New Policy: UGM kerahkan mahasiswa awasi pemotongan hewan kurban di luar RPH

Pengawasan Sembelihan Hewan Kurban di Luar RPH oleh UGM

New Policy – Pada Idul Adha 1447 Hijriah, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) di Yogyakarta melaksanakan program pengawasan terhadap proses pemotongan hewan kurban yang dilakukan di luar Rumah Pemotongan Hewan (RPH) wilayah Kota Yogyakarta. Langkah ini melibatkan 20 mahasiswa yang diutus untuk memastikan setiap tahapan penyembelihan memenuhi standar syariat Islam serta prinsip animal welfare. Kegiatan ini diumumkan oleh Endy Triyannanto, Ketua Tim Jagal Halal UGM, dalam sebuah wawancara Selasa lalu. Menurutnya, pengawasan ini dilakukan sebagai bentuk kegiatan kolaboratif dengan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta.

Kemitraan Akademisi dan Pemerintah Daerah

Endy menjelaskan bahwa program ini merupakan hasil kerja sama yang telah terjalin sejak lama antara Fapet UGM dan pihak terkait di Kota Yogyakarta. “Tujuan utama dari 20 mahasiswa yang terpilih adalah untuk mengawasi pemotongan hewan kurban di luar RPH selama 26 hingga 29 Mei 2026,” katanya. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menindaklanjuti upaya memastikan proses kurban berjalan sesuai prinsip halal dan menyehatkan. “Dengan adanya pengawasan teknis dan pembekalan yang komprehensif, mahasiswa dapat memahami secara menyeluruh proses penyembelihan,” tambahnya.

“Pemotongan hewan kurban yang dilakukan di luar RPH tetap harus memenuhi standar kualitas dan kehalalan, sehingga masyarakat dapat yakin bahwa daging yang dihasilkan aman dan layak dikonsumsi,” ujar Endy Triyannanto.

Kegiatan ini juga melibatkan pemeriksaan post-mortem, yaitu proses inspeksi yang dilakukan setelah hewan dipotong. Pemeriksaan ini penting karena memastikan organ dan daging tidak tercemar oleh bahan-bahan berbahaya. Menurut Endy, tugas mahasiswa bukan hanya memantau pelaksanaan, tetapi juga berperan aktif dalam memastikan standar higienis dan keselamatan produk daging. “Ini menjadi sarana untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang halal slaughter dan praktek pembunuhan yang manusiawi,” katanya.

Persiapan dan Peran Mahasiswa

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Budi Guntoro, mengungkapkan bahwa program ini merupakan bagian dari pengabdian akademik kepada masyarakat. “Mahasiswa yang diterjunkan harus siap menjaga integritas, terutama dalam mengawasi proses kurban yang terjadi di luar RPH,” katanya. Ia menambahkan bahwa selain memastikan daging yang dibawa ke masyarakat memenuhi standar aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH), para mahasiswa juga diharapkan mengasah kemampuan praktis, kepekaan sosial, serta kepemimpinan lapangan.

“Program ini dirancang agar mahasiswa bisa mengaplikasikan teori yang telah dipelajari dalam konteks nyata, sekaligus memperkuat komitmen terhadap penerapan syariat Islam,” kata Budi Guntoro.

Budi menekankan bahwa kolaborasi antara akademisi dan pemerintah daerah ini bertujuan menghasilkan standarisasi industri pemotongan hewan kurban yang lebih baik. “Kerja sama ini bisa menjadi model untuk masyarakat lain di Indonesia, terutama dalam memastikan kualitas daging kurban selama perayaan Idul Adha,” imbuhnya. Ia juga mengungkapkan bahwa melalui kegiatan ini, Fapet UGM berkomitmen mengembangkan kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Manfaat dan Dampak Jangka Panjang

Pengawasan oleh mahasiswa UGM diharapkan mampu meningkatkan transparansi dalam proses kurban, terlebih di daerah-daerah yang kurang terjangkau oleh pihak berwenang. “Dengan kehadiran mereka, masyarakat bisa lebih percaya bahwa daging yang dibawa ke rumah tangga mereka benar-benar sesuai syariat Islam,” jelas Endy. Selain itu, tugas ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan pengetahuan di bidang peternakan, kesehatan hewan, dan kehygienisan.

Budi Guntoro menyoroti bahwa program ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran praktis bagi mahasiswa. “Para mahasiswa bisa memahami dinamika sosial, kompetensi teknis, serta tanggung jawab dalam memastikan kualitas produk,” katanya. Ia berharap bahwa kegiatan ini mampu menciptakan kebiasaan baik di kalangan masyarakat, terutama dalam memilih hewan kurban yang layak.

Kesiapan dan Konsistensi

Menurut Endy, mahasiswa yang terlibat dalam pengawasan telah menjalani pelatihan intensif sebelumnya. “Mereka dibekali pengetahuan tentang prosedur sembelihan halal, pemeriksaan post-mortem, serta pengelolaan daging yang higienis,” katanya. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan konsistensi dan peningkatan kualitas. “Jadi, ini bukan sekadar kegiatan satu hari, melainkan upaya jangka panjang dalam memperbaiki sistem kurban di Kota Yogyakarta,” ujarnya.

Menurut Budi, proses pengawasan oleh mahasiswa juga memberikan dampak positif terhadap keberlanjutan industri pemotongan hewan. “Dengan melibatkan generasi muda, kita bisa memastikan bahwa praktik kurban tetap relevan dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan,” katanya. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini memperkuat hubungan antara lembaga pendidikan dan masyarakat sekitar, sekaligus menciptakan kerja sama yang produktif.

Upaya Peningkatan Standar Industri

Budi Guntoro menjelaskan bahwa Fapet UGM terus berupaya menstandarkan industri pemotongan hewan kurban di Indonesia. “Kita ingin menciptakan sistem yang tidak hanya menghasilkan daging berkualitas, tetapi juga memastikan prosesnya ramah lingkungan dan berkelanjutan,” katanya. Ia menyoroti bahwa pengawasan oleh mahasiswa merupakan langkah awal dalam upaya ini, yang bisa berdampak pada peningkatan kualitas secara menyeluruh.

Endy Triyannanto menambahkan bahwa adanya mahasiswa sebagai pengawas juga membantu mengurangi kesenjangan antara teori dan praktik. “Mereka bisa langsung mengamati proses penyembelihan di lapangan, sehingga memperkaya pemahaman mereka tentang syariat Islam dan standar kesehatan hewan,” katanya. Dengan demikian, program ini tidak hanya berdampak pada masyarakat, tetapi juga memperkaya pengalaman akademik para mahasiswa.

Menurut Budi, kegiatan ini menjadi contoh bagaimana universitas bisa berperan dalam memperkuat keberlanjutan industri pangan. “Kolaborasi ini menunjukkan bahwa kampus tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga pada pengabdian,” katanya. Ia menegaskan bahwa Fapet U

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *