Key Issue: Tersingkir dari Roland Garros, Sinner: “Saya kehabisan tenaga”
Tersingkir dari Roland Garros, Sinner: “Saya kehabisan tenaga”
Key Issue – Dari Jakarta – Jannik Sinner mengatakan bahwa dirinya kelelahan setelah mengalami kekalahan yang mengejutkan di babak kedua turnamen Grand Slam Roland Garros, Kamis lalu. Petenis asal Italia itu menghadapi kesulitan fisik yang membuatnya kesulitan mempertahankan performa saat bertanding melawan Juan Manuel Cerundolo, petenis peringkat 56 dunia dari Argentina. Setelah rekor kemenangan beruntun sebanyak 30 pertandingan yang pernah dicatatkan, Sinner akhirnya terhenti di Paris. Kekalahan ini berdampak pada permainan di lapangan, meski ia tetap optimis mengenai langkah ke depan.
Kekalahan yang Mengejutkan di Paris
Dalam konferensi pers pascapertandingan, Sinner menjelaskan tantangan fisik yang dihadapinya. “Ia merasa terjatuh dan sangat lelah,” kata pemain berusia 24 tahun itu, seperti dilaporkan ATP, setelah kekalahan berupa skor 6-3, 6-2, 5-7, 1-6, 1-6. Kehilangan tenaga jadi faktor utama yang memengaruhi performanya. “Saya mencoba mengakhiri pertandingan dengan servis, tapi tidak memiliki banyak energi,” ujar Sinner, yang secara beruntun menghadapi kesulitan mengendalikan ritme permainan.
“Saya kesulitan, mulai merasa sangat pusing. Energi saya sangat rendah. Saya mencoba menyelesaikan pertandingan dengan servis, tetapi tidak memiliki banyak energi.”
Di set keempat, Sinner sedikit lengah dan mengalami penurunan konsentrasi. “Gim pertama sangat penting. Saya tidak bisa mempertahankan servis. Kemudian permainan saya sedikit menurun,” kata pemain yang sebelumnya tercatat sebagai salah satu atlet muda paling berpotensi di tenis profesional. Meskipun sempat memimpin 5-1 di set ketiga, ia gagal mempertahankannya. “Di awal pertandingan, saya bermain sangat bersih, sangat bagus, dan kemudian saya seperti kehabisan tenaga, dan itu saja,” tambahnya.
Performa Cerundolo yang Solid
Sinner juga memberikan apresiasi terhadap permainan Cerundolo, yang menunjukkan kekuatan bertahan di paruh akhir pertandingan di Lapangan Philippe-Chatrier. “Saya berada di posisi yang bagus, juga di set ketiga. Saya tidak bisa menyelesaikan pertandingan dengan servis. Kemudian saya cukup kesulitan,” ujarnya. Namun, ia mengakui bahwa Cerundolo berhasil memanfaatkan kelemahan yang muncul.
“Tapi selamat juga untuknya. Saya tidak ingin mengurangi pujian untuknya. Dia memainkan pertandingan yang sangat solid, terutama juga di akhir, dan itulah olahraga.”
Kekalahan ini jadi pengalaman berharga bagi Sinner, meski hasilnya tidak sesuai harapan. Sebelumnya, ia menorehkan catatan 18-1 dalam musim lantai tanah liat setelah menyelesaikan tiga turnamen ATP Masters 1000 di Monte-Carlo, Madrid, dan Roma. Prestasi ini dianggap sangat luar biasa, karena hanya Rafael Nadal yang sebelumnya mampu meraih pencapaian serupa pada 2010. Meski harus mengakui kekalahan di Roland Garros, Sinner tetap menjadi petenis nomor satu dunia yang tak tertandingi di peringkat ATP, mengungguli Carlos Alcaraz.
Sisi Positif dari Kejutan Ini
Kekalahan di babak awal Roland Garros justru jadi bahan refleksi bagi Sinner. “Banyak hal yang terjadi bersamaan menyebabkan masalah hari ini, tetapi sekali lagi, hal itu bisa terjadi,” ujarnya. Ia berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran untuk memperbaiki strategi dan fisik sebelum musim pertandingan berikutnya. “Saya hanya butuh waktu untuk memproses apa yang salah di sini dan juga hal-hal positifnya, yaitu kita bisa berlatih dengan baik beberapa minggu sebelum Wimbledon,” lanjut Sinner, yang optimis dengan persiapan timnya.
Selain itu, Sinner menyebutkan bahwa pertandingan di Roland Garros hanyalah awal dari banyak ajang besar yang akan dihadapinya. “Masih banyak pertandingan yang harus dimainkan tahun ini, seperti Montreal, Cincinnati, dan US Open,” ujarnya. Ia menilai bahwa turnamen-turnamen ini menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi di peringkat dunia. “Setelah Wimbledon, kita memiliki turnamen yang sangat krusial, dan saya yakin itu akan menjadi pengalaman yang bermakna,” tambah Sinner.
Dengan skor yang memperlihatkan penurunan konsistensi, kekalahan ini juga menjadi pelajaran tentang pentingnya kebugaran fisik. Sinner mengungkapkan bahwa dirinya merasa tidak enak badan sejak pagi hari, yang memengaruhi penampilannya. “Saya bangun pagi ini, merasa tidak enak badan dan mencoba untuk mempersingkat poin,” katanya. Namun, ia percaya bahwa masalah ini bisa diatasi dengan pengaturan waktu dan kekuatan mental yang lebih baik.
Kejutan di Roland Garros dan Kemenangan Berikutnya
Apakah kekalahan di Roland Garros bisa menjadi penghalang untuk ambisi Sinner di musim ini? Justru, ia menilai kejadian ini adalah bagian dari proses pertumbuhan sebagai atlet profesional. “Ini adalah bagian dari perjalanan, dan saya ingin melihat sisi positifnya,” ujar Sinner. Ia menekankan bahwa kekalahan tidak menghilangkan kebanggaannya atas pencapaian sebelumnya, termasuk kemenangan beruntun di musim tanah liat.
Menurut Sinner, kehilangan 1.250 poin dari posisi nomor satu dunia tidak mengubah statusnya sebagai petenis paling unggul di peringkat ATP. “Saya tetap menjadi petenis nomor satu yang tak tertandingi, meski harus mengakui kekalahan di babak awal,” kata pemain yang kini fokus pada pertandingan berikutnya. Ia juga berharap kejadian ini bisa menjadi motivasi untuk memperbaiki taktik di lapangan, terutama dalam menghadapi lawan-lawan kuat di turnamen besar.
Sebagai penutup, Sinner mengingatkan bahwa Roland Garros hanyalah satu dari banyak ajang yang akan dihadapi. “Masih ada banyak pertandingan yang menunggu, dan saya yakin saya bisa pulih dengan baik,” ujarnya. Dengan mental yang kuat dan pengalaman di belakang, ia optimis bisa memperbaiki performa di musim selanjutnya. “Kejutan ini mungkin terjadi, tetapi saya tidak akan menyerah,” pungkas Sinner, menegaskan komitmennya terhadap tujuan di lapangan tanah liat.