Latest Program: Menkeu Purbaya yakin IHSG tetap mampu tembus 28.000 pada 2030
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Yakin IHSG Tetap Bisa Tembus 28.000 Pada 2030
Di Jakarta, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimis bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap mampu mencapai level 28.000 pada 2030, meski menghadapi fluktuasi signifikan di 2026. Dalam acara Peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana serta Pembukaan Pekan Reksa Dana Tahun 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, ia menegaskan bahwa pertumbuhan IHSG akan didorong oleh ekspansi perekonomian nasional.
Kebijakan Fiskal dan Upaya Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi
Purbaya menjelaskan bahwa ekspansi perekonomian akan terus berlangsung hingga 2029–2030, yang menjadi dasar keyakinannya tentang potensi IHSG mencapai 28.000. “Saat ini, IHSG berada di level 7.000. Dengan ekspansi yang berlangsung hingga 2029–2030, saya yakin indeks tersebut bisa mencapai angka 28.000,” ujarnya. Ia menekankan bahwa fondasi perekonomian nasional adalah faktor penentu dalam menilai kinerja IHSG, sehingga terus mendorong upaya-upaya yang dilakukan otoritas fiskal untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
“Ekspansi perekonomian nasional akan berlangsung hingga 2029–2030. Itu saya bilang bisa lah (IHSG) 28.000,” kata Purbaya.
Menurut Purbaya, keberhasilan investasi di pasar modal tidak hanya bergantung pada kondisi ekonomi makro, tetapi juga pada kemampuan masyarakat memahami dinamika pasar. Ia menyoroti bahwa partisipasi masyarakat, terutama generasi muda, menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pemain pasar modal, termasuk kalangan Gen Z, dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan likuiditas dan keterlibatan investor.
PINTAR Reksa Dana: Jawaban atas Risiko Investasi
Program PINTAR Reksa Dana, yang dicanangkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dianggap sebagai upaya strategis untuk mengurangi risiko dalam investasi. “Berinvestasi selalu ada risikonya. High risk, high gain. No risk, no gain. Low risk, low gain,” tambah Purbaya. Ia menjelaskan bahwa Program PINTAR bertujuan mengedukasi investor muda agar bisa memahami cara kerja pasar saham sebelum memulai investasi.
“Bagi investor muda untuk berhasil berinvestasi, bukan otomatis kalau Anda masuk ke pasar saham langsung jadi jago. Anda pelajari dulu pengetahuannya, baru nanti bisa untung lebih tinggi dari profesional yang di pasar modal, kalau Anda memang jago. Tapi kalau nggak, ikuti saja dulu sambil belajar,” katanya.
Menurut Purbaya, program ini juga sejalan dengan delapan rencana aksi reformasi integritas pasar modal Indonesia. Dalam rencana tersebut, ditekankan bahwa penguatan integritas pasar tidak hanya tergantung pada kualitas tata kelola, tetapi juga pada perluasan partisipasi masyarakat sebagai investor. “Program PINTAR adalah jawaban atas risiko yang ada pada reksa dana tradisional,” katanya menambahkan.
Gen Z dan Peran Mereka dalam Pasar Modal
Saat ini, generasi muda, terutama Gen Z, semakin aktif dalam berinvestasi di pasar modal. Purbaya mengungkapkan bahwa porsi Gen Z dalam sektor ini mencapai 57 persen, yang menunjukkan adanya pergeseran pola keuangan generasi muda. Namun, ia juga memperingatkan bahwa partisipasi ini harus disertai dengan pengetahuan yang cukup agar tidak terjebak dalam risiko tinggi.
“Gen Z memiliki potensi besar dalam menggerakkan pasar modal, tetapi mereka perlu belajar bagaimana mengelola risiko,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya edukasi investasi untuk memastikan keberlanjutan partisipasi masyarakat, terutama dalam konteks pasar yang semakin dinamis. Dengan memahami prinsip dasar investasi, generasi muda diharapkan bisa menjadi bagian dari kekuatan ekonomi nasional di masa depan.
Keterlibatan Pemangku Kepentingan dalam Membentuk Pasar yang Lebih Baik
Purbaya berharap Program PINTAR Reksa Dana dapat menjadi wadah untuk memperkaya keberagaman produk investasi serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal. Selain itu, program ini dianggap sebagai langkah konkret dalam menghadapi tantangan pasar yang berubah cepat. “Dengan pendalaman pasar yang lebih baik, keberhasilan investasi bisa lebih optimal,” ujarnya.
PINTAR Reksa Dana juga diharapkan mampu memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam proses investasi. Dalam konteks ini, OJK berperan sebagai pengawal yang memastikan keberlanjutan dan kepercayaan publik terhadap instrumen keuangan. “Program ini adalah bagian dari upaya menyeluruh untuk menjadikan pasar modal lebih inklusif dan berkelanjutan,” tegasnya.
Kesimpulan: Kekuatan Ekonomi Nasional dan Target IHSG
Purbaya menegaskan bahwa capaian IHSG 28.000 pada 2030 tidak terlepas dari kemajuan sektor-sektor strategis seperti energi, pertanian, dan teknologi. Ia meyakini bahwa perluasan partisipasi investor, khususnya generasi muda, akan berkontribusi signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang stabil. “Dengan melibatkan lebih banyak orang, pasar modal bisa menjadi alat efektif untuk mencapai keberhasilan finansial bersama,” pungkasnya.
Kebijakan fiskal dan kebijakan moneter yang konsisten juga menjadi fondasi utama dalam mewujudkan target tersebut. Purbaya menggarisbawahi bahwa kinerja IHSG tidak hanya tergantung pada faktor eksternal, tetapi juga pada kebijakan internal yang berkelanjutan. “Kita harus terus berinovasi dan mengoptimalkan potensi pasar modal sebagai sarana peningkatan kualitas hidup masyarakat,” katanya.
Dengan kombinasi antara kebijakan pemerintah, edukasi masyarakat, dan partisipasi investor, Purbaya yakin pasar modal Indonesia akan terus berkembang dan mampu mencapai target IHSG 28.000 pada 2030. Ia menegaskan bahwa proses ini membutuhkan kolaborasi antarlembaga, serta keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. “Pasar modal bukan hanya untuk investor professional, tetapi juga untuk semua kalangan yang ingin memperoleh keuntungan secara bertahap,” pungkasnya.