Kemenkeu salurkan bantuan Becak Kayuh Listrik Wisata di Yogyakarta
Kemenkeu Salurkan Bantuan Becak Kayuh Listrik Wisata di Yogyakarta
Kemenkeu salurkan bantuan Becak Kayuh Listrik – Kota Yogyakarta kembali mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat melalui program inovatif yang menggabungkan transportasi tradisional dengan teknologi modern. Kementerian Keuangan, yang bekerja sama dengan Pusat Investasi Pemerintah (PIP), resmi menyalurkan bantuan berupa ekosistem Becak Kayuh Listrik Wisata atau yang lebih dikenal dengan singkatan Bekalista. Program ini dirancang khusus untuk meningkatkan kenyamanan perjalanan wisata di kota budaya tersebut, sekaligus menjaga kelestarian identitas lokal yang telah ada sejak lama.
Peluncuran program ini dilakukan secara simbolis di kawasan Alun Alun Kidul, Yogyakarta, pada hari Kamis. Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan, Astera Primanto Bhakti, menyampaikan bahwa pengembangan Bekalista bertujuan untuk menciptakan sistem transportasi wisata yang lebih aman dan nyaman bagi wisatawan. Lebih dari itu, inovasi ini juga memastikan bahwa nilai-nilai budaya Yogyakarta tidak hilang seiring dengan masuknya teknologi baru ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Landasan Regulasi dan Inovasi Transportasi
Menurut penjelasan Astera, becak dan andong telah resmi ditetapkan sebagai kendaraan tradisional berdasarkan dua regulasi penting. Pertama adalah Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 Tahun 2016. Kedua, Peraturan Gubernur DIY Nomor 39 Tahun 2024. Melalui kedua peraturan tersebut, ruang bagi inovasi becak kayuh yang dibantu oleh motor listrik telah terbuka lebar. Hal ini memungkinkan pengembangan transportasi yang ramah lingkungan tanpa meninggalkan karakter khas Yogyakarta.
“Jadi ini becaknya ibu-ibu friendly, jadi kalau naik itu tidak menyulitkan dan saya rasa ini akan sangat membantu kita semua dalam memanfaatkan becak tersebut,” ujarnya dengan antusias.
Ungkapan tersebut mencerminkan salah satu keunggulan utama dari Bekalista. Desain yang ergonomis dan sistem pengoperasian yang mudah menjadikan transportasi ini cocok untuk berbagai kalangan, termasuk para ibu rumah tangga dan wisatawan yang mungkin belum terbiasa dengan becak konvensional.
Pelibatan Tenaga Lokal dan Infrastruktur Pendukung
Salah satu aspek yang menjadi kebanggaan dalam program ini adalah penggunaan tenaga kerja lokal secara penuh. Seluruh proses pembangunan ekosistem Bekalista melibatkan seratus persen tenaga dari Yogyakarta. Mulai dari para profesional di bidang teknik fabrikasi, perakitan, hingga kelistrikan kendaraan listrik. Bahkan, sekolah kejuruan juga dilibatkan untuk memperkuat konsep teaching factory, sehingga siswa-siswa dapat belajar langsung dari praktik nyata.
Dalam penyerahan simbolis hari itu, sebanyak lima belas perwakilan dari delapan puluh pengayuh becak di Kota Yogyakarta dan wilayah sekitarnya menerima bantuan tersebut. Untuk memastikan operasional berjalan lancar, sistem ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung. Terdapat satu unit bengkel bergerak atau mobile workshop yang siap melayani perbaikan di lapangan. Selain itu, tersedia dua belas stasiun pengisian daya, delapan unit baterai cadangan, serta bengkel induk yang berlokasi di SMK Negeri 3 Yogyakarta.
Tiga Pilar Keberlanjutan Program
Astera menekankan bahwa keberhasilan program Bekalista tidak hanya bergantung pada ketersediaan kendaraan, tetapi juga pada tiga pilar utama yang harus ditegakkan. Pilar pertama berkaitan dengan penguatan tata kelola komunitas melalui koperasi mobilitas nasional Indonesia. Melalui koperasi ini, para pengayuh dapat mengelola aset secara kolektif dan lebih terorganisir.
Pilar kedua adalah kemandirian pemeliharaan aset. Hal ini dicapai melalui peningkatan kapasitas mekanik lokal serta fasilitasi bengkel bergerak yang dapat menjangkau berbagai lokasi. Dengan demikian, kerusakan pada kendaraan dapat ditangani dengan cepat tanpa harus menunggu bantuan dari luar kota.
Pilar ketiga adalah integrasi teknologi informasi. Program ini memanfaatkan transaksi digital dan platform Jogjakita untuk memperluas pemasaran serta meningkatkan akses layanan bagi wisatawan. Integrasi ini memungkinkan pemesanan yang lebih mudah dan transparan, sehingga pengalaman wisata menjadi lebih menyenangkan.
“Bekalista diharapkan meningkatkan produktivitas dan pendapatan para pengayuh, mengurangi beban listrik terutama bagi pengayuh berusia lanjut, serta memperkuat pariwisata hijau atau ekoturism melalui moda rendah emisi dan minim polusi suara,” tambahnya.
Dengan demikian, program Bekalista tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi para pengayuh, tetapi juga berkontribusi pada pariwisata hijau. Yogyakarta dapat memperkaya pengalaman wisata sekaligus mendorong wisatawan untuk berbelanja produk dan jasa lokal. Melalui pendekatan holistik ini, kota budaya terus bertransformasi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan inklusif.