Key Strategy: Syngenta Indonesia perkuat Karawang sebagai lumbung padi nasional

Syngenta Indonesia Dorong Karawang sebagai Pusat Produksi Padi Nasional

Key Strategy – Jakarta – PT Syngenta Indonesia terus berupaya memperkuat posisi Kabupaten Karawang, Jawa Barat, sebagai salah satu sentra utama produksi padi nasional. Perusahaan ini berkomitmen untuk memperkenalkan inovasi baru dalam bidang perlindungan tanaman guna menjaga produktivitas pertanian di wilayah tersebut. Dalam wawancara di Jakarta, Jumat, Eryanto, Presiden Direktur Syngenta Indonesia, menekankan bahwa Karawang menjadi simbol penting dalam menjaga ketersediaan pangan di Indonesia.

Inovasi Miravis Duo Sebagai Solusi Pangan Berkelanjutan

Kehadiran Miravis Duo, sebuah fungisida terbaru untuk budidaya padi, dianggap sebagai langkah strategis untuk mengatasi tantangan yang dihadapi petani. Produk ini, yang berbasis teknologi Adepidyn, diluncurkan di Learning Development Center (LDC) Karawang sebagai upaya meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga kualitas tanaman dalam kondisi iklim ekstrem dan perubahan penggunaan lahan.

“Perusahaan berkomitmen untuk menghadirkan inovasi yang mengatasi kebutuhan petani di lapangan, termasuk meningkatkan hasil panen, mempercepat adopsi teknologi, serta memperkuat kerja sama untuk mewujudkan pertanian yang berkelanjutan,” ujar Eryanto dalam pernyataannya.

Karawang, sebagai salah satu lumbung padi nasional, memiliki potensi besar dalam memastikan pasokan beras yang stabil. Menurut data terkini, kabupaten ini mencatatkan produksi gabah kering giling (GKG) sebesar 1.194.711 ton pada 2025, menjadikannya produsen kedua terbesar di Jawa Barat setelah Indramayu. Meski rata-rata hasil panen mencapai 5,9 hingga 6 ton per hektare, beberapa kecamatan dengan sistem irigasi teknis dan varietas unggul berhasil menghasilkan padi hingga 7–8 ton per hektare.

Tantangan yang Membayangi Produksi Padi di Karawang

Eryanto menjelaskan bahwa keberlanjutan produksi padi di Karawang masih menghadapi tantangan serius. Faktor-faktor seperti alih fungsi lahan, perubahan iklim yang tidak terduga, serta serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) menjadi hambatan utama bagi petani. “Kondisi cuaca yang tidak menentu sering kali mengurangi ketahanan tanaman, sehingga diperlukan solusi yang efektif dan tahan lama,” tambahnya.

Menurut Eryanto, peluncuran Miravis Duo memberikan perlindungan konsisten hingga 14 hari setelah aplikasi, bahkan di bawah kondisi cuaca tidak menentu. Ini membantu mencegah penyebaran penyakit yang mengancam tanaman padi, sekaligus menjaga kualitas gabah yang dihasilkan. Fungisida ini juga dianggap mampu menghasilkan daun bendera yang lebih hijau dan bersih, yang berdampak langsung pada peningkatan hasil panen.

Kabupaten Karawang memiliki luas lahan pertanian sekitar 99.000 hektare, dengan 86.000 hektare di antaranya tergolong dalam Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Karawang, Rohman, menyambut positif inisiatif Syngenta ini. Ia menilai bahwa pengembangan teknologi perlindungan tanaman selaras dengan upaya pemerintah daerah dalam menjaga sawah, mendukung produktivitas petani, dan memastikan ketahanan pangan jangka panjang.

“Inovasi ini menjadi bagian dari strategi kabupaten untuk menghadapi tantangan di masa depan, terutama dalam menjaga keberlanjutan pertanian,” kata Rohman dalam keterangannya.

Dalam menghadapi perubahan iklim, Rohman menambahkan bahwa pemerintah Karawang terus berupaya meningkatkan kemampuan petani melalui pendampingan teknis dan pengadaan benih unggul. Ia juga menyoroti peran LP2B sebagai landasan utama untuk memastikan hasil panen tetap stabil. “Dengan luas lahan yang signifikan, Karawang memiliki kemampuan untuk menjadi tulang punggung produksi pangan nasional jika dikelola secara optimal,” ujarnya.

Syngenta Indonesia berharap Miravis Duo mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan pestisida, sehingga mengurangi dampak lingkungan sekaligus menurunkan biaya produksi petani. Produk ini juga didesain untuk mengurangi risiko kerusakan tanaman akibat OPT, yang menjadi ancaman utama bagi panen. “Kami percaya bahwa teknologi ini akan menjadi alat penting bagi petani dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks,” lanjut Eryanto.

Kemitraan untuk Meningkatkan Kualitas Produksi

Sebagai bagian dari upaya penguatan Karawang, Syngenta Indonesia melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah dan petani lokal. Kemitraan ini bertujuan untuk memastikan distribusi teknologi secara merata, serta memfasilitasi pelatihan dan pendampingan langsung kepada petani. Dengan adanya fungisida Miravis Duo, harapan muncul bahwa kualitas panen akan meningkat, sekaligus memperkuat daya saing produk padi Karawang di pasar nasional dan internasional.

Rohman menegaskan bahwa inisiatif Syngenta tidak hanya memberikan manfaat bagi petani, tetapi juga menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pertanian. “Kemitraan antara perusahaan dan pemerintah daerah menjadi kunci untuk mewujudkan pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan,” katanya.

Dengan latar belakang sebagai lumbung padi, Karawang memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga pasokan pangan nasional. Syngenta Indonesia berupaya memastikan bahwa daerah ini tetap menjadi pusat produksi utama melalui pendekatan inovatif. Dukungan teknologi seperti Miravis Duo diharapkan bisa menjadi solusi untuk mengatasi kekurangan yang ada, seperti ketidakpastian cuaca dan keterbatasan sumber daya.

Peluncuran Miravis Duo juga menjadi langkah konkret dalam mengembangkan pertanian berbasis teknologi. Eryanto menyoroti bahwa produk ini dirancang untuk meningkatkan keberlanjutan produksi, sehingga mampu bertahan dalam kondisi ekstrem. “Dengan penggunaan Miravis Duo, petani tidak hanya memperoleh hasil panen yang optimal, tetapi juga mengurangi risiko kerugian akibat penyakit yang menyerang tanaman,” jelasnya.

Dalam jangka panjang, Syngenta Indonesia berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam memperkuat Karawang sebagai sentra pangan nasional. Perusahaan ini juga berharap inisiatif tersebut bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang memiliki potensi serupa. “Kami berupaya memberikan solusi yang tidak hanya efektif, tetapi juga ramah lingkungan dan mendorong pemberdayaan petani,” tukas Eryanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *