Special Plan: Apresiasi Presiden, UIN Jakarta ajak bangun sinergi Tri Dharma
Apresiasi Presiden, UIN Jakarta Ajak Bangun Sinergi Tri Dharma
Special Plan – Jakarta – Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Asep Saepudin Jahar, menyoroti pentingnya kolaborasi antara elemen akademis, pemerintah pusat, dan daerah dalam mendorong kebijakan afirmasi pendidikan. Ia menekankan bahwa keberhasilan sinergi Tri Dharma—yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat—membutuhkan koordinasi yang tepat serta dukungan dari berbagai pihak. “Langkah-langkah afirmatif pemerintah harus diimbangi dengan analisis objektif dan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menciptakan keadilan dalam pendidikan,” ujar Asep dalam wawancara di Jakarta, Selasa.
Langkah Afirmatif dan Tantangan Baru
Dalam kesempatan tersebut, Asep menyoroti sejumlah kebijakan yang dicanangkan Presiden, termasuk ekspansi program Sekolah Rakyat Terintegrasi Asrama bagi keluarga miskin ekstrem, serta debirokratisasi dana perbaikan fisik sekolah. Ia menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan keberanian yang signifikan, tetapi perlu dipertimbangkan dengan matang agar tidak menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan. “Keberadaan sekolah berbasis asrama bertindak sebagai pengangkat sosial yang bisa memutus siklus kemiskinan, tetapi pemerintah harus tetap waspada terhadap risiko segregasi sosial atau stigma yang mungkin muncul,” tambahnya.
“Keberadaan sekolah berbasis asrama bertindak sebagai social elevator yang memutus mata rantai kemiskinan (intergenerational poverty trap) secara langsung, namun demikian Pemerintah harus waspada agar program masif ini tidak melahirkan efek samping segregasi sosial atau stigma baru sebagai ‘sekolah kaum marjinal’,” kata Asep.
Asep juga menyoroti kebutuhan peningkatan mutu luaran dari Sekolah Rakyat. Ia menekankan bahwa kurikulum harus dirancang secara komprehensif, tidak hanya menekankan aspek keterampilan mental tetapi juga kesiapan industri melalui pendekatan teknologi dan sains. “Para lulusan sekolah ini harus memiliki daya saing yang setara dalam pasar kerja global serta seleksi masuk PTN, sehingga perlu distandardisasi dengan kurikulum yang lebih modern,” jelasnya.
Tiga Aspek Sinergi Tri Dharma
Untuk mencapai sinergi yang efektif, Asep menawarkan tiga langkah utama. Pertama, asistensi dalam akuntabilitas keuangan. Kampus diharapkan memberikan bantuan kepada komite sekolah, terutama di daerah terpencil, melalui penyusunan sistem aplikasi keuangan sederhana dan pelatihan transparansi pelaporan keuangan. “Ini penting untuk mengurangi potensi penyelewengan anggaran dan memastikan penggunaan dana swakelola berjalan efisien,” ujar Asep.
Kedua, kemitraan kurikulum. Rektor menekankan bahwa perguruan tinggi perlu terlibat aktif dalam pengembangan kurikulum Sekolah Rakyat agar memadukan pendidikan dasar dengan kebutuhan industri. “Kurikulum yang relevan dengan teknologi digital dan sains aplikatif bisa memperkuat kompetensi lulusan, sehingga mereka siap menghadapi tantangan pasar kerja yang semakin kompetitif,” tambahnya.
“Langkah afirmatif pemerintah merupakan intervensi berani yang memerlukan pembacaan objektif, refleksi mendalam, serta solusi berbasis akuntabilitas dari dunia akademi,” ujarnya.
Ketiga, riset evaluasi dampak berkelanjutan. Asep mengusulkan penelitian longitudinal yang dilakukan secara berkala untuk menilai dampak sosial-ekonomi dari lulusan Sekolah Rakyat. “Dengan data empiris dari riset ini, kebijakan afirmasi pendidikan dapat menjadi landasan ilmiah untuk rencana jangka panjang yang lebih terarah,” papar rektor tersebut.
Debirokratisasi dan Risiko Desentralisasi
Dari perspektif manajemen publik, Asep menilai pengumuman Presiden tentang peningkatan target perbaikan fisik sekolah dari 17.000 menjadi 70.000 dalam satu tahun adalah langkah debirokratisasi yang radikal. Model ini menurutnya akan mengurangi pungutan liar serta mempercepat proses pengambilan keputusan di tingkat satuan pendidikan. Namun, ia mengingatkan bahwa adopsi wewenang anggaran secara masif—yang ditargetkan mencapai 300.000 sekolah dalam lima tahun—membawa risiko kerawanan baru.
“Kepala sekolah dan komite di daerah terpencil sering kali mengalami keterbatasan dalam pemahaman akuntansi formal dan prosedur pengadaan barang. Tanpa pendampingan akademis yang memadai, desentralisasi bisa memindahkan lokus korupsi dari birokrasi tingkat atas ke tingkat bawah,” jelas Asep. Ia menekankan perlunya penguatan sistem pengawasan serta pelatihan teknis agar desentralisasi tidak berujung pada kebocoran anggaran.
Lebih lanjut, Asep menegaskan bahwa Sinergi Tri Dharma Terintegrasi tidak hanya tentang kerja sama formal, tetapi juga komitmen untuk melibatkan berbagai pihak secara aktif. Ia menyampaikan bahwa tugas institusi pendidikan tinggi adalah menjadi mitra strategis pemerintah dalam menciptakan transformasi pendidikan yang berkelanjutan. “Momentum ini bukan hanya objek studi, tetapi juga pemanggilan untuk aksi nyata yang bermakna,” ujarnya.
Implementasi dan Harapan Masa Depan
Menurut Asep, sinergi Tri Dharma yang terpadu bisa mendorong efisiensi dalam penggunaan sumber daya pendidikan. Ia berharap tindakan nyata dari perguruan tinggi bisa menjawab tantangan dalam mewujudkan keadilan pendidikan. “Dengan pendekatan terpadu antara akademisi, pemerintah pusat, dan daerah, kebijakan afirmasi pendidikan bisa mencapai hasil maksimal,” tegasnya.
Ia juga menyoroti peran pendidikan dalam memperkuat sistem sosial. “Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar, tetapi juga wadah untuk mengubah struktur kesetaraan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” kata Asep. Dengan sinergi yang baik, ia optimis bahwa program ini bisa memberikan dampak yang signifikan dalam jangka panjang.
Sebagai tambahan, Asep menyarankan pemerintah melibatkan akademisi dalam penyusunan kebijakan pendidikan. “Keterlibatan aktif dunia akademi akan memastikan bahwa kebijakan tidak hanya berbasis keinginan politik, tetapi juga bukti empiris yang dapat dipertanggungjawabkan,” imbuhnya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan bergantung pada kolaborasi yang terstruktur dan komitmen semua pihak untuk melaksanakannya secara konsisten.
Konsep Sinergi dan Tantangan Perspektif Akademis
Asep menjelaskan bahwa Sinergi Tri Dharma Terintegrasi berarti harmonisasi antara tugas-tugas pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Ia menilai bahwa keselarasan ini bisa memperkuat kinerja institusi pendidikan dan menjawab kebutuhan masyarakat secara holistik. “Kita perlu menghindari fragmentasi antar fungsi perguruan tinggi, agar setiap upaya berdampak maksimal,” ujarnya.
Di sisi lain, Asep mengakui tantangan dalam implementasi program ini. “Sekolah di daerah miskin ekstrem mungkin memerlukan bantuan tambahan dalam penerapan kurikulum yang modern. Namun, keberhasilan jangka panjang bergantung pada keseriusan semua pihak dalam menyesuaikan sumber