Latest Program: Barantin gandeng ACDP Australia perkuat kapasitas lab karantina
Barantin dan ACDP Australia Kolaborasi Tingkatkan Kualitas Laboratorium Karantina
Program Pelatihan untuk Perkuat Kemampuan Laboratorium
Latest Program – Jakarta, Badan Karantina Indonesia (Barantin) melaksanakan kerja sama dengan Australian Centre for Disease Preparedness (ACDP) Australia dalam rangka meningkatkan kapasitas laboratorium karantina dan memperbaiki kualitas pengujiannya. Kerja sama ini diwujudkan melalui program Karantina Uji Standar, yang berfokus pada pelatihan teknis untuk Laboratorium Karantina Uji Standar, khususnya mengenai alat Laboratory Mapping Tool (LMT) serta uji profisiensi berulang (Proficiency Test Refresher).
Dalam pernyataannya, Kepala Karantina Uji Standar Barantin, Risma JP Silitonga, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi dengan Department of Agriculture, Fisheries and Forestry (DAFF) Australia melalui program ACDP Regional Emerging Disease Support (REDS). “Kerja sama ini bertujuan memperkuat kemampuan teknis personel laboratorium, serta memastikan mereka memahami cara menerapkan LMT secara optimal,” tambah Risma.
“Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama dengan Department of Agriculture, Fisheries and Forestry (DAFF) Australia melalui program ACDP Regional Emerging Disease Support (REDS),” kata Kepala Karantina Uji Standar Barantin Risma JP Silitonga dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Menurut Risma, pelatihan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman tentang konsep dan penerapan LMT, tetapi juga memberikan pembekalan mengenai cara penyelenggaraan uji profisiensi yang lebih baik. “LMT menjadi instrumen kritis untuk mengevaluasi kapasitas laboratorium secara menyeluruh, termasuk organisasi, infrastruktur, keamanan, serta aspek manajemen biorisiko,” jelasnya.
Kemampuan Laboratorium Dinyatakan Melalui Aspek Lengkap
Menurut Risma, LMT dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan laboratorium, serta menjadi dasar untuk perencanaan pengembangan yang berkelanjutan. “Dengan menerapkan metode ini, kita bisa memastikan laboratorium tidak hanya mampu menjalankan tugas karantina secara efektif, tetapi juga memenuhi standar internasional,” tambahnya.
Para pelatih yang hadir dalam program ini antara lain Project Manager Regional Emerging Disease Support (REDS) International Program ACDP, Lee Trinidad, serta ahli uji profisiensi ACDP, James Hollier. Kedua pembicara ini memberikan pelatihan intensif kepada personel laboratorium, termasuk panduan praktis mengenai penggunaan LMT dalam mengukur kapasitas teknis.
Risma menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan memperkuat kemampuan personel dalam mengelola berbagai aspek laboratorium, seperti keamanan, pengelolaan bahan kimia, peralatan, sumber daya manusia, dan manajemen limbah. “Selain itu, LMT juga membantu mengoptimalkan penjaminan mutu serta keselamatan kerja,” katanya.
Dalam rangkaian kegiatan, tim ACDP Australia melakukan kunjungan langsung ke Laboratorium Karantina Uji Standar untuk melakukan penilaian terhadap fasilitas yang dimiliki. Penilaian ini dilakukan dengan pendekatan semi-kuantitatif, yang memungkinkan identifikasi area yang perlu ditingkatkan. “Hasil dari penilaian ini akan menjadi acuan untuk menentukan prioritas dalam pengembangan laboratorium di masa depan,” lanjut Risma.
Penyelenggaraan Uji Profisiensi dan Penguatan Kapasitas
Menurut Risma, pelatihan yang diadakan membantu memperbaiki kapasitas laboratorium secara menyeluruh, mencakup infrastruktur, peralatan, keamanan, sumber daya manusia, pelatihan, dan sistem penjaminan mutu. “Dengan melalui pelatihan ini, kita dapat menjamin bahwa laboratorium karantina mampu memberikan hasil yang akurat dan andal dalam pengawasan penyakit hewan,” jelasnya.
Dalam rangka mewujudkan sistem karantina yang lebih baik, Barantin bersama ACDP Australia juga berupaya meningkatkan kompetensi personel melalui uji profisiensi berulang. “Uji ini akan membantu memastikan bahwa tim laboratorium mampu memberikan hasil yang konsisten dan memenuhi standar internasional,” kata Risma.
Kerja sama antara Barantin dan ACDP Australia diharapkan bisa menjadi dasar dalam menguatkan sistem karantina di Indonesia. “Kita perlu memastikan bahwa semua laboratorium memiliki kemampuan yang sama untuk menjalankan tugas pengawasan penyakit secara efektif,” tegas Risma.
Risma juga menyebutkan bahwa hasil dari pelatihan ini akan diterapkan ke laboratorium karantina ikan, karantina tumbuhan, serta laboratorium keamanan dan mutu pangan maupun pakan. “Ini adalah langkah strategis untuk menjaga konsistensi dalam penanganan penyakit hewan dan menjamin kualitas hasil uji,” jelasnya.
Kerja sama ini menandai upaya Barantin dalam meningkatkan kualitas laboratorium karantina sebagai bagian dari penguatan kapasitas nasional. “Dengan dukungan ACDP, kita bisa memastikan bahwa laboratorium karantina di Indonesia memiliki standar yang kompetitif,” tambah Risma.
Kemitraan antara kedua pihak diharapkan dapat meningkatkan kapasitas teknis laboratorium dalam bidang penyakit hewan, terutama dalam menghadapi tantangan baru yang muncul. “Kita juga ingin memastikan bahwa semua laboratorium memiliki kemampuan untuk menilai diri sendiri secara mandiri, sehingga dapat berpartisipasi dalam program internasional,” tutup Risma.