Visit Agenda: Umat Buddha diajak jadi pelopor perdamaian dan menjaga kerukunan
Buddha Tuntut Umat Jadi Pelopor Perdamaian dan Kerukunan Sosial
Visit Agenda – Magelang, Minggu – Kepala Dinas Agama Buddha, Supriyadi, mengajak umat Buddha untuk menjadi pionir dalam menciptakan harmoni antarumat beragama. Ia menekankan pentingnya pengendalian emosi serta pengabdian kepada masyarakat yang beragam, sebagai bentuk komitmen untuk menjaga ketenangan dan keharmonisan. Pernyataan ini disampaikan dalam rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE/2026 yang berlangsung di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Acara tersebut diharapkan menjadi wadah untuk mengamalkan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menyelesaikan konflik dan memperkuat hubungan sosial.
Menurut Supriyadi, dalam ajaran Buddha disebutkan bahwa kebahagiaan manusia dapat tercapai jika hidup tanpa permusuhan, meskipun berada di tengah lingkungan yang penuh perbedaan. “Kita wajib menjadi penghubung antarumat beragama, menghadirkan rasa aman, dan menciptakan kondisi yang nyaman bagi seluruh masyarakat,” ujarnya. Pesan ini sejalan dengan semangat Tri Suci Waisak, yang merupakan momen penting untuk merenungkan nilai-nilai kebijaksanaan dan keseimbangan yang diajarkan Buddha. Acara yang diadakan di Candi Borobudur menarik partisipasi ribuan umat Buddha dari berbagai daerah, sebagai bentuk apresiasi terhadap peran mereka dalam menjaga keharmonisan.
Dalam ajaran Buddha disebutkan bahwa kebahagiaan dapat terwujud ketika manusia hidup tanpa permusuhan meskipun berada di tengah lingkungan yang masih diwarnai konflik dan perbedaan.
Tri Suci Waisak, yang dirayakan pada tanggal 17 Mei 2026, merupakan perayaan besar yang merayakan tiga peristiwa penting dalam sejarah agama Buddha: kelahiran Sang Buddha Gotama, penceritaan ajaran-ajaran utama, dan kepergian beliau ke alam baka. Di Magelang, acara ini bukan hanya sekadar perayaan budaya, tetapi juga ajang pengukuhan komitmen umat Buddha untuk menjadi pelaku perdamaian. Selain itu, acara ini juga diisi dengan berbagai kegiatan seperti ritual upacara, diskusi tentang kehidupan bermasyarakat, dan pembagian pesan-pesan keagamaan yang relevan dengan isu saat ini.
Supriyadi menambahkan bahwa ajaran Buddha memberikan panduan praktis dalam menangani perbedaan. “Ajaran kebijaksanaan dan pencerahan batin dapat menjadi alat untuk mengurangi gesekan antarumat beragama,” jelasnya. Ia menyoroti pentingnya sikap toleransi dan empati dalam menjalani kehidupan bersama. “Dengan mengendalikan batin, kita bisa mengurangi kebencian dan menjembatani kesenjangan antarumat beragama,” kata Kepala Dinas Agama Buddha itu. Pesan ini sejalan dengan tujuan utama Tri Suci Waisak, yaitu memperkuat identitas budaya dan spiritual umat Buddha sekaligus memperlihatkan kontribusi mereka terhadap masyarakat yang heterogen.
Di samping itu, perayaan Waisak juga dijadikan kesempatan untuk memperkenalkan nilai-nilai keagamaan kepada generasi muda. Supriyadi menegaskan bahwa pemuda Buddha wajib menjadi duta perdamaian dengan mengajarkan prinsip-prinsip seperti sila (ketaatan), meditasi, dan pembelajaran tentang keseimbangan dalam hidup. “Anak muda adalah pilar masa depan. Mereka harus mampu menghadirkan damai dan keharmonisan di tengah kehidupan yang penuh dinamika,” imbuhnya. Dalam acara ini, para pemuda Buddha di Magelang turut berpartisipasi melalui pertunjukan seni budaya dan diskusi interaktif yang menarik perhatian banyak peserta.
Magelang, yang dikenal sebagai kota pengrajin batik dan tempat bersejarah Candi Borobudur, menjadi lokasi strategis untuk memperkuat pesan perdamaian. Supriyadi menyatakan bahwa kehadiran umat Buddha di sini memperlihatkan komitmen mereka terhadap keberagaman. “Dalam masyarakat yang majemuk, kita wajib menjadi contoh bagaimana keharmonisan bisa dijaga melalui kebijaksanaan dan kesabaran,” lanjutnya. Ia juga menyoroti pentingnya kerja sama dengan pihak lain untuk menghadapi tantangan sosial yang muncul di era modern.
Perayaan Tri Suci Waisak di Magelang tidak hanya memperlihatkan kegiatan spiritual, tetapi juga menjadi ruang untuk dialog antaragama. Para peserta dari berbagai latar belakang agama berpartisipasi dalam acara ini, memperlihatkan sikap terbuka dan saling menghormati. Supriyadi mengharapkan acara ini bisa memperkuat persatuan antarumat beragama, khususnya dalam menghadapi konflik yang sering muncul akibat kesenjangan pemahaman atau prasangka. “Dengan mengamalkan ajaran Buddha, kita bisa menjadikan masyarakat yang lebih damai dan penuh kasih,” katanya.
Pada kesempatan ini, para peserta juga diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman pribadi dalam menjaga kerukunan. Seorang peserta, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan bahwa ajaran Buddha tentang anekantavada (kebhinnekan) menjadi alat untuk memahami perbedaan. “Ajaran ini mengajarkan kita bahwa setiap orang memiliki cara hidup dan nilai yang berbeda, tetapi itu tidak membatasi kita untuk saling menghargai,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pesan ini sangat relevan dalam lingkungan masyarakat yang terdiri dari berbagai etnis dan agama.
Supriyadi menekankan bahwa peran umat Buddha bukan hanya sebagai pemeluk agama, tetapi juga sebagai warga negara yang tanggung jawab. “Kita wajib menjadi pelopor kebahagiaan dan ketenteraman, baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat,” katanya. Acara Tri Suci Waisak di Magelang diharapkan bisa menjadi percontohan bagi daerah lain, agar umat Buddha aktif dalam menyelesaikan masalah sosial. Dengan menghadirkan nilai-nilai harmoni dan kesabaran, umat Buddha bisa berkon