Main Agenda: Banjarmasin raih penghargaan revitalisasi bahasa daerah nasional 2026
Banjarmasin Raih Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah Nasional 2026
Main Agenda – Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, baru-baru ini memperoleh penghargaan dalam bidang revitalisasi bahasa daerah nasional tahun 2026. Penghargaan ini diberikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) kepada Pemkot Banjarmasin. Acara penyerahan penghargaan berlangsung di Depok, Jawa Barat, sebagai bagian dari Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026. Wali Kota Banjarmasin, H Muhammad Yamin HR, menjadi penerima langsung penghargaan tersebut.
Penghargaan ini menegaskan komitmen kota Banjarmasin dalam menjaga keberlanjutan bahasa daerah Banjar di tengah dinamika kemajuan teknologi dan dominasi budaya global. Yamin, dalam wawancara terpisah, menekankan bahwa pengakuan nasional menjadi bukti bahwa upaya pelestarian bahasa daerah di daerahnya masih relevan dan mendapat dukungan. “Bahasa lokal adalah identitas masyarakat, dan kita tidak ingin kehilangan akar budaya yang telah menjadi bagian dari jiwa Banjar,” katanya.
Kendala dan Peluang dalam Penyebaran Bahasa Daerah
Menurut Yamin, salah satu tantangan utama dalam menggelar program revitalisasi bahasa adalah adopsi bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyoroti bahwa lingkungan perkotaan dan platform digital kerap membuat masyarakat, terutama generasi muda, lebih memilih bahasa nasional atau bahasa asing. Namun, di balik kesulitan tersebut, mantan wali kota menyebutkan adanya peluang besar untuk meningkatkan penggunaan bahasa Banjar melalui berbagai inisiatif.
“Kita perlu mengintegrasikan bahasa daerah ke dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan hingga media sosial, agar generasi muda tetap merasa nyaman dan bangga menggunakannya,” ujarnya.
Dalam menjawab tantangan tersebut, Yamin mengatakan pemerintah setempat berupaya memperkuat partisipasi masyarakat melalui kolaborasi dengan komunitas kreatif dan penyedia konten digital. Langkah ini, menurutnya, tidak hanya menjaga eksistensi bahasa Banjar, tetapi juga memastikan keberlanjutan warisan budaya yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Peran Sekolah dalam Pelestarian Bahasa Lokal
Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Ryan Utama, menambahkan bahwa penghargaan ini menjadi semangat baru untuk memperkuat program revitalisasi bahasa daerah secara berkelanjutan. Menurutnya, institusi pendidikan memiliki peran sentral dalam membentuk kebiasaan peserta didik agar lebih dekat dengan budaya lokal. “Kami ingin bahasa daerah tidak hanya menjadi topik pembicaraan, tetapi benar-benar hadir dalam proses pembelajaran dan aktivitas sosial,” jelas Ryan.
“Revitalisasi bahasa harus menjadi bagian dari rutinitas, bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah langkah penting untuk menjaga kepribadian masyarakat Banjar,” tegasnya.
Ryan menjelaskan bahwa program yang dijalankan saat ini mencakup penguatan literasi budaya, pelatihan guru, serta pengembangan materi ajar berbasis kearifan lokal. Ia menilai, dengan pendekatan yang lebih holistik, upaya menjaga bahasa Banjar dapat berdampak lebih luas. Selain itu, ke depannya, Pemkot Banjarmasin juga berencana meningkatkan kualitas konten digital berbahasa Banjar untuk menjangkau kalangan yang lebih luas.
Strategi Masa Depan untuk Keberlanjutan Bahasa Daerah
Menurut Ryan, ekspansi program revitalisasi bahasa daerah akan dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, kota ini sudah mengadakan berbagai kegiatan seperti pemetaan kompetensi bahasa Banjar di tingkat SD, SMP, dan SMA, serta penguasaan keterampilan komunikasi dalam bahasa lokal. “Kami juga menyediakan media pembelajaran berbasis teknologi agar metode penyampaian lebih efektif dan menarik,” ujarnya.
Yamin menambahkan bahwa kesuksesan FTBIN 2026 menjadi motivasi untuk terus memperluas penjangkauan program revitalisasi. Ia berharap, dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, bahasa Banjar bisa tetap relevan dan menjadi bagian dari identitas nasional. “Kita perlu konsisten dalam menjaga ekosistem bahasa, karena ini adalah cara untuk mempertahankan keunikan budaya Banjar,” ujarnya.
Kemitraan dengan Komunitas Kreatif dan Media
Dalam rangka mendukung upaya pelestarian, Pemkot Banjarmasin juga menggandeng berbagai pihak, seperti komunitas seni dan kreatif, serta media lokal. Kemitraan ini diharapkan dapat menciptakan konten yang lebih menarik dan mudah diakses, baik melalui platform digital maupun aktivitas budaya. Selain itu, pihaknya berencana mengadakan pelatihan untuk guru dan pelaku pendidikan agar lebih terampil dalam mengajarkan bahasa daerah.
Revitalisasi bahasa daerah, menurut Yamin, tidak hanya tentang keberlanjutan bahasa, tetapi juga tentang membangun karakter generasi muda yang memiliki rasa bangga terhadap budaya asalnya. “Bahasa adalah alat komunikasi, tetapi juga cerminan dari nilai-nilai dan sejarah suatu masyarakat,” imbuhnya. Ia menilai, dengan langkah-langkah yang terukur dan berkelanjutan, Banjarmasin dapat menjadi contoh sukses dalam pelestarian bahasa lokal di tengah globalisasi.
Kemendikdasmen RI, melalui Wakil Menteri Dr Fajar Reza Ulhaq, menilai prestasi Banjarmasin patut ditiru oleh daerah-daerah lain. “Ini membuktikan bahwa revitalisasi bahasa daerah tidak hanya mungkin, tetapi juga efektif jika dilakukan secara berkelanjutan dan partisipatif,” kata Fajar. Ia menekankan bahwa penghargaan ini menjadi pengakuan bagi upaya kreatif yang dilakukan Kota Banjarmasin dalam menjaga keanekaragaman budaya nasional.
Langkah-langkah yang diambil oleh Pemkot Banjarmasin, seperti pelatihan guru dan pengembangan bahan ajar, diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung penggunaan bahasa Banjar. Dengan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan komunitas, program ini tidak hanya bertahan sebagai warisan, tetapi juga berkembang seiring perubahan zaman. Revitalisasi bahasa daerah, menurut Yamin, adalah investasi jangka panjang untuk menjaga kekuatan budaya Banjar dalam konteks nasional.
Kota Banjarmasin terus berupaya memperkuat peran bahasa daerah dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan. Melalui berbagai inisiatif, seperti keterlibatan komunitas dan p