acha menambahkan bahwa ia selalu berusaha memberikan permainan emosional yang tulus dalam setiap adegan. “Saya berusaha mengeluarkan seluruh tenaga dan perasaan saat syuting, meskipun tubuh sudah lelah. Itu adalah cara untuk tetap menjaga intensitas cerita agar terasa realistis,” imbuhnya. Proses ini, meski melelahkan, berhasil memicu respons fisik yang tidak terduga.
Penyakit Mental yang Tersembunyi
Di samping efek fisik, Acha juga mengatakan bahwa mendalami emosi karakter Amina berdampak pada kondisi mentalnya. “Secara mental, saya merasa hopeless. Seperti ingin setiap adegan dalam film ini mampu menyentuh hati penonton, baik sebagai hiburan maupun sebagai bentuk kesadaran akan KDRT,” ujarnya. Ia menekankan bahwa peran ini bukan hanya sekadar bintang, tetapi juga pengalaman pribadi yang mendalam.
“Kalau secara emosional, saya merasakan apa yang dialami Amina. Tidak ada lagi yang disebut istri-istri yang menderita di luar sana, seperti menemukan perasaan itu melalui karakter,” tambahnya.
Film “Suamiku Lukaku” mengangkat isu kekerasan dalam rumah tangga yang sering kali tersembunyi di balik keharmonisan keluarga. Karya yang diproduksi oleh SinemArt ini menceritakan dinamika hubungan antara Amina (diperankan Acha Septriasa) dan Irfan (Baim Wong), yang dipenuhi kekerasan fisik dan verbal. Kekerasan fisik ditampilkan melalui luka-luka yang terlihat, sementara kekerasan verbal menciptakan luka batin yang lebih dalam.
Untuk mendukung Amina dalam mengekspresikan keberaniannya, film ini juga menghadirkan Zahra (Raline Shah), seorang pengacara yang gigih memperjuangkan hak perempuan. Dengan bantuan Zahra, Amina berusaha memecah keadaan yang membuatnya terjebak dalam siksaan. Namun, perjalanan menuju kebebasan ini tidaklah mudah, menurut Acha. “Memerankan Amina berarti mengalami proses yang berat, tetapi itu adalah cara untuk menyampaikan pesan yang ingin diterima penonton,” jelasnya.
Konflik yang Menjadi Pemicu
Dalam film ini, kekerasan dalam rumah tangga dijadikan narasi utama yang menggambarkan kenyataan di banyak keluarga. Acha mengakui bahwa kekerasan fisik dan psikologis yang ia alami saat syuting membantu memahami realitas para korban KDRT. “Saya merasa lebih dekat dengan perasaan korban, seperti menderita kecemasan dan keputusasaan yang terus-menerus,” katanya.
Proses pemeranannya juga memberikan pembelajaran tentang kekuatan emosi dalam akting. “Akting dengan jujur bisa menyebar ke seluruh tubuh, bahkan menyebabkan efek samping yang tak terduga,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa akting bukan hanya tentang ekspresi di layar, tetapi juga tentang pengalaman yang bisa diabadikan dalam film.
Kelengkapan Tim dan Penantian Tayang
Sebagai bagian dari produksi “Suamiku Lukaku,” Acha Septriasa dibantu oleh tim yang solid, termasuk para pemain lainnya. Film ini juga menampilkan Ayu Azhari dan Azkya Mahira, yang berperan dalam memperkaya cerita dan karakter-karakter yang diperankan. Dengan berbagai peran yang saling melengkapi, film ini diharapkan mampu mengangkat isu KDRT dengan lebih efektif.
Sementara itu, penggemar dan kritikus memprediksi film ini akan menjadi sorotan karena kisahnya yang realistis dan emosional. “Suamiku Lukaku” akan dirilis secara perlahan di bioskop Indonesia mulai 27 Mei 2026. Tanggal tersebut menandai penantian sejak proses produksi dimulai, sekaligus menjadi langkah awal untuk menghadirkan kisah yang berdampak pada masyarakat.
Dalam wawancara, Acha juga menyebut bahwa pengalaman syuting ini menjadi titik balik dalam karier perannya. “Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa akting bisa menciptakan perubahan, baik di dalam diri sendiri maupun di luar,” ujarnya. Ia berharap film ini mampu menjadi medium untuk meningkatkan kesadaran tentang KDRT dan membuka ruang diskusi yang lebih luas.
Di samping itu, Acha menyatakan bahwa film ini juga menggambarkan kisah yang tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga memberikan pelajaran tentang kekuatan perempuan dalam menghadapi kekerasan. “Zahra adalah simbol perjuangan, sementara Amina mewakili semangat untuk terus bangkit,” katanya.
Dengan peluncuran yang dipersiapkan secara matang, “Suamiku Lukaku” diharapkan mampu memenuhi ekspektasi penonton yang ingin menyaksikan cerita KDRT dari perspektif yang lebih mendalam. Acha menyatakan bahwa ia bersedia menjadi bagian dari perubahan ini, meski harus menghadapi tantangan fisik dan mental yang luar biasa.