Pakar: Kesepakatan damai Iran-AS beri sentimen positif pasar energi

Pakar: Kesepakatan Damai Iran-AS Beri Sentimen Positif Pasar Energi

Pakar – Jakarta, Kamis – Perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat dianggap memiliki potensi besar untuk memengaruhi dinamika pasar energi global. Profesor ekonomi energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, mengungkapkan bahwa kesepakatan tersebut bisa menjadi faktor pendorong sentimen positif bagi harga minyak mentah dunia, yang selama ini terus mengalami tekanan akibat ketegangan geopolitik. Menurut Yayan, penurunan harga minyak yang terjadi secara bertahap akan berdampak pada berbagai segmen pasar, termasuk bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri.

Analisis Yayan Satyaki

Yayan menjelaskan bahwa keberhasilan pencapaian perdamaian antara Iran dan AS akan berdampak signifikan pada pasokan minyak global. “Pasti terjadi penurunan harga, dan bisa berdampak ke BBM Pertamax, tetapi untuk mencapai harga Pertamax sampai Rp12.300 lagi tidak akan secepat itu,” kata dia dalam keterangan yang diterima di Jakarta. Ia menekankan bahwa meskipun terdapat kecenderungan harga minyak melambat, tren tersebut mungkin memakan waktu beberapa bulan sebelum mencapai titik stabil.

“Kita lihat harga Brent semakin turun, dan kemungkinannya akan terus diturunkan hingga awal Juli. Setelah itu berpotensi naik lagi pada awal Agustus hingga September ketika musim panas berakhir,” ujarnya.

Potensi Penyesuaian Harga Minyak Dunia

Analisis Yayan menyebutkan bahwa penurunan harga minyak global tidak akan terjadi secara instan, melainkan secara bertahap. Dalam skenario optimis, harga minyak bisa koreksi 1-3 persen per hari selama beberapa bulan, yang mungkin mengakibatkan penurunan signifikan dari tingkat saat ini. Namun, ia mengingatkan bahwa pergerakan harga energi masih bergantung pada keberhasilan implementasi perjanjian dan kondisi geopolitik di luar konflik Iran-AS.

Kendati demikian, Yayan menyatakan bahwa pasar energi belum akan mencapai keseimbangan baru dalam waktu dekat. Dinamika ini terjadi karena ada beberapa faktor yang berpotensi memengaruhi pasokan dan permintaan, seperti ketidakstabilan produksi minyak dari negara-negara lain atau perubahan kebijakan dari organisasi seperti OPEC.

Dinamika Harga Brent dan Proyeksi Jangka Menengah

Menurut Yayan, pergerakan harga minyak mentah jenis Brent menjadi indikator penting dalam memprediksi tren pasar energi global. Ia memperkirakan bahwa harga Brent akan terus menurun hingga awal Juli 2026, lalu mengalami peningkatan pada bulan-bulan berikutnya. “Dengan asumsi konflik berakhir dan pasokan energi global kembali stabil, harga minyak dunia dapat bergerak pada rentang 80-90 dolar AS per barel hingga akhir tahun,” lanjutnya.

“Kita perlu menunggu pergerakan harga Brent sebagai referensi utama, karena jenis minyak ini sering kali memimpin perubahan harga di seluruh dunia,” imbuh Yayan.

Proyeksi tersebut berdasarkan data dari Energy Information Administration (EIA), yang menyatakan bahwa pasar energi masih berada dalam fase transisi menuju keseimbangan harga baru. Yayan menambahkan bahwa peningkatan produksi minyak AS, yang diperkirakan mencapai 14 juta barel per hari, menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat sentimen penurunan harga global.

Kesepakatan Damai dan Dampak Ekonomi

Yayan mengatakan bahwa kesepakatan damai antara Iran dan AS akan mengurangi ketegangan yang selama ini memengaruhi pasokan minyak. Kebijakan yang lebih stabil dari kedua belah pihak diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan minyak mentah dan mengurangi permintaan yang berlebihan. Dengan demikian, pasokan global akan menjadi lebih seimbang, yang berdampak positif pada harga pasar.

Namun, ia juga menyebutkan bahwa penyesuaian harga Pertamax hingga mencapai Rp12.300 per liter mungkin membutuhkan waktu lebih lama. Meski ada kemungkinan penurunan, Yayan memperkirakan bahwa harga BBM nonsubsidi di dalam negeri akan mengalami perubahan perlahan, terutama karena faktor-faktor lain seperti permintaan domestik dan kebijakan subsidi yang berlaku.

Perspektif Pasar Energi Global

Pasca-konflik, Yayan memprediksi bahwa harga minyak dunia akan berada dalam kisaran 80-90 dolar AS per barel hingga akhir tahun 2026. Setelah itu, harga berpotensi turun lebih lanjut ke 75-85 dolar AS per barel. Menurutnya, kestabilan pasokan dari Iran, yang sebelumnya terganggu oleh sanksi AS, akan mempercepat proses penyesuaian harga ini.

Yayan juga menyoroti bahwa pasar masih memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan politik dan ekonomi terkait perjanjian. Ia mengingatkan bahwa meskipun ada kecenderungan penurunan, situasi geopolitik di wilayah lain seperti Timur Tengah atau Eropa tetap bisa memengaruhi dinamika pasar energi. Oleh karena itu, penyesuaian harga minyak tidak bisa diprediksi secara pasti tanpa mempertimbangkan faktor-faktor eksternal tersebut.

Dengan adanya kesepakatan damai, Yayan optimis bahwa pasar energi akan mengalami perbaikan, tetapi penyesuaian harga yang signifikan membutuhkan waktu. Proses ini tidak hanya bergantung pada perjanjian Iran-AS, tetapi juga pada kinerja ekonomi global, kebijakan pemerintah, dan kondisi cuaca yang memengaruhi produksi minyak. Dalam jangka pendek, konflik yang berakhir menjadi kabar baik, namun pasar tetap perlu memantau perubahan-perubahan di berbagai segmen untuk menghindari volatilitas yang tidak terduga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *