Special Plan: Kemenperin pacu kualitas vokasi industri lewat program Master Trainer

Kemenperin pacu kualitas vokasi industri lewat program Master Trainer

Special Plan – Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di sektor industri. Program Master Trainer menjadi salah satu inisiatif utama yang dijalankan pemerintah dalam upaya menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, sehingga dapat mendukung proses industrialisasi nasional serta memenuhi kebutuhan perusahaan-perusahaan besar. Dalam kesempatan bicara di Jakarta, Selasa, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa industri manufaktur tetap menjadi pilar utama perekonomian Indonesia, baik dalam kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) maupun dalam menyerap tenaga kerja. Menurutnya, penguatan SDM industri yang berbasis pada kebutuhan dunia usaha menjadi prioritas utama pemerintah.

Link and Match sebagai Prinsip Utama

Kemenperin menekankan bahwa pendidikan vokasi yang sukses harus berlandaskan prinsip link and match. Prinsip ini bertujuan untuk menyelaraskan kurikulum pelatihan dengan kebutuhan nyata di ruang produksi, sehingga lulusan dapat langsung berkontribusi secara efektif dalam industri. “Kemenperin berkomitmen membangun ekosistem dual system dalam pendidikan vokasi yang memiliki standar global,” ungkap Menperin. Ia menambahkan, program ini bertujuan untuk memastikan SDM industri tidak hanya terlatih secara teori, tetapi juga diterapkan secara praktis di lingkungan kerja.

“Pendidikan vokasi yang efektif harus didasari kebutuhan nyata di sektor produksi berlandaskan prinsip link and match. Kemenperin berkomitmen membangun ekosistem dual system dalam pendidikan vokasi yang memiliki standar global,” kata Menperin.

Kemenperin juga menyoroti capaian sektor manufaktur dalam penyerapan tenaga kerja. Pada Agustus 2025, jumlah tenaga kerja yang diserap mencapai 20,26 juta orang. Selain itu, sektor industri pengolahan dinyatakan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi terbesar di awal 2026. Menperin menyebutkan, angka-angka ini menjadi dasar kuat untuk terus memperluas program link and match antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan pasar kerja global.

Kolaborasi dengan Swiss untuk Meningkatkan Kompetensi

Dalam rangka memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan industri, Kemenperin bekerja sama dengan Pemerintah Swiss melalui Swisscontact. Proyek Swiss Skills for Competitiveness (SS4C) menjadi salah satu bentuk kerja sama yang diharapkan mampu mempercepat transfer pengetahuan, budaya kerja industri, dan inovasi dalam meningkatkan daya saing nasional. “Kolaborasi dengan Swiss menjadi langkah penting dalam mempercepat transfer pengetahuan, budaya kerja industri, serta inovasi untuk meningkatkan daya saing nasional,” ujar Doddy Rahadi, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI).

Kemenperin melalui BPSDMI menjalankan pelatihan Master Trainer/Pelatih Tempat Kerja (In-Company Trainer/ICT) pada 18–25 Mei 2026 di Jakarta. Pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem ICT di wilayah Banten, mengembangkan jaringan Master ICT di Sumatera, serta meningkatkan kapasitas teknis service provider di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Doddy menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki peran krusial dalam mentransfer kompetensi, membimbing proses pembelajaran berbasis industri, dan memastikan standar kompetensi dapat diterapkan secara nyata di lingkungan kerja.

“Kegiatan ICT ini memiliki peran penting dalam mentransfer kompetensi, membimbing proses pembelajaran berbasis industri, serta memastikan standar kompetensi dapat diterapkan secara nyata di lingkungan kerja,” ujar Doddy.

Saat ini, sejak program ini diinisiasi pada 2019, Kemenperin bersama Swiss telah melatih 1.310 ICT dan 139 Master ICT. Angka tersebut mencerminkan komitmen kedua belah pihak dalam membangun ekosistem pengembangan SDM industri yang kuat dan berkelanjutan. “Jumlah ini menunjukkan komitmen kuat Kemenperin dan Swiss dalam menjaga kualitas serta relevansi program pelatihan vokasi industri,” tutur Doddy.

Peningkatan Kualitas dan Kuantitas sebagai Kebutuhan Utama

Sementara itu, Wulan Aprilianti Permatasari, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) BPSDMI, menilai bahwa peningkatan kualitas dan kuantitas ICT menjadi hal yang kritis. “Kemampuan ICT yang tinggi adalah kunci untuk memastikan pendidikan vokasi berbasis industri dapat berjalan efektif,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga memperkuat kemitraan antara lembaga pendidikan dan perusahaan.

Program Master Trainer diharapkan mampu menjawab tantangan global dalam memenuhi standar kompetensi kerja yang semakin tinggi. Dengan adanya pelatihan ICT yang berlangsung selama delapan hari, Kemenperin berupaya memastikan para pelatih tidak hanya memahami teknik-teknik pengajaran, tetapi juga mampu mengintegrasikan praktek industri langsung ke dalam proses pembelajaran. Hal ini dianggap penting karena industri modern membutuhkan SDM yang mampu beradaptasi dengan teknologi dan proses kerja yang dinamis.

Kolaborasi antara Kemenperin dan Swisscontact tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga memperkenalkan model pendidikan yang telah terbukti efektif di negara-negara lain. Program SS4C bertujuan untuk membangun sistem dual yang terintegrasi, di mana peserta didik mendapatkan pembelajaran teori di sekolah dan praktek langsung di perusahaan. Model ini dianggap lebih efisien dalam menghasilkan lulusan yang siap kerja sejak awal.

Menurut Wulan, pengembangan jaringan ICT di berbagai daerah seperti Sumatera dan Jawa Timur akan membantu memperluas akses pendidikan vokasi ke masyarakat luas. “Dengan meningkatkan jumlah pelatih, kita bisa menjangkau lebih banyak calon tenaga kerja yang membutuhkan pelatihan khusus,” katanya. Ia juga menekankan bahwa penguatan kapasitas teknis service provider akan memastikan konsistensi kualitas pelatihan di seluruh Indonesia.

Dalam konteks ekonomi global, Kemenperin memandang bahwa SDM industri yang berkualitas menjadi aset utama untuk menghadapi persaingan. Dengan program Master Trainer, diharapkan lulusan vokasi industri tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman tentang prinsip kerja profesional, manajemen waktu, dan kemandirian dalam menghadapi tantangan di lapangan. “Kebutuhan ini semakin mendesak karena industri nasional harus mampu bersaing di tingkat internasional,” tambah Wulan.

Kemenperin terus berupaya memastikan bahwa program pelatihan ini dapat diakses oleh berbagai kalangan, termasuk pelaku usaha kecil dan menengah. Dengan dukungan Swisscontact, program SS4C diharapkan menjadi pusat pengembangan SDM yang mandiri, terstruktur, dan berkelanjutan. Hal ini akan membantu mengurangi kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan dunia industri, serta menciptakan ekosistem kerja yang lebih produktif.

Keberhasilan program ini juga diukur dari kemampuan para pelatih dalam menghasilkan SDM yang siap kerja. Dengan adanya Master ICT, diharapkan proses transfer kompetensi bisa dilakukan secara lebih sistematis dan berkelanjutan. Kemenperin bersikeras bahwa kualitas vokasi industri tidak bisa tercapai tanpa pengembangan kapasitas pelatih yang kompeten dan berpengalaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *