Key Strategy: BPS sebut pola konsumsi masyarakat bergeser ke pengalaman

BPS sebut pola konsumsi masyarakat bergeser ke pengalaman

Key Strategy – Jakarta – Perubahan dalam cara masyarakat Indonesia menghabiskan uang mulai terlihat secara jelas. Menurut Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi masyarakat kini lebih banyak berbasis pengalaman. Contohnya, sektor transportasi, restoran, hotel, dan pariwisata menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi dibandingkan belanja pakaian. “Pola konsumsi kita semakin berorientasi pada pengalaman, bukan sekadar barang fisik,” jelas Amalia dalam wawancara di Jakarta, Selasa.

Konsumsi Berbasis Pengalaman Muncul

Dalam periode Triwulan I-2026, BPS mencatat bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga tidak lagi dominan berasal dari belanja tekstil, tetapi beralih ke aktivitas yang lebih berfokus pada pengalaman. Jumlah pengeluaran untuk transportasi dan layanan jasa restoran serta hotel, misalnya, meningkat pesat. Amalia menegaskan bahwa ini menandakan pergeseran signifikan dalam preferensi konsumen.

“Pola konsumsi masyarakat kita kini lebih cenderung mengutamakan pengalaman dibandingkan barang,” katanya.

Pergeseran tersebut, menurut Amalia, juga dipengaruhi oleh tingkat mobilitas masyarakat yang meningkat, terutama selama masa liburan seperti Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih memilih menghabiskan dana untuk kegiatan yang menawarkan pengalaman, seperti perjalanan wisata dan konsumsi jasa.

Data Wisatawan Nusantara Dihitung dengan Teknologi Terkini

Menurut BPS, pertumbuhan jumlah wisatawan dalam negeri mencapai 13,14 persen secara tahunan dalam Triwulan I-2026. Amalia menjelaskan bahwa data ini tidak diperoleh melalui survei tradisional, tetapi menggunakan teknik pengukuran berbasis mobile positioning data. Kolaborasi dengan tiga penyedia layanan telekomunikasi—Telkomsel, XL, dan Indosat—memungkinkan pengumpulan informasi tentang pergerakan masyarakat antarkota.

“Kami mengukur wisatawan nusantara berdasarkan pola mobilitas mereka, bukan dengan survei langsung,” terang Amalia.

Metode ini tidak hanya efisien tetapi juga menjaga kerahasiaan identitas individu. “Data yang kami peroleh menunjukkan pergerakan masyarakat secara umum, tanpa mengungkap informasi pribadi,” tambahnya. Pergeseran dari konsumsi barang ke pengalaman, menurut Amalia, menjadi indikator penting dalam memahami dinamika perekonomian.

Konsumsi Digital Melonjak

Perubahan pola konsumsi juga terjadi di sektor transaksi. Amalia menyebutkan bahwa pertumbuhan transaksi perdagangan melalui sistem elektronik mencapai 27,8 persen secara tahunan pada Triwulan I-2026. Pertumbuhan ini, kata dia, semakin pesat seiring berkembangnya penggunaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari.

“Transaksi digital menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebiasaan konsumen masa kini,” ujarnya.

Salah satu indikator yang mencerminkan tren ini adalah pertumbuhan transaksi melalui QRIS, yang mencapai 111,94 persen tahunan. Metode ini, menurut Amalia, menciptakan efisiensi dan transparansi dalam data konsumsi. “QRIS memberikan wawasan tentang kebiasaan belanja yang lebih modern,” tambahnya.

Demografi Mempengaruhi Perubahan Pola Konsumsi

Amalia menekankan bahwa struktur demografi Indonesia berperan dalam pergeseran ini. Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus yang dirilis BPS pada 5 Mei 2026, sekitar 49 persen penduduk Indonesia termasuk dalam generasi milenial dan Gen Z. Jika ditambahkan post-Gen Z—yang berusia di bawah 12 tahun—jumlahnya mencapai 68 persen dari total populasi.

“Perubahan pola konsumsi ini dipengaruhi oleh dominasi generasi muda dalam masyarakat,” jelas Amalia.

Generasi muda, yang lebih akrab dengan teknologi dan preferensi konsumsi yang berbeda, menjadikan layanan jasa dan pengalaman lebih diminati. Amalia mengatakan bahwa generasi ini memperkuat kebutuhan akan aktivitas yang bisa dibagi melalui media sosial atau kegiatan keluarga. “Mereka tidak hanya menghabiskan uang, tetapi juga mencari pengalaman yang dapat menjadi kenangan,” katanya.

Perubahan ini juga mengubah cara perusahaan menjangkau pasar. Bisnis yang berbasis fisik, seperti toko pakaian, harus beradaptasi dengan tren konsumsi yang lebih beralih ke layanan. Sementara itu, industri pariwisata, transportasi, dan kuliner mendapat peluang untuk berkembang. Amalia menambahkan bahwa pergeseran ini menjadi tugas penting bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk menyesuaikan strategi.

Menurut data BPS, sektor konsumsi pengalaman tidak hanya berkembang dalam jumlah, tetapi juga dalam kualitas. Misalnya, pertumbuhan perjalanan wisata menunjukkan peningkatan minat pada destinasi lokal dan nasional yang lebih menarik. Sementara itu, transaksi digital mempercepat akses ke berbagai layanan, termasuk pembayaran online dan pemesanan jasa melalui aplikasi.

Akibatnya, pengeluaran masyarakat menjadi lebih terdistribusi. Sebagai contoh, uang yang sebelumnya dialokasikan untuk pembelian bahan pokok kini bisa dialihkan ke pengalaman liburan atau jasa. Amalia mengatakan bahwa ini adalah bagian dari transformasi ekonomi yang terjadi di tengah dinamika global dan lokal.

Impak untuk Perekonomian

Perubahan ini menurut Amalia menjadi penopang utama perekonomian domestik. Dengan meningkatnya konsumsi berbasis pengalaman, aktivitas ekonomi tidak hanya berupa barang tetapi juga layanan yang bisa meningkatkan lapangan kerja dan inovasi. “Kami mengajak pelaku usaha dan pembuat kebijakan untuk memahami tren ini karena bisa memengaruhi kebijakan pemerintah,” katanya.

Amalia menambahkan bahwa kebijakan yang didasari data kuantitatif dan kualitatif akan lebih tepat dalam mengarahkan pembangunan. “Jika kita tidak mampu memahami pola konsumsi masyarakat, kita mungkin akan kehilangan peluang besar,” pungkasnya. Pergeseran ini, menurutnya, juga menjadi dasar bagi pengembangan infrastruktur dan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan generasi muda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *